Lompat ke isi

Iwan Fals

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Iwan Fals konser pada tahun 2015

Virgiawan Listanto (lahir 3 September 1961), lebih dikenal dengan nama panggungnya Iwan Fals, adalah seorang penyanyi, musisi, pencipta lagu, dan kritikus sosial legendaris asal Indonesia. Gaya musiknya yang beraliran balada, pop, dan rock sering kali memuat lirik-lirik yang puitis dan tajam, mengangkat tema kehidupan sehari-hari, kritik terhadap pemerintah, hingga isu sosial dan lingkungan. Lagu-lagunya seperti "Bento", "Bongkar", dan "Surat Buat Wakil Rakyat" telah menjadi lagu himne (anthem) bagi banyak generasi di Indonesia.[1]

  • Secara prinsip, saya mencoba menjadi diri sendiri aja. Walaupun saya masih terus berproses, saya berusaha jujur. Apa yang saya inginkan, apa yang saya dambakan, saya tulis, saya rasa dan raba. Saya menghayati itu.[2]
  • Kita harus jadi diri sendiri, kita nggak boleh kehilangan kegembiraan, kewaspadaan. Tapi juga harus menjaga nilai-nilai yang orang tua kita kasih, agama kita ajarkan, dan negara bikin. Kita harus merdeka dalam arti sejati.[3]
  • Jelek-jelek yang penting lagu ciptaan sendiri.[4]
  • (Tentang Bung Hatta) Beliau sangat sederhana. Bahkan beliau tidak pernah mampu membeli sepatu impiannya. Beliau menggunting iklan sepatu itu di brosur lalu dimasukkan ke dompet.[5]
  • (Tentang Bung Hatta) Kalau mataharinya di kiri, dia akan duduk di kiri. Kalau mataharinya di sebelah kanan, dia akan duduk di sebelah kanan. Pokoknya bagaimana istrinya enggak kena panas matahari.[5]
  • Saya berusaha untuk optimis. Bumi makmur kan semua makmur juga, kalau bumi mati, punya duit juga percuma.[3]
  • Setiap orang memiliki kesempatan untuk menyuarakan hal-hal positif, terutama dalam menghargai alam dan sesama.[6]
  • (Tentang nama anaknya, Galang) Saya harap Galang ya seperti itu, menampung segala keluh kesah atau mimpi manusia dan masa depannya.[7]
  • (Tentang nama anaknya, Rambu) Nggak mungkin kita hidup tanpa petunjuk paling nggak secara naluri ya kita butuh kabar, butuh keterangan-keterangan biar nggak teresesat hidup kita ya, aturan-aturan, petunjuk masukan buat kehidupan.[7]
  • Aku melihat kenangan memang tak mudah untuk dilupakan. Ya sudah, itu kan bagian dari kenyataan. Kehilangan itu juga suatu kenyataan.[3]
  • Semesta itu ada dalam diri. Sesibuk-sibuk diri melihat ke luar, ternyata di dalam juga banyak yang tidak terlihat.[3]
  • Walaupun saya nggak paham soal alam tapi ada naluri untuk mengenal lingkungan, kerinduan akan hutan yang sehat. Ini kebutuhan semua orang.[3]

Kutipan dari Lagu

[sunting | sunting sumber]

Dari Manusia Setengah Dewa (2004)

[sunting | sunting sumber]
  • Walau hidup adalah permainan, walau hidup adalah hiburan. Tetapi kami tak mau dipermainkan dan kami juga bukan hiburan.
  • Turunkan harga secepatnya, berikan kami pekerjaan. Pasti kuangkat engkau menjadi manusia setengah dewa.
  • Masalah moral masalah akhlak, biar kami cari sendiri. Urus saja moralmu urus saja akhlakmu, peraturan yang sehat yang kami mau.
  • Tegakkan hukum setegak-tegaknya, adil dan tegas tak pandang bulu.

Dari Bento (1991)

[sunting | sunting sumber]
  • Namaku Bento, rumah real estate, mobilku banyak, harta melimpah. Orang memanggilku bos eksekutif.
  • Bisnisku menjagal, jagal apa saja. Yang penting aku senang, aku menang. Persetan orang susah, karena aku.

Dari Bongkar (1989)

[sunting | sunting sumber]
  • Kalau cinta sudah di buang, jangan harap keadilan akan datang. Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperkuda jabatan.
  • Sabar, sabar, sabar dan tunggu. Itu jawaban yang kami terima. Ternyata kita harus ke jalan. Robohkan setan yang berdiri mengangkang.

Dari Surat Buat Wakil Rakyat (1987)

[sunting | sunting sumber]
  • Wakil rakyat kumpulan orang hebat, bukan kumpulan teman-teman dekat. Apalagi sanak famili.
  • Di hati dan lidahmu kami berharap, suara kami tolong dengar lalu sampaikan. Bicaralah yang lantang jangan hanya diam.
  • Wakil rakyat seharusnya merakyat, jangan tidur waktu sidang soal rakyat.
  • Wakil rakyat bukan paduan suara, hanya tahu nyanyian lagu setuju.

Dari Ujung Aspal Pondok Gede (1981)

[sunting | sunting sumber]
  • Nama dusunku Ujung Aspal Pondok Gede, rimbun dan anggun, ramah senyum penghuni dusun.
  • Sampai saat tanah moyangku tersentuh sebuah rencana dari serakahnya kota.
  • Terlihat murung wajah pribumi, terdengar langkah hewan bernyanyi.
  • Satu per satu sahabat pergi dan takkan pernah kembali.

Dari Besar Dan Kecil (1992)

[sunting | sunting sumber]
  • Mengapa besar selalu menang, bebas berbuat sewenang-wenang. Mengapa kecil selalu tersingkir, harus mengalah dan menyingkir.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Profil Iwan Fals, Legenda Musik Indonesia Bersuara Khas. Kompas.com. Diakses tanggal 6 Agustus 2025.
  2. Berkarya dengan Jujur, Cara Iwan Fals Punya Lagu-lagu Abadi. Voi.id. Diakses tanggal 7 Agustus 2025.
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 Bercakap Bersama Iwan Fals: Pelajaran Hidup. Greatmind.id. Diakses tanggal 7 Agustus 2025.
  4. Analisis Pesan Moral dalam Lirik Lagu Iwan Fals. Digilib Unismuh Makassar. Diakses tanggal 7 Agustus 2025.
  5. 5,0 5,1 Sosok Mohammad Hatta bagi Iwan Fals dan Pengakuan soal Lagu "Bung Hatta". Kompas.com. Diakses tanggal 7 Agustus 2025.
  6. Iwan Fals dan Dul Jaelani Sambut Transformasi Digital. Tempo.co. Diakses tanggal 7 Agustus 2025.
  7. 7,0 7,1 Kenang Anaknya yang Sudah Meninggal, Iwan Fals Ungkap Arti Nama Galang Rambu Anarki. Merdeka.com. Diakses tanggal 7 Agustus 2025.


Pranala luar

[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Tokoh
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z