Jean Batten
Tampilan

Jane Gardner Batten (15 September 1909 – 22 November 1982), yang lebih dikenal sebagai Jean Batten, adalah seorang penerbang (aviator) asal Selandia Baru yang melakukan sejumlah penerbangan pemecah rekor termasuk penerbangan solo pertama dari Inggris ke Selandia Baru pada tahun 1936.
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- ...Australia like New Zealand is still very much 'a man's country.
- “…Australia, seperti halnya Selandia Baru, masih sangat merupakan ‘negara kaum laki-laki’.”[1]
- I find it hard to believe that I do not have to go on somewhere else... but there doesn't seem anywhere else to go, unless to the Antarctic. But one thing I do know: when I travel for a while after this I am going by train or road transport. I have had enough of the air for the time being.
- “Sulit bagiku untuk mempercayai bahwa aku tidak harus melanjutkan perjalanan ke tempat lain… tetapi tampaknya tidak ada lagi tempat untuk dituju, kecuali ke Antartika. Namun satu hal yang saya ketahui: ketika aku bepergian lagi setelah ini, aku akan memilih kereta atau transportasi darat. Untuk sementara, aku sudah cukup dengan dunia penerbangan.”[2]
- How bitter-sweet it all was, I reflected — flying about the world, visiting these great cities, meeting many people, making many friends, then having to fly off again.
- “Betapa getir-manis semuanya itu, renungkan—terbang mengelilingi dunia, mengunjungi kota-kota besar, bertemu banyak orang, menjalin banyak persahabatan, lalu harus terbang pergi lagi.”[3]
- The intoxicating drug of speed, and freedom to roam the earth.
- "Obat memabukkan bernama kecepatan, dan kebebasan untuk berkelana di muka bumi.” Tentang apa yang ia cintai, sebagaimana tercatat dalam RNZ, “100 Nasty Women: Jean Batten,”[4]
- If I go down in the sea...no one must fly out to look for me.
- “Jika aku jatuh di laut… tidak seorang pun boleh terbang untuk mencariku.”[4]
- But England to Naples in a day is no mean feat for any man, let alone a girl without any previous long-distance experience.
- “Tetapi menempuh perjalanan dari Inggris ke Napoli dalam satu hari bukanlah capaian kecil bagi siapa pun, apalagi bagi seorang perempuan tanpa pengalaman jarak jauh sebelumnya.”[5]
- ...my only company the roar of the engine as I winged low over the ocean like a solitary bird... I might have been the only person in the world.
- “…satu-satunya temanku adalah deru mesin ketika aku melayang rendah di atas lautan seperti seekor burung yang kesepian… aku seakan menjadi satu-satunya manusia di dunia.”[5]
- There have been times when the loneliness has been so intense that I have longed for the sound of a human voice or the sight of a ship, or even a tiny native village, to dispel the feeling of complete isolation that one feels when flying alone over the sparsely inhabited tracts that comprise such a great area of the earth's surface.
- “Ada kalanya rasa sepi begitu menyesakkan sehingga aku merindukan suara manusia, atau tampak sebuah kapal, atau bahkan sebuah desa kecil nan terpencil, untuk menghapuskan rasa keterasingan yang begitu total yang dirasakan ketika terbang sendirian di atas wilayah-wilayah jarang berpenghuni yang mencakup demikian luasnya permukaan bumi.”[6]
- I made a point of ignoring both of them.
- “Aku memilih untuk mengabaikan keduanya.” Kalimat ini diucapkan untuk menanggapi nasihat Kingsford Smith yang mengatakan: "Jangan mencoba memecahkan rekor laki-laki; dan jangan terbang pada malam hari."[6]
- ...would not even consider it until I had attained my ambition, for I was determined to try again.
- “…aku bahkan tidak akan mempertimbangkannya. Aku mencapai cita-cita, sebab aku bertekad untuk mencoba kembali.” Mengenai pernikahan.[6]
- I was able to fly from England to New Zealand in the fastest time in the history of the world...I think I can say this is the very greatest moment of my life.
- “Aku mampu terbang dari Inggris ke Selandia Baru dalam waktu tercepat dalam sejarah dunia… Aku kira boleh mengatakan bahwa ini adalah momen terbesar dalam hidupku.”[7]
- I have experienced the cool, rarefied atmosphere of the Olympic heights where the famous dwell in lonely solitude.
- “Aku telah merasakan atmosfer sejuk dan tipis di puncak Olimpus, tempat para tokoh termasyhur hidup dalam kesunyian yang mulia.”[7]
- Ted, if you love me, lend me the lower wings from your Moth.
- “Ted, jika engkau mencintaiku, pinjamkan padaku sayap bawah dari Moth-mu.”[8]
- ...I had served my apprenticeship and was now a cool, ruthless, potential record-breaker.
- “…aku telah menamatkan masa magang dan kini menjadi sosok yang tenang, tanpa kompromi, dan berpotensi memecahkan rekor.”[8]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Batten, Jean (1979). Alone in the Sky. Shrewsbury: Airlife Publishing. ISBN 0-906393-01-9.
- ↑ “Sea Flight,” New Zealand Herald, Volume LXXIII, Edisi 22552, 17 Oktober 1936, hlm. 16.
- ↑ MOTAT, “Jean Batten’s Journey to Brazil,” Renshaw, Chelsea, 2022.
- ↑ 4,0 4,1 100 Nasty Women of History karya Hannah Jewell, diterbitkan 27 Desember 2017.
- ↑ 5,0 5,1 Mackersey, Ian (1990). Jean Batten: The Garbo of the Skies. Auckland: MacDonald Publishing. ISBN 0-356-19573-2.
- ↑ 6,0 6,1 6,2 King, John (1998). Famous New Zealand Aviators. Wellington: Grantham House Publishing, hlm. 63–64.
- ↑ 7,0 7,1 Mackersey, Ian (1990). Jean Batten: The Garbo of the Skies. Auckland: MacDonald Publishing. ISBN 0-356-19573-2.
- ↑ 8,0 8,1 King, John (1998), hlm. 70.
Tautan Eksternal
[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: