Lauren Berlant
Tampilan
Lauren Berlant (31 Oktober 1957– 28 Juni 2021) adalah akademisi, penulis dan teoretikus budaya Amerika Serikat, yang menjabat sebagai George M. Pullman Professor Bahasa Inggris di Universitas Chicago. Ia dikenal melalui karya-karyanya tentang sentimentalitas nasional dan hubungan afektif, termasuk The Anatomy of National Fantasy (1991), The Queen of America Goes to Washington City (1997), The Female Complaint (2008), dan Cruel Optimism (2011). Pemikirannya berpengaruh dalam studi budaya, teori kritik sosial, dan analisis afeksi dalam masyarakat modern.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Identity is marketed in national capitalism as a property. It is something you can purchase, or purchase a relation to. Or it is something you already own that you can express: my masculinity, my queerness. But identity need not be simply a caption for an image of an unchangeable concrete self. It is also a theory of the future, of history."[2]
- "Identitas dipasarkan dalam kapitalisme nasional sebagai sebuah properti. Ia adalah sesuatu yang dapat dibeli, atau hubungan dengannya dapat dibeli. Atau ia adalah sesuatu yang sudah kita miliki dan bisa kita ekspresikan: maskulinitasku, ke-queer-anku. Namun identitas tidak harus sekadar menjadi keterangan bagi gambaran diri yang konkret dan tak dapat diubah. Identitas juga merupakan sebuah teori tentang masa depan dan tentang sejarah."
- "Thinking about belonging and attachment to life and the attachment to living on, how one lives on, has been incredibly important to me. Some people think they're attached to each other because of the way the law makes a web of constancy among them."
- "Memikirkan tentang rasa memiliki dan keterikatan pada kehidupan, serta keterikatan untuk terus hidup—bagaimana seseorang menjalani kelanjutan hidupnya—menjadi hal yang sangat penting bagi saya. Sebagian orang mengira mereka saling terikat satu sama lain karena hukum membentuk jejaring keterikatan dan keberlangsungan di antara mereka."
- "It's a heartbreak that the world isn't worthy of our attachment to it, that it gives us objects or ways of life or forms of life that are constantly betraying us."[3]
- "Ini adalah patah hati karena dunia ternyata tidak layak menerima keterikatan kita; ia memberi kita objek, cara hidup, atau bentuk kehidupan yang terus-menerus mengkhianati kita."
- "Sentimentality is not just the mawkish, nostalgic, and simpleminded mode with which it’s conventionally associated, where people identify with wounds of saturated longing and suffering, and it’s not just a synonym for a theatre of empathy: it is a mode of relationality in which people take emotions to express something authentic about themselves that they think the world should welcome and respect."
- "Sentimentalitas bukan sekadar sikap manja, nostalgik, atau berpikiran sempit seperti yang biasanya dikaitkan, di mana orang mengidentifikasi diri dengan luka-luka kerinduan dan penderitaan yang mendalam, dan bukan sekadar sinonim dari “teater empati”: ia adalah suatu cara berelasi di mana orang menggunakan emosi untuk mengekspresikan sesuatu yang otentik tentang diri mereka yang mereka rasa dunia harus sambut dan hormati;"
- "In neoliberal normativity, to be dependent is to be non-sovereign: but in the era of austerity, it is the first step to solidarity."[4]
- "Dalam norma neoliberal, menjadi tergantung berarti tidak berdaulat: tetapi di era penghematan, itu adalah langkah pertama menuju solidaritas."
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Anderson, Charlotte (2022-09-07). "Get to Know: Lauren Berlant". Combined Academic Publishers (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ "QUOTES BY LAUREN BERLANT". A-Z Quotes. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ "Why Chasing the Good Life Is Holding Us Back, With Lauren Berlant | Division of the Humanities". humanities.uchicago.edu. Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ "Depressive Realism: An Interview with Lauren Berlant | Earl McCabe | The Hypocrite Reader". Hypocrite Reader (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.