Imaz Fatimatuz Zahra
Tampilan
Biografi
[sunting | sunting sumber]Imaz Fatimatuz Zahra atau yang dikenal dengan Ning Imaz lahir pada tahun 1985. Ning Imaz merupakan putri dari pasangan KH Abdul Khaliq Ridwan dan Nyai Hj Eeng Sukaenah. Keduanya merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Ning Imaz merupakan istri dari Pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikmah Kaliwungu Kendal, yaitu Gus Rifqil Muslim Suyuthi. Ning Imaz merupakan pendakwah perempuan dan sering berbagi ilmu. Mulai dari masalah ibadah, hukum fiqih, gender dalam pandangan agama islam, parenting, bahkan Politik.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “Kepada kaum muda: Bahaya sesungguhnya bukan dari mereka yang menyerangmu saat ini. Karena mereka lemah. Bahaya sesungguhnya datang dari nafsu hasrat jiwamu yang rendah.”[2]
- “Orang itu ada dua. ‘Mau’ dan ‘Tidak Mau’. Jika mau, dia akan menemukan jalan. Dan jika dia tidak mau, dia akan menemukan alasan.”[2]
- “Menyadari kelemahan diri kita sendiri, belajar membuat batasan, dan memiliki prinsip yang jelas. Ketika kita tegas dengan prinsip itu, maka orang lain akan menghargainya.”
- “Wanita bisa meraih apapun yang dia inginkan asalkan diwaktu muda, ia menjauhi dua hal; tidak memikirkan laki-laki dan tidak risau dengan usia.”
- “Jadilah wanita dengan high value. Memiliki nilai yang tidak digantungkan pada fisik, tetapi pada prinsip yang dia pegang yaitu ilmu, akhlak dan hati yang baik. Fokuskan pada pengembangan diri. Nanti akan mendapat pasangan yang sesuai dengan frekuensi yang kita radiasikan.”
- "Dalam islam, rumah tangga dibangun diatas pondasi “takamul” (saling melengkapi), “tarahum” (saling menyayangi) dan “ta’awun” (saling tolong-menolong) bukan diatas pondasi “Shira” (pertentangan) atau menang-menangan."[2]
- “Perempuan yang anggun akan menghindari drama. Karena ia tau, waktu dan energinya berharga. Alih-alih berada di roller coaster emotional yang konstan, ia bangkit dan melampauinya. Ia selalu belajar mengendalikan diri dan mengatur sikap.”
- “Perempuan yang dituntun sekaliguas diberi rasa berdaya dalam menentukan arah hidupnya, akan belajar menentukan batas-batas. Kemudian menyadari bahwa signifikansi dalam hidup bukanlah kebebasan yang kebablasan. Melainkan komitmennya untuk hidup di dalam batas-batas yang ada, yang ia pilih dengan sadar dan sukarela.”
- “Perempuan itu memiliki kiprah keistimewaannya sendiri dan mampu menjadi seorang yang bermanfaat jika digali dan juga dimaksimalkan potensinya.”
- “Pria yang salah dalam hidupmu akan membuatmu sadar bahwa kamu bisa melakukan semuanya sendiri. Tapi pria yang tepat untukmu meski tahu kamu bisa, ia tidak akan membiarkan itu.”[2]
- “Wibawa seorang wanita tak ditentukan oleh gaya hidupnya, namun isi kepalanya .”
- “Maknai segala sesuatu dengan penuh rasa syukur, maka dari situlah kebahagiaan kita akan semakin banyak. Karna kalau seseorang hatinya punya rasa syukur, hatinya lapang, sudut pandangnya positif terhadap segala sesuatu, maka dia akan mampu menerima kapasitas kebahagiaan yang lebih besar.”
- “Sabar secara bahasa artinya tahan. Tahan terhadap segala macam dinamika kehidupan. Bukan berarti pasif, lemah dan tidak berdaya. Sabar artinya kuat untuk bertahan sekalipun badai menerjang. Tetap berjuang sekalipun berulangkali dijatuhkan. Orang sabar itu engga ngenes, tertindas dan lemah. Sabar itu kuat, sabar itu tidak patah semangat.”
- “Jangan jadikan pernikahan sebagai orientasi hidup. Karena menikah adalah bagian dari kehidupan, bukan tujuan hidup.”[3]
- “Menyadari kelemahan diri kita sendiri, belajar membuat batasan, dan memiliki prinsip yang jelas. Ketika kita tegas dengan prinsip itu, maka orang lain akan menghargainya.”
- “Sesungguhnya kesantunan dan kebaikanlah yang menentukan kemanusiaan seseorang. Sesungguhnya orang lembutlah yang memiliki kekuatan dan keberanian.”
- “Hidup bersama dalam damai adalah tentang menerima perbedaan, dan kesediaan untuk mendengarkan, mengenali, menghormati, dan menghargai orang lain. Lebih dari sebelumnya, keragaman merupakan kenyataan yang memperkaya kehidupan umat manusia.”[3]
Sumber
[sunting | sunting sumber]- ↑ Rahmawati, Dina (2022-09-15). "Profil Ning Imaz, Anak Pengasuh Ponpes Lirboyo Kediri". DetikJatim. Diakses tanggal 2025-11-30.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 "Kumpulan Dawuh Ning Imaz Fatimatuz Zahra". Ulama Nusantara Center. 2022-06-29. Diakses tanggal 2025-11-30.
- ↑ 3,0 3,1 Guru, Dawuh (2022-12-30). "Fatimatuz Zahra yang Menginspirasi". Dawuh Guru. Diakses tanggal 2025-11-30.