Leila S. Chudori
Tampilan


Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Leila Salikha Chudori (lahir 12 Desember 1962 di Jakarta) adalah seorang jurnalis senior dan penulis fiksi Indonesia yang menulis tema sejarah dan politik dalam karya-karyanya. Sejak usia 11 tahun, ia sudah mulai menulis dan mempublikasikan cerpen, lalu melanjutkan pendidikannya di Kanada sebelum kembali ke Tanah Air untuk bekerja di majalah Tempo. Sebagai penulis, Leila dikenal lewat novel-novel yang kuat seperti Pulang dan Laut Bercerita, yang mengeksplorasi trauma nasional dan peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Selain fiksi, ia juga menulis skenario televisi dan aktif dalam dunia jurnalistik serta literasi.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]Novel
[sunting | sunting sumber]- "Di hari kematianku
Nyalakan apimu
Karena satu jiwa yang kandas
Tak akan menghilangkan Rindu pada keadilan."
~ Laut Bercerita, hal. 60.[2] - “Pengkhianat ada di mana-mana, bahkan di depan hidung kita, Laut. Kita tak pernah tahu dorongan setiap orang untuk berkhianat: bisa saja duit, kekuasaan, dendam, atau sekadar rasa takut dan tekanan penguasa.”
~ Ucap tokoh Bram di dalam Laut Bercerita, hal. 30.[2] - “Kita harus belajar kecewa bahwa orang yang kita percaya ternyata memegang pisau dan menusuk punggung kita. Kita tak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan."
~ Ucap tokoh Bram di dalam Laut Bercerita, hal. 30.[2] - “Aku lahir di sebuah tanah asing. Sebuah negeri bertubuh cantik dan harum bernama Prancis. Tetapi menurut Ayah darahku berasal dari seberang benua Eropa, sebuah tanah yang mengirim aroma cengkih dan kesedihan yang sia-sia. Sebuah tanah yang subur oleh begitu banyak tumbuh-tumbuhan, yang melahirkan aneka warna, bentuk, dan keimanan, tetapi malah menghantam warganya hanya karena berbeda pemikiran."
~ Ucap tokoh Lintang di dalam Pulang, hal. 139.[3] - Siang ini, kami akan memberi penghormatan terakhir pada para mahasiswa yang tertembak kemarin. Suatu peristiwa yang semoga tak dilupakan oleh generasi masa kini (hal.413).[3]
- “Jakarta tidak memiliki seikat seruni. Tetapi, aku akan mencarinya sampai ke ujung dunia, agar ibu bisa mengatupkan matanya dengan tenang.” –Mencari Seikat Seruni[4]
- "Kita tidak bisa berharap semua orang akan selalu loyal pada perjuangan dan persahabatan.”[5]
Cerpen
[sunting | sunting sumber]- "Wahai matahari yang melahirkan pagi
Surya yang mengungkap seorang panji
Jangan segera datang
Biarlah malam tetap berjelaga
Kita menjadi sosok tanpa nama."
~ Kirana, 9 dari Nadira, hal. 176-177.[4] - “Tahun pertama selalu penuh dengan anak-anak yang gelisah, yang mencoba memberontak dari hidup yang sudah dipetakan orangtuanya.” ~ Ucap tokoh Bramantyo, Mencari Seikat Seruni, 9 dari Nadira, hal. 15.[4]
Wawancara dan Dialog Publik
[sunting | sunting sumber]- “Selain pangan, sandang dan papan, membaca itu kebutuhan rohani keluarga saya dari dulu. Membaca jadi bagian hidup kita.”[6]
- “Sekolah saya juga dulu bagus sekali. Kita didorong untuk menulis dan mengirim karya ke majalah-majalah yang terkenal."[6]
- “Saya menulis karena ‘ada cerita’, tidak ingin ada beban untuk membangun revolusi atau membuat dunia berubah. Bahwa kemudian nantinya ada persoalan human rights atau lainnya, itu akan inheren dengan sendirinya.”[6]
- “Jurnalisme itu luas sekali dan masih banyak yang harus digali. Dunia ini harus saya tuntaskan dulu.”[6]
- "Sejatinya, di dunia Barat, Indonesia dan negara persemakmuran banyak dikenal melalui sejarah kolonialisasiya. Orang Belanda lebih banyak tahu tentang Indonesia karena hal ini."[7]
- “Penulisnya mau bikin plot A tapi malah bertengkar dengan tokoh. Itulah sebenarnya mengapa saya mengatakan bahwa si tokoh ini yang membawa plot dan cerita, dari awal sampai akhir. Bagaimana awal, bagaimana perjuangan dia, dan bagaimana endingnya.”[8]
- “Risetnya itu sebetulnya menjadi satu dengan novel Pulang, namun ada tambahan-tambahannya.”[9]
- “Setelah saya menemukan tokoh saya, karakter saya, itu kemudian saya melakukan riset panjang. Hal itu sangat dipengaruhi oleh profesi saya sebagai wartawan. Jadi riset yang saya lakukan adalah pustaka. Banyak membaca buku-buku, Tempo banyak sekali menjadi sumber saya yang utama."[10]
- “Narasumber saya biasanya yang pernah diwawancara Tempo tapi saya wawancara lebih dalam lagi. Saya mewawancarai ada beberapa saudara saya yang juga berprofesi sebagai psikolog dan psikiater karena saya tidak ingin salah dalam menulis cerita. Selain itu saya juga tidak ingin mengarang seputar trauma dan kesehatan mental,”[11]
- “Harus ada dua makna, double swords. Memang gelap, tapi gelapnya karena sampai sekarang sejarah belum juga direvisi. Kedua, saya tetap ingin merasa bahwa ini ada harapan karena setelah 98, penyintas dari 65 mulai bersuara. Suara mereka sudah mulai diperhitungkan.”[12]
- “Buku buat saya itu adalah kebutuhan, seperti oksigen. Menurut saya, buku itu jauh lebih membuat kita menjadi manusia.”[13]
- “Memang setelah saya pulang (dari Kanada menyelesaikan studi) dan bergabung bersama dengan Tempo, tulisan saya memang jadi terpengaruh bahwa, saya seorang wartawan. Pengaruhnya adalah pilihan topik itu for sure, pemilihan topik saya itu sangat terpengaruh karena saya di Tempo. Kedua, sikap. Sikap saya itu adalah sikap orang Tempo.”[14]
- “Jadi of course, kalau tertarik dengan sesuatu dan dapat ide, it has to be fiction (itu harus menjadi karya fiksi). Wartawan itu kerjaan saya, it’s only a job (ini hanya pekerjaan).”[15]
- “Saya baru menjadi wartawan ketika saya berusia 27 tahun. So, we have to remember that. Saya bukan jurnalis dulu, baru jadi novelis.”[16]
- “Yang paling penting itu selalu adalah bagaimana dia (karakter) bersikap pada peristiwa-peristiwa yang terjadi sama dia.”[17]
- “Penciptaan-penciptaan ini (karakter) sebetulnya udah saya coba desain dari awal. Ada tokoh utama, akan ada temen-temennya, dan ada cewek, harus ada cewek, minimal satu, kalau bisa dua. Terus bahkan saya desain harus ada senimannya.”[18]
- “Nezar (Patria) adalah orang pertama yang saya wawancara. Kemudian Nezar memberi nama-nama lain. Ngenalin sama keluarga-keluarga korban (peristiwa 1998). Tapi kan, ketika saya menciptakan (karakter) Laut, itu bukan Nezar lagi, udah ada campuran di dalamnya.”[19]
- “Selalu menyorot tokohnya, bukan peristiwanya. Peristiwa itu harus selalu harus melekat pada tokoh karena saya memang character driven bukan plot driven. Itu pilihan saya memang.”[20]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Profil Leila S. Chudori, Penulis Novel Best Seller Laut Bercerita". Narasi Tv. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 Chudori, Leila S. (2017-10-23). Laut Bercerita. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-602-424-694-5.
- ↑ 3,0 3,1 Chudori, Leila S. (2013-09-30). Pulang: sebuah novel. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-979-9105-15-8.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 Chudori, Leila S. (2009). 9 dari Nadira. Kepustakaan Populer Gramedia. ISBN 978-979-9102-09-6.
- ↑ Fimela.com (2021-08-24). "27 Kutipan Novel Laut Bercerita Karya Leila S Chudori". fimela.com. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ 6,0 6,1 6,2 6,3 "Leila S. Chudori: Dari Jurnalis ke Penulis Novel Fenomenal". Indonesia Kaya. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ "12 Writers Focus: Leila S. Chudori". British Council Indonesia. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ "Perjalanan Panjang Leila S. Chudori Menulis Namaku Alam: Riset Sejak 2006". Tempo. 1 Oktober 2023 | 16.17 WIB. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ "Perjalanan Panjang Leila S. Chudori Menulis Namaku Alam: Riset Sejak 2006". Tempo. 1 Oktober 2023 | 16.17 WIB. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ "Perjalanan Panjang Leila S. Chudori Menulis Namaku Alam: Riset Sejak 2006". Tempo. 1 Oktober 2023 | 16.17 WIB. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ "Perjalanan Panjang Leila S. Chudori Menulis Namaku Alam: Riset Sejak 2006". Tempo. 1 Oktober 2023 | 16.17 WIB. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ "Perjalanan Panjang Leila S. Chudori Menulis Namaku Alam: Riset Sejak 2006". Tempo. 1 Oktober 2023 | 16.17 WIB. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Emilia, Dinar (2025-11-29). "Suara bagi Mereka yang Dibungkam, Perjalanan dan Karir Leila S. Chudori". Wartadinus. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ Hilfani, Nabila Eva. "Tentang Karakter-karakter dalam Karya Leila S. Chudori, Seoran..." BandungBergerak.id. Diakses tanggal 2025-12-28.
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |
