Lompat ke isi

Louise Glück

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Louise Elisabeth Glück (22 April 1943 – 13 Oktober 2023) adalah seorang penyair Amerika Serikat yang terkenal karena kesediaannya menghadapi hal-hal yang sulit dan menyakitkan, menghasilkan karya yang dicirikan oleh wawasan dan lirik yang tegas, seringkali menggunakan sosok mitos dan sejarah, serta pemeriksaan keluarga dan diri yang jujur. Setelah debutnya dengan Firstborn (1968), ia menunjukkan penguasaan suara yang lebih besar dalam karya-karya seperti The House on Marshland (1975), dan memenangkan Penghargaan Pulitzer untuk The Wild Iris (1992) serta Penghargaan Buku Nasional untuk The Triumph of Achilles (1985) dan Faithful and Virtuous Night (2014). Pada tahun 2020, ia dianugerahi Hadiah Nobel Sastra atas suara puitisnya yang tak salah lagi yang dengan keindahan yang keras membuat keberadaan individu menjadi universal.[1]

  • We’re all born mortal. We have to contend with the idea of mortality. We all, at some point, love, with the risks involved, the vulnerabilities involved, the disappointments and great thrills of passion. This is common human experience, so what you use is the self as a laboratory, in which to practice, master, what seem to you central human dilemmas.[2]
  • Kita semua dilahirkan sebagai makhluk fana. Kita harus bergumul dengan gagasan tentang kefanaan. Pada satu titik kita semua mencintai, dengan segala risiko yang ada, kerentanan yang muncul, kekecewaan, dan sensasi gairah yang hebat. Ini adalah pengalaman manusia yang umum, jadi apa yang anda gunakan sendiri sebagai laboratorium, tempat untuk mempraktikkan, menguasai, apa yang menurut anda nampak adalah inti dilema manusia.[2]
  • I think the poem is a communication between a mouth and an ear - not an actual mouth and an actual ear, but a mind that sends a message and a mind that receives it. For me, the aural experience of a poem is transmitted visually. [3]
  • Menurut saya, puisi adalah komunikasi antara mulut dan telinga - bukan mulut yang sebenarnya dan telinga yang sebenarnya, melainkan pikiran yang mengirimkan pesan dan pikiran yang menerimanya. Bagi saya, pengalaman pendengaran dari sebuah puisi ditransmisikan secara visual.[3]
  • But I’m happiest as a writer when I feel that there’s no danger of that word cluster. But who knows? [4]
  • Saya mengalami puncak kebahagiaan sebagai penulis ketika saya merasa bahwa tidak ada bahaya dari kumpulan kata. Tapi siapa tahu? [4]
  • There’s every kind of reader in the world - there’s the subtle reader, the opaque passionate reader, there’s the informed reader, there’s the uninformed reader with a feel for the form, there’s the uninformed reader with no feeling of the form - do you explain the form on the page to the reader? And I don’t know how you conceptualize the reader except that if you show your work to ten different people and they all have problems, there’s a good chance there will be a problem even if not one of them may actually have put into words what the problem is. But possibly, possibly that’s not the case either.  [4]
  • Ada berbagai macam pembaca di dunia - ada pembaca ringan, pembaca yang bersemangat tetapi sulit diterka, ada pembaca yang berpengetahuan, ada pembaca yang tidak berpengetahuan tetapi memiliki kepekaan terhadap bentuk, ada pembaca yang tidak berpengetahuan dan tidak memiliki kepekaan terhadap bentuk - apakah anda menjelaskan berbagai bentuk tersebut di halaman karyamu kepada pembaca? Dan saya tidak tahu bagaimana anda mengkonseptualisasikan pembaca, kecuali jika anda menunjukkan karyamu kepada sepuluh orang yang berbeda dan mereka semua memiliki berbagai jenis masalah, ada kemungkinan besar akan ada masalah yang bahkan tidak satu pun dari mereka benar-benar dapat mengungkapkan masalah tersebut dalam kata-kata. Namun mungkin, mungkin juga hal itu tidak selalu terjadi.[4]
  • I think prose writers work with narrative very differently. When I’m trying to put a poem or a book together, I feel like a tracker in the forest following a scent, tracking only step to step. It’s not as though I have plot elements grafted onto the walls elaborating themselves. Of course, I have no idea what I’m tracking, only the conviction that I’ll know it when I see it.[5]
  • Saya pikir penulis prosa jauh berbeda dalam bekerja menggunakan narasi. Ketika saya mencoba menyusun sebuah puisi atau buku, saya merasa seperti seorang pelacak yang menelusuri aroma di hutan, hanya menjejaki langkah demi langkah. Sepertinya saya tidak memiliki elemen-elemen plot yang dicangkokkan dalam kisah yang menguraikan dengan sendirinya. Tentu saja, saya tidak tahu apa yang saya ikuti, hanya ada keyakinan bahwa saya akan mengetahuinya ketika saya melihatnya.[5]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Britannica Editors, Author (9 Oktober 2025). "Louise Glück". www.britannica.com. Diakses tanggal 3 Desember 2025.
  2. 2,0 2,1 "In the Magnificent Region of Courage: An Interview with Louise Glück - Beltway Poetry QuarterlyBeltway Poetry Quarterly". www.beltwaypoetry.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
  3. 3,0 3,1 Poets, Academy of American. "For a Dollar: Louise Glück in Conversation". poets.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-03.
  4. 4,0 4,1 4,2 4,3 "Louise Gluck". Washington Square Review (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
  5. 5,0 5,1 "Internal Tapestries: A Q&A With Louise Glück". Poets & Writers (dalam bahasa Inggris). 2014-11-20. Diakses tanggal 2025-12-03.