Ingrid Mattson
Tampilan
Ingrid Mattson (lahir 24 Agustus 1963) adalah aktivis, profesor, dan mualaf Muslim Kanada dan juga mantan presiden Masyarakat Islam Amerika Utara. Dia lahir dan dibesarkan di Kitchener, Ontario, dan belajar filsafat dan seni rupa di Universitas Waterloo, Ontario. [1]

Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “To be awake to God, while awake to the world, is the goal of seekers of the Divine.” Artinya: "Untuk selalu sadar akan Tuhan, sekaligus sadar akan dunia, adalah tujuan para pencari Keilahian."[2]
- "I don’t have a concrete plan, but I have a hope and also speaking to people about it. What I’m waiting for is for the institutions to mature themselves. Accreditation should flow out from practice as much as how other organizations are doing it. It should be a combination of looking at best practices that currently exist -for other seminaries and schools- but should also be fed by the experiences of those schools themselves. Otherwise there won’t be a lot of buy in. If we have another 3 to 4 years or so of these schools [Respect Graduate school], we will be at this stage where we can reflect back on performance, and what we need to look at to regulate…not regulate, but design: ethics, oversight, supervision, goals, etc." Artinya: "Saya tidak memiliki rencana konkret, tetapi saya memiliki harapan dan juga telah berbicara dengan banyak orang tentang hal ini. Yang saya tunggu adalah kematangan lembaga-lembaga tersebut. Akreditasi seharusnya mengalir dari praktik, sama seperti yang dilakukan oleh organisasi lain. Seharusnya merupakan kombinasi dari melihat praktik terbaik yang saat ini ada -untuk seminari dan sekolah lain- tetapi juga harus didasarkan pada pengalaman sekolah-sekolah itu sendiri. Jika tidak, tidak akan ada banyak dukungan. Jika kita memiliki sekitar 3 hingga 4 tahun lagi untuk sekolah-sekolah ini [Sekolah Pascasarjana Respect], kita akan berada pada tahap di mana kita dapat merefleksikan kembali kinerja, dan apa yang perlu kita perhatikan untuk mengatur…bukan mengatur, tetapi merancang: etika, pengawasan, supervisi, tujuan, dll."[3]
- "Well we definitely need expertise, professionalism, but Sunni Islam generally, has resisted anything. There is nothing like ordination in the sense of becoming someone else. Ontologically a scholar becomes someone different from ordinary people. They have knowledge, they have skills, and they have training, and they should be respected in their tradition. But there should be a transparency in the basis from which they are making decisions. Transparency where they [Imams, for instance] can point to an authority that does not lie within themselves, but from the texts where they are speaking from." Artinya: "Tentu saja kita membutuhkan keahlian dan profesionalisme, tetapi Islam Sunni secara umum menolak hal tersebut. Tidak ada yang namanya penahbisan dalam arti menjadi orang lain. Secara ontologis, seorang ulama menjadi seseorang yang berbeda dari orang biasa. Mereka memiliki pengetahuan, keterampilan, dan pelatihan, dan mereka harus dihormati dalam tradisi mereka. Tetapi harus ada transparansi dalam dasar pengambilan keputusan mereka. Transparansi di mana mereka [para Imam, misalnya] dapat merujuk pada otoritas yang bukan berasal dari diri mereka sendiri, tetapi dari teks-teks yang mereka gunakan sebagai acuan."[3]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "https://www.britannica.com/biography/Ingrid-Mattson". ;
- ↑ "Ingrid Mattson Quotes (Author of The Story of the Qur'an)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-13.
- ↑ 3,0 3,1 "Islamic Graduate School Accreditation- An Interview with Dr. Ingrid Mattson". HuffPost (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-13.