Julia Suryakusuma
Tampilan
Julia Suryakusuma aktivis, penulis, dan akademisi Indonesia, dilahirkan di New Delhi, India, pada 19 Juli 1954. Di samping Ibuisme Negara, Julia juga telah menulis buku-buku lain seperti Agama, Seks, dan Kekuasaan dan Julia’s Jihad. Tulisan-tulisan akademis Julia selama 24 tahun (1979–2003), telah dibukukan dalam antologi Sex, Power and Nation (Metafor, 2004). Pada pertengahan 2011 diterbitkan versi Indonesia dari antologi ini—ditambah empat bab baru—berjudul Agama, Seks dan Kekuasaan (ASK), juga oleh Kobam.[1][2]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Saya beruntung selalu mendapat kesempatan melakukan apa yang saya cintai dan saya yakini, atau sebaliknya, merespons kepada hal-hal yang menyinggung rasa keadilan dan rasa kebenaran saya. Aspirasi saya selanjutnya adalah mengangkat sebanyak mungkin orang dengan cara apapun, dari segi keilmuan, segi kualitas hidup, maupun kehidupan spiritual."
- "Saya ingin mendalami soal perjalanan intelektual Anda dan saya pikir ini fase paling penting dalam kehidupan publik Anda. Saya masuk dari bukunya Ignas Kleden yang terbaru, Fragmen Sejarah Intelektual: Beberapa Profil Indonesia Merdeka (terbit pada Desember 2020). Ada satu kritik paling telak terhadap buku itu, terutama datang dari kalangan perempuan: “Mengapa semua intelektual Indonesia yang dibahas di buku itu adalah laki-laki?” Apa pandangan Anda tentang sejarah intelektual yang male-centric ini?"
- “You don’t have to be a feminist, you just have to be an Indonesian and a human being” (Anda tidak harus menjadi feminis, Anda hanya harus menjadi orang Indonesia dan manusia). Sebagai intelektual publik, kita harus siap terima kritik. Semua intelektual publik memang dalam posisi seperti itu. Itu bagian dari dialog yang memang harus terjadi."[3]
- “Religion should be a basis for overcoming division, not for creating it.”
- “Agama seharusnya menjadi landasan untuk mengatasi perpecahan, bukan untuk menciptakannya.”
- “Our motto is 'unity in diversity' but what we have had for a long time, and increasingly so, is fragmentation ... ethically and spiritually.”
- “Motto kami adalah ‘persatuan dalam keberagaman,’ tetapi yang telah kami alami selama ini, dan kian lama semakin parah, adalah fragmentasi ... secara etis dan spiritual.”[4]
- “Dari dulu sampai sekarang perempuan masih tidak mendapat perlakuan yang selayaknya. Jadi mengapa mengagung-agungkan pilar negara atau ibu bangsa tapi tetap perempuan didiskriminasi, ada pelecehan, TKW yang tidak dilindungi oleh negara.”[5]
- "... saya kadang-kadang disebut sebagai “oma” dari para feminis kontemporer..."[6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Julia Suryakusuma Arsip". Komunitas Bambu. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Kirnandita, Patresia (2020-09-04). "Julia Suryakusuma: Tentang Ibu, Menjadi Ibu, dan Ibuisme". Magdalene Merch. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Ahsan, Indira Ardanareswari,Ivan Aulia. ""Patriarki Itu Mentalitas, bukan Tergantung Jenis Kelamin"". tirto.id. Diakses tanggal 2025-12-08. Pemeliharaan CS1: Banyak nama: authors list (link)
- ↑ "Julia Suryakusuma Quotes (Author of State Ibuism)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Khalika, Nindias Nur. "Emak-Emak Vs Ibu Bangsa, Mengapa Istilah Jadi Masalah?". tirto.id. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Saint Dede. Sydney: evi-o.studio. 2023. ISBN 978-0-6486132-0-6 (hardcover). Pemeliharaan CS1: Status URL (link)