Han Kang
Tampilan
Han Kang (lahir 27 November 1970, Gwangju, Korea Selatan) adalah seorang penulis dan novelis Korea Selatan yang diakui secara internasional dan merupakan penulis Korea Selatan pertama yang memenangkan Hadiah Nobel Sastra pada tahun 2024. Komite Nobel memujinya "atas prosa puitisnya yang intens yang menghadapi trauma historis dan mengungkap kerapuhan kehidupan manusia." Dikenal karena fiksi eksperimentalnya yang sering membahas kapasitas kekerasan umat manusia, karya-karya terkenalnya meliputi novel The Vegetarian (2007) yang memenangkan International Booker Prize (2016) dan Human Acts (2014), serta The White Book (2016).[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Each time I work on a novel, I endure the questions, I live inside them. When I reach the end of these questions – which is not the same as when I find answers to them – is when I reach the end of the writing process. By then, I am no longer as I was when I began, and from that changed state, I start again. The next questions follow, like links in a chain, or like dominoes, overlapping and joining and continuing, and I am moved to write something new.[2]
- Setiap kali saya mengerjakan sebuah novel, saya menahan pertanyaan-pertanyaan, saya hidup di dalamnya. Ketika saya mencapai penghujung dari pertanyaan-pertanyaan tersebut – yang tidak sama dengan ketika saya menemukan jawabannya – saat itulah saya mencapai akhir dari proses penulisan. Pada saat itulah, saya tidak lagi seperti ketika saya memulai menulis, dan dari perubahan keadaan tersbut itulah, saya memulai kembali. Pertanyaan-pertanyaan berikutnya menyusul, seperti tautan dalam rantai, atau seperti domino, saling tumpang tindih dan berkelindan serta berlanjut, dan saya tergerak untuk menulis sesuatu yang baru.[2]
- The question I wanted to ask here was this: Could it be that by regarding the softest aspects of humanity, by caressing the irrefutable warmth that resides there, we can go on living after all in this brief, violent world?[2]
- Pertanyaan yang ingin saya ajukan di sini adalah ini: Mungkinkah dengan menghargai aspek-aspek paling lembut dari kemanusiaan, dengan membelai kehangatan tak terbantahkan yang bersemayam di sana, kita dapat terus melanjutkan hidup di dunia yang singkat dan penuh kekerasan ini?[2]
- I had long lost a sense of deep-rooted trust in humans. How, then, could I embrace the world? I had to face this impossible conundrum if I meant to move forwards, I realised. I understood that writing was my only means of getting through and past it.[2]
- Saya telah lama kehilangan rasa percaya yang mendalam pada manusia. Lalu, bagaimana saya bisa merangkul dunia? Saya menyadari bahwa saya harus berhadapan dengan teka-teki yang mustahil jika saya ingin melangkah maju. Saya mengerti bahwa menulis adalah satu-satunya cara saya untuk melewati dan melampaui hal tersebut.[2]
- During this period of researching my novel, two questions were often foremost in my mind. Back in my mid-twenties, I had written these lines on the first page of every new diary: Can the present help the past? Can the living save the dead? [2]
- Selama periode penelitian untuk penulisan novel saya ini, dua pertanyaan utama yang seringkali muncul dalam benak saya. Dulu, di pertengahan usia dua puluhan, saya pernah menulis baris-baris ini di halaman pertama setiap pergantian buku harian : Bisakah masa kini membantu masa lalu? Bisakah yang hidup menyelamatkan yang mati? [2]
- Later, as I was writing what would become Human Acts, I sensed at certain moments that the past was indeed helping the present, and that the dead were saving the living. I would revisit the cemetery from time to time, and somehow the weather would always be clear. I would close my eyes, and the sun’s orange rays would suffuse my lids. I felt it as life’s own light. I felt the light and air envelop me in indescribable warmth.[2]
- Kemudian, saat saya menulis apa saja yang dapat menjadi Human Acts, sesekali saya merasakan bahwa masa lalu memang membantu masa kini, dan bahwa orang mati sedang menyelamatkan yang hidup. Saya akan mengunjungi kembali pemakaman dari waktu ke waktu, dan entah mengapa cuaca akan selalu cerah. Saya akan memejamkan mata, dan sinar jingga matahari akan membanjiri kelopak mata saya. Saya merasakannya sebagai cahaya kehidupan itu sendiri. Saya mengenyam cahaya dan udara yang menyelimuti saya dalam kehangatan yang tak terlukiskan.[2]
- What might be behind that anguish? Is it that we want to put our faith in humanity, and when that faith is shaken, we feel as though our very selves are being destroyed? Is it that we want to love humanity, and this is the agony we feel when that love is shattered? Does love beget pain, and is some pain evidence of love? [2]
- Apa yang mungkin hadir di balik penderitaan tersebut? Apakah karena kita ingin menepatkan keyakinan kita pada kemanusiaan, dan ketika keyakinan itu terguncang, kita merasa seolah-olah diri kita sendiri sedang dihancurkan? Apakah karena kita ingin mencintai kemanusiaan, dan siksaan inilah yang kita rasakan ketika cinta itu remuk redam? Apakah cinta menimbulkan rasa sakit, dan apakah sebagian rasa sakit tersebut adalah bukti keberadaan cinta? [2]
- Life seeks to live. Life is warm. To die is to grow cold. To have snow settle over one’s face rather than melt. To kill is to make cold. Humans in history and humans in the cosmos. The wind and the ocean currents. The circular flow of water and air that connects the entire world. We are connected. I pray that we are connected. [2]
- Nafas kehidupan meronta ingin berdenyut. Hidup bersemayam dalam kehangatan. Kematian adalah perlahan mendingin. Salju melingkupi wajah, enggan mencair. Membunuh adalah membekukan jiwa. Manusia terukir dalam sejarah, manusia bersemayam dalam kosmos. [2] Angin dan gelombang samudera. Pusaran air dan udara yang menjalin seluruh dunia. Kita saling terhubung. Aku berdoa semoga kita selalu berpaut.[2]
- How far will those souls go – the ones that pooled into a deep orange glow behind the closed lids of my eyes, that enveloped me in that ineffably warm light? How far will the candles travel – the ones lit at the site of every killing, in every time and place laid to waste by unfathomable violence, the ones held by the people who vow never to say goodbye? Will they ride from wick to wick, from heart to heart, on a thread of gold? [2]
- Sejauh mana jiwa-jiwa tersebut akan melangkah – jiwa yang menyatu menjadi pendar jingga pekat di balik kelopak mataku yang terpejam, yang menyelimutiku dalam cahaya hangat tak terucapkan? Sampai dimana suluh jiwa akan berkelana – yang dinyalakan di setiap lokasi pembunuhan, di setiap masa dan tempat yang luluh lantak oleh kekejaman tak terduga, yang dipegang oleh orang-orang yang bersumpah takkan pernah mengucapkan kata perpisahan? Akankah mereka berkelana dari jiwa yang satu dengan lainnya, dari hati ke hati, di jalinan benang emas? [2]
- When I was writing, it felt as if I was getting closer and closer, day by day, to a certain part inside us which cannot be destroyed, which cannot be or harmed.[3]
- Ketika saya menulis, terasa seolah-olah saya semakin mendekat, hari demi hari, menuju bagian tertentu di dalam diri kita yang tidak dapat dihancurkan, yang tidak dapat dilukai.[3]
- It is intriguing to see the subtle differences in interpretation between various cultures and generations, but what strikes me even more is the way the novel has been received in general. For example, it has been more embraced and understood by female readers everywhere.[4]
- Sungguh menarik untuk melihat minimnya perbedaan interpretasi antara berbagai budaya dan generasi, tetapi yang lebih mengejutkan saya adalah bagaimana novel ini diterima secara umum. Misalnya, novel ini lebih diterima dan dipahami oleh pembaca perempuan di mana pun.[4]
- The challenging task for any translator is to navigate through this dark tunnel of loss and find the closest equivalents or analogies to be as faithful as possible to the original text. [4]
- Pekerjaan yang menantang bagi setiap penerjemah adalah meminimalisir terjadinya kesalahan penerjemahan dan menemukan padanan atau analogi yang mendekati dan selaras dengan makna dari teks aslinya.[4]
- When I write fiction, I put a lot of emphasis on the senses. I want to convey vivid senses like hearing and touch, including visual images. I infuse these sensations into my sentences like an electric current, and then, strangely enough, the reader discerns that current. [4]
- Ketika saya menulis fiksi, saya memberi banyak penekanan pada pengindraan. Saya ingin menyampaikan pengindraan senyata mungkin seperti pendengaran dan sentuhan, termasuk citra visual. Saya menyalurkan sensasi-sensasi ini ke dalam kalimat-kalimat yang saya tulis laksana getaran listrik, dan kemudian, anehnya, pembaca dapat merasakan getaran tersebut.[4]
Sumber Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Han Kang | Biography, Books, Nobel Prize, & Facts | Britannica (dalam bahasa Inggris).
- ↑ 2,00 2,01 2,02 2,03 2,04 2,05 2,06 2,07 2,08 2,09 2,10 2,11 2,12 2,13 2,14 2,15 2,16 "Nobel Prize in Literature 2024". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 3,0 3,1 Beckerman, Hannah (2017-12-17). Han Kang: ‘If I was 100% healthy I couldn’t have become a writer’ (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 "Han Kang interview: 'I never imagined The Vegetarian would find so many readers' | The Booker Prizes". thebookerprizes.com (dalam bahasa Inggris). 2023-07-28. Diakses tanggal 2025-12-03.