Ika Natassa
Tampilan
Ika Natassa adalah penulis dan bankir Indonesia yang lahir di Medan, 25 Desember 1977. Ika mulai dikenal luas sejak memulai karier kepenulisannya pada tahun 2006. Ia juga penulis yang dikenal dengan karya berjudul Critical Eleven. Sebelum menjadi penulis, Ika Natassa merupakan seorang karyawan satu dari bank di Indonesia, Bank Mandiri.[1][2]
Beberapa karyanya berjudul A Very Yuppy Wedding (2007), Antologi Rasa (2011), Twivortiare (2012), Critical Eleven (2015), The Architecture of Love (2016). Beberapa bahkan diadaptasi menjadi film layar lebar, seperti Critical Eleven (2017), An Anthology of Feelings (2019), Twivortiare (2019).[3]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Karena kecanggungan tidak pernah ada di antara dua orang yang tidak ada apa-apanya. So maybe there is something between us."
- "Orang yang membuat kita paling terluka biasanya adalah orang yang memegang kunci kesembuhan kita."
- "Kalau memang benar-benar sayang dan cinta sama perempuan, jangan bilang rela mati buat dia. Justru harusnya kuat hidup buat dia. Rela mati sih gampang, dan bego."
- "Berani menjalin hubungan berarti berani menyerahkan sebagian kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Menerima fakta bahwa sebagian dari rasa kita ditentukan oleh orang yang menjadi pasangan kita."
- "It's easy to find someone whom you can laugh with, but it's not easy to find someone whom you can endure the sadness together with."[3]
- “Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. Whatever happens is neither good nor bad, it just happens.”
- “Aku pernah baca ekspektasi bisa membunuh semua kesenangan. It's even said that expectation is the root of all disappoitments. Kadang hidup lebih menyenangkan saat kita tidak punya ekspektasi apa-apa. Whatever happens is neither good or bad. It just happens.”
- “But life is a series of coincidence anyway, right? Dan nggak semua kebetulan itu harus punya makna.”
- “Di tempat yang paling seru sekalipun, kita pasti punya batas kebetahan di situ. We need an escape plan, penting punya pilihan untuk pergi kapan pun kita mau.”
- “Banyak teori yang membahas seberapa besar sebenarnya kapasitas otak kita, tapi tidak ada yang pernah membahas kapasitas hati.”[4]
- “Kita tidak pernah bisa mengontrol apa yang dibicarakan orang tentang kita, tapi seharusnya kita punya pilihan untuk memposisikan diri, apakah mau mendengarkan atau tidak."
- "Saling mencintai saja tidak cukup. Itu tidak akan berhasil sampai kami menyadari bahwa kami saling membutuhkan."
- "Commitment is a funny thing, you know? It’s almost like getting a tattoo. You think and you think and you think before you get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep."
- "Kita gak bisa maksain orang supaya sama kayak kita. Terima aja perbedaan itu sebagai perbedaan kepribadian."
- “Tahukah kamu apa salahnya selalu mencari jawaban atas sesuatu yang terjadi di masa lalumu? Itu membuat kamu tidak bisa melihat ke depan.”[5]
- "Setiap detik yang kamu habiskan untuk marah atau kecewa adalah detik kebahagiaan yang tak akan bisa kamu dapatkan kembali"
- "Adanya kita tidak utuh tanpa ingatan. Kita sebenarnya tidak punya kendali untuk memilih mana yang bisa terus kita ingat, dan mana yang bisa kita lupakan."
- "Waktu adalah satu-satunya hal di dunia ini yang terukur dengan skala sama bagi semua orang, tapi memiliki nilai berbeda bagi orang yang sedang sesak napas kena serangan asma, dengan orang yang sedang dimabuk cinta."
- "Ada banyak hal dalam hidup ini yang mungkin tidak akan dimengerti orang-orang yang belum mengalaminya."
- "Namun jika sudah takdir, nggak akan ada yang bisa menghentikan seluruh semesta ini berkonspirasi untuk membuat yang harusnya terjadi itu terjadi."[6]
- “Menjadi orang dewasa berarti berani menghadapi perasaan sendiri dan menjalani resikonya.”
- “Just because someone doesn’t love you the way you want him to, doesn’t mean he doesn’t love you with everything he has. | Learned that the hard way.”
- “People are human, not some machine we can control. Main rule-nya: jangan jadiin differences itu alasan untuk ngeluarin emosi dan starting a conflict.”
- “Instead of being fascinated by the things around us, we now try so hard to fascinate others by the things on us.”
- “The simplest things in life are what makes us happy eventually. A warm and comfy home, being loved, and knowing that somebody can’t live without you.”[7]
- “Jika semua hal di muka bumi ini diatur oleh takdir, apakah pertemuan dan perpisahan juga harus takluk pada takdir?” https://www.gramedia.com/products/satine
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Profil Ika Natassa - Penulis Novel & Bankir". Tribun Video. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ "Biografi Ika Natassa, Dari Bankir Menjadi Penulis Terkenal". Penerbit Bukunesia. 2024-12-20. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ 3,0 3,1 Ramadhan, Iqbal (2025-02-11). "10 Quotes Cinta Ika Natassa yang Bikin Baper". Popmama.com. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ Fimela.com (2023-11-21). "15 Kutipan Bijak Novel Critical Eleven Karya Ika Natassa yang Menguatkan Hati". fimela.com. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ Silitonga, Klara Livia (2024-05-07). "20 Quotes Ika Natassa dari Berbagai Novelnya, Menyentuh Hati". IDN Times. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ brilio.net (2020-01-17). "40 Kata-kata quote bijak Ika Natassa, tegas dan penuh makna". brilio.net. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ "Ika Natassa Quotes (Author of Critical Eleven)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-02.
8. Buku Satine https://www.gramedia.com/products/satine Di akses 2025-12-21