Laksmi Pamuntjak
Tampilan

Laksmi Pamuntjak (Jakarta, 22 Desember 1971) adalah penulis novel, penyair, jurnalis, dan penerjemah. Dengan latar belakang pendidikan internasional dan pengalaman hidup lintas budaya, Laksmi memiliki perspektif unik dan baru saat menulis, menjadikannya salah satu penulis Indonesia yang go international. [1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan."
- "Sementara aku diam-diam semakin yakin makanan Aceh yang benar-benar enak mungkin hanya didapatkan di rumah orang Aceh, bukan di rumah makan."
- "Nadezdha Azhari dan aku adalah sampanye dan popcorn. Masing-masing tangguh berdiri sendiri, dahsyat bila berdampingan, tapi fakta metafisiknya ya itu tadi: dia sampanye, dan aku popcorn."
- "Sementara popcorn adalah popcorn. Ia tak pernah ditimang-timang dan disimpan secara khusus, ia tak pernah dibahas, dibikinkan lagu atau judul cerita, kecuali dalam kaitannya dengan kegiatan menonton film."
- "Tidak seperti sampanye, popcorn tak tahu rasanya membasahi farji, untuk lalu memenuh, menubuh, dan menciptakan buih setelah disemburkan ke dalam sebentuk wadah." [2]
- "Politik memang bukan tentang apa yang benar. Politik adalah bagaimana kita salah dengan benar."
- "Perjalanan: melatih diri untuk tetap menjaga jarak seraya berbagi begitu banyak."
- " Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari, dan bulan. Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya."
- "Mendidik diri untuk menjaga jarak dengan orang lain, dan juga untuk menjaga jarak dengan kata-kata yang sewaktu-waktu bisa berkhianat."
- "Perjalanan membawa hal-hal baru yang membuat kita bijaksana, tapi selalu ada yang tetap pada kita sejak sebelum berangkat."
- "Aku bahkan tak percaya konsep pahlawan resmi, sebab pahlawan hadir dalam kehidupan sehari-hari, pada mereka yang berkorban dan yang bertahan memikul beban."
- "Belajar untuk tidak mengumbar kata, karena begitu sesuatu diikrarkan, kita terikat, dan tak bisa menariknya kembali."
- "Belum lama aku mengenal dia, tapi ia hidup dan tumbuh di dalam diriku, begitu rupa hingga ia memanjangkan bayang-bayangku kemanapun mataku memandang. Ia telah jadi kewajibanku, nasibku."
- "Lalu, suatu hari kutemukan bahwa semua simpul yang telah kubuat itu tetap utuh – hanya benangnya saja yang rusak. Aku mencintaimu."[3]
- "Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari dan bulan. Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya."
- "Suami dan istri tak harus serta merta sahabat. Cinta adalah cinta, bukan pengorbanan. Perasaan adalah untuk ditolak atau dibunuh, tidak untuk dilekaskan, apalagi untuk dibiarkan mengalir. Lagipula, begitu Ibu mengikatkan diri pada Bapak, ia menunggu kapan seseorang tak hanya menggunakan perasaan, tapi juga otaknya. Ia tak pernah sekalipun, dalam proses ini, kehilangan kesabarannya. Lalu ia memilih."
- "Perjalanan: melatih diri untuk tetap menjaga jarak seraya berbagi begitu banyak."
- "Kesetiaan selalu dikhianati, atau ia menanti selamanya untuk sesuatu yang tak pernah dimikili."
- "Nggak ada yang lebih menyedihkan di dunia ini, daripada permintaan maaf yang nggak pada tempatnya." [4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Agustina, Karina (2025-06-10). "Laksmi Pamuntjak: Penulis Perempuan Indonesia yang Mendunia - @america". Diakses tanggal 2025-11-30.
- ↑ "Laksmi Pamuntjak Quotes (7 quotes)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-11-30.
- ↑ "Top 9 Laksmi Pamuntjak Quotes (2025 Update) - QuoteFancy". quotefancy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-30.
- ↑ "14 Kata-kata Bijak dari Laksmi Pamuntjak: Kata bijak, kutipan dan ucapan". JagoKata.com. Diakses tanggal 2025-11-30.