Kalis Mardiasih
Tampilan

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Kalis Mardiasih (lahir 16 Februari 1992) adalah penulis dan aktivis Indonesia yang dikenal aktif dalam isu-isu keagamaan dan sosial, khususnya yang berkaitan dengan perempuan dalam Islam. Ia terlibat dalam organisasi Nahdlatul Ulama dan merupakan anggota Sekretariat Nasional Jaringan Nasional Gusdurian, sebuah komunitas yang berfokus pada pengembangan nilai-nilai pemikiran Abdurrahman Wahid. Kalis sebelumnya berkegiatan di Himpunan Mahasiswa Islam cabang Surakarta dan telah menerbitkan sejumlah buku, termasuk Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar! serta Muslimah yang Diperdebatkan, yang membahas pengalaman dan persoalan perempuan Muslim dalam kehidupan sehari-hari.[1][2][3][4]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]Perempuan & Gender
[sunting | sunting sumber]- "Jumlah penulis perempuan sangat sedikit. Apalagi kalau bicara penulis perempuan itu seringkali genre nulisnya tentang keagamaan, fiqih dan ibadah gitu. Sedangkan, saya kira hidup perempuan tidak hanya itu saja."[5]
- "Saya punya misi jalan-jalan keliling Indonesia dan bertemu perempuan-perempuan di berbagai kota. Dan itu membuat saya merefleksi bahwa pengalaman perempuan yang satu berbeda dengan pengalaman perempuan yang lain."[5]
- "Saya tidak paham mengapa Tuhan menciptakan perempuan sebagai makhluk berhati lemah."[6]
- "Perempuan memang harus melawan jika ia mendapati tindakan pelecehan dan kekerasan yang menciderai martabat dirinya."[6]
- "Bisakah orang-orang ini melihat perempuan berpakaian tanpa harus menambah-nambahi dengan asumsi ke-geer-an mereka sendiri? Kami, perempuan, adalah manusia sempurna, manusia yang utuh dengan akal, ruh, dan qalb, tidak semata tubuh. Kami, perempuan, adalah manusia dewasa yang dapat berpikir secara sadar untuk membedakan hal yang baik maupun batil."[7]
- "Sesama perempuan harus mulai saling senyum kepada perempuan lain untuk memberikan dukungan. Sesama perempuan harus mulai saling menawarkan uluran tangan untuk saling menguatkan."[7]
- "Sesama perempuan hadir kepada perempuan tidak untuk mengukur-ukur amalan, mengurusi wilayah pribadi, atau mencatat dosa perempuan lain."[7]
- "Tanggung jawab menjadi perempuan untuk menjadi diri sendiri sudah terlalu padat. Jika single dan bekerja, perempuan dikatai tak laku-laku dan terlalu mementingkan dunia. Jika menikah dan belum dikaruniai keturunan, ia disebut tak subur dan tak sempurna menjadi perempuan. Jika menikah lalu bercerai, ia dianggap sebagai perempuan yang tidak bisa menurut atau mengalah. Permasalahan perempuan lebih luas dari sekadar mencatat apa yang melekat di tubuhnya."[7]
- "Menjadi perempuan di hari ini tidak mudah. Kami percaya, menulis bisa menjadi cara menyelamatkan diri sekaligus menyuarakan yang tak terdengar."[8]
Agama & Islam
[sunting | sunting sumber]- "Kerudung di negeriku memerdekakan pikiran, gerak badan, tangan, dan suara."[6]
- "Agama yang diterapkan dengan ekstrem dalam lini-lini kehidupan, rupanya tidak menjamin lagi terwujudnya masyarakat yang ideal."[6]
- "Percayalah, memakai simbol kesalehan lalu berjualan oleh-oleh dengan label Islami bukanlah jalan hijrah satu-satunya."[6]
- "Perempuan yang memiliki perasaan cemburu tidak layak dibungkam dengan pemaknaan teks yang tidak adil gender."[6]
- "Islam Indonesia bisa mewujudkan Indonesia sebagai rumah bersama yang nyaman ditinggali karena bersama-sama kita bekerja membangun segala urusannya."[6]
- "Khotbah Jumat yang membangkitkan kantuk, sepertinya erat berkaitan dengan tema yang jauh dari kehidupan sehari-hari jemaah."[6]
- "Kita menantikan wajah jihad dan wajah muslimah yang berubah lebih menyenangkan di mesin pencari."[6]
- "Kita tidak bisa menghakimi amal seorang perempuan lebih banyak atau lebih sedikit dari kerudung yang ia pakai."[6]
- "Saya bukan ahli agama. Namun, saya meyakini bahwa setiap pemeluk agama memiliki hak untuk menceritakan realitas yang ia alami sebagai manusia dewasa yang sedang menempuh perjalanan dari ketiadaan menuju ketiadaan."[9]
- "Betapa saya rindu pada masa kanak-kanak yang penuh tawa. Anak-anak adalah jiwa suci yang tak memiliki rasa curiga. Anak-anak mau berteman dengan siapa saja. Anak-anak terkadang berkelahi dan marah, tetapi akan memaafkan kesalahan tanpa menyimpan dendam. Andai saja orang dewasa bisa beragama seperti kanak-kanak, membebaskan perasaan dari curiga dan sakit hati."[9]
Identitas, Diri, & Perjalanan Hidup
[sunting | sunting sumber]- "Waktu dan ruang mengubah naluri keluguan manusia. Kita berenang-renang mengambil batas antara membela kemanusiaan dan nasib, sambil bertaruh dan berkompromi untuk banyak hal lain yang terlibat."[9]
Pendidikan & Pemikiran Kritis
[sunting | sunting sumber]- "Jadi kalian yang takut sama perempuan berpendidikan tinggi itu maunya dapat pasangan yang lulusan apa? Sekolah Rakyat?."[6]
- "Belajar memang sulit dan enggak semua bisa paham, tapi seenggaknya, jangan pura-pura tuli dan sengaja menutup mata."[6]
- "Seharusnya, tren sekadar mengingatkan dijadikan tradisi untuk mencegah perempuan-perempuan yang telah kehilangan kemandirian berpikir dan daya kritisnya."[6]
Kemanusiaan & Keberagaman
[sunting | sunting sumber]- "Akhlak yang baik memang semestinya menembus sekat, warna kulit dan kepercayaan."[6]
- "Apa enaknya menjadi sama jika Tuhan saja sengaja menciptakan manusia berbeda-beda?."[6]
- "Perbedaan membutuhkan jembatan yang sama sekali bukan dalam bentuk peperangan."[6]
- "Persoalan kemanusiaan di sekitar kita tidak selesai hanya dengan menjilbabi atau menikahkan syar'i semua perempuan seperti bahan ceramah ustaz selebgram atau akun Indonesia tanpa pacaran."[7]
Pernikahan, Relasi, & Keluarga
[sunting | sunting sumber]- "Menikah, seharusnya adalah perkara sakral yang melebihi segala hal transaksional."[6]
- "Perempuan yang berani berkata tidak saja, tidak akan cukup jika peradaban laki-laki masih melanggengkan kekerasan."[6]
- "Anda bukan orang pertama yang membuat sakit saudara kandungmu. Sebetulnya, adakah kesopanan di dunia ini?."[6]
- "Perempuan yang mulia tidak cukup dengan menantikan pria yang saleh."[6]
- "Kalau istri telah bekerja seharian dan masih memiliki beban reproduktif dan produktif lain, mereka sadar untuk berbagi peran."[6]
Sosial & Politik
[sunting | sunting sumber]- "Orang dewasa ingin memenangkan pertarungan, tak peduli cara-cara telah terlampau banal."[6]
Kekerasan Seksual
[sunting | sunting sumber]- “Setiap ucapan, ajakan atau setiap tindakan yang merendahkan, mengancam seseorang atau membuat seorang merasa tidak berdaya atau sudah menyerang tubuh dan seksual seseorang, sehingga seseorang itu ketakutan, terancam, tak berdaya dan tidak bisa melawan itu namanya kekerasan”[10]
- “Meskipun bukan luka fisik, ada luka batin yang tertinggal. Menimbulkan dampak bagi pribadi korban. Misalnya korban jadi tidak percaya diri, tidak cukup perform dan capable. Secara sosial pasti akan berdampak, korban kekerasan cenderung menarik diri dari pergaulan, karena dia merasa aku nggak belong to society dan merasa tidak berguna"[10]
- “Biasanya korban kekerasan fisik dan seksual akan melihat luka fisik di badannya. Misalnya, liat luka di tangan atau tubuhnya atau bekas di mana ia pernah luka, pasti akan teringat kembali dengan peristiwa yang pernah dialami”[10]
- “Saat seseorang dilecehkan dan masyarakat menganggap kejadian itu aib yang tidak perlu diceritakan, korban cenderung takut bercerita. Karena ceritanya dianggap sesuatu yang abu-abu dan saru. Pengalaman korban tidak mendapat validasi oleh orang sekitarnya”
- “Di lembaga pendidikan dan lingkungan kerja, bisa saja korban ada di posisi relasi yang sangat lemah. Misalnya mahasiswa dan dekan, atau karyawan dan petinggi perusahaan. Korban masih membutuhkan relasi itu. Dia akan kehilangan pendidikannya dan pekerjaannya sehingga tidak mudah bagi korban untuk mengakses keadilan bagi dirinya sendiri”[10]
- “Speak up memang penting, tetapi tidak ada yang memaksamu melakukan speak up. Hal yang terpenting adalah kamu sebagai korban pulih. Pulihkan diri kamu dengan mengakses support system yang paling tepat untukmu”[10]
- Sebenarnya tidak ada yang memaksakan korban untuk bercerita. Jadi fokusnya adalah pemulihan diri dahulu seandainya kalian korban. Misalnya, korban kekerasan fisik atau psikis, kalian harus berusaha memulihkan fisik dan mental dulu. Misalnya dengan pergi ke pelayanan kesehatan yang ramah perempuan untuk memulihkan fisik dan mental korban"[10]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Jonas, Ayu Alfiah (2020-04-14). "Kalis Mardiasih dan Islam Keseharian". Bincang Muslimah. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ "Kalis Mardiasih – IDWRITERS" (dalam bahasa American English). 2021-01-05. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ Hanina, Tyas (2020-09-08). "Kalis Mardiasih, Penulis dan Pemerhati Isu Gender". IDN Times. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ Worcou, Rebecca (2024-06-03). "Kalis Mardiasih". Faculty of Arts (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 5,0 5,1 unairnews (2022-09-07). "Kalis Ungkap Hidup Perempuan adalah Cerita yang Kompleks". Universitas Airlangga Official Website. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 6,00 6,01 6,02 6,03 6,04 6,05 6,06 6,07 6,08 6,09 6,10 6,11 6,12 6,13 6,14 6,15 6,16 6,17 6,18 6,19 6,20 6,21 "22 Kata Bijak Kalis Mardiasih dalam Karyanya 'Muslimah yang Diperdebatkan'". Dream.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 7,0 7,1 7,2 7,3 7,4 Mardiasih, Kalis (2020-07-25). Sister Fillah, You'll Never Be Alone (dalam bahasa Inggris). Mizan Qanita. ISBN 978-602-402-177-1.
- ↑ "RBC UMM-Kalis Mardiasih Beri Cara Perempuan Jadi Penulis yang Produktif". UMM. 17 Juli 2025. Diakses tanggal 2025-12-20.
- ↑ 9,0 9,1 9,2 Mardiasih, Kalis (2020). Hijrah Jangan Jauh-Jauh, Nanti Nyasar!. Buku Mojok. ISBN 978-623-7284-14-7.
- ↑ 10,0 10,1 10,2 10,3 10,4 10,5 Anaya, Adonia Bernike (2021-11-26). "SOS kumparanWOMAN: Pandangan Kalis Mardiasih soal Kekerasan terhadap Perempuan". Kumparan Woman. Diakses tanggal 2025-11-30.
| Tokoh |
|---|
| A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z |