Lompat ke isi

Hamida Aman

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Hamida Aman adalah seorang jurnalis dan pengusaha media asal Afghanistan, pendiri Awaz Communication dan Radio Begum yang dikhususkan untuk perempuan.[1] Ketika anak perempuan Afghanistan ditolak aksesnya ke pendidikan menengah oleh Taliban, pengusaha media Hamida Aman memutuskan untuk meluncurkan Begum Academy, ruang daring yang menawarkan kursus multimedia gratis bagi siswa yang tidak dapat bersekolah [2] Pada tahun lalu, platform pendidikan tersebut telah menyediakan lebih dari 8.500 video dalam bahasa Dari dan Pashto, yang mencakup kurikulum sekolah untuk kelas tujuh hingga 12.[2] Pada bulan Maret, Aman meluncurkan Begum TV, saluran pendidikan yang menyiarkan kursus-kursus Begum Academy melalui satelit.[2] Layanan ini dipublikasikan menyusul proyek Radio Begum miliknya, sebuah stasiun yang dibuat oleh perempuan, untuk perempuan, yang dibuat setelah Taliban kembali berkuasa pada 2021.[2]


  • By keeping our radio on, by keeping our voices loud, we are resisting.[3]
  • Dengan tetap menyalakan radio kami, menjaga suara kami tetap lantang, kami sedang melakukan perlawanan.[3]
  • We are never alone in our fight for peace and justice. Each act of support, each voice that joins ours, gives Afghan women strength to continue believing in a better future.[4]
  • Kita tidak pernah sendirian dalam perjuangan untuk perdamaian dan keadilan. Setiap dukungan, setiap suara yang bergabung dengan kami, memberi kekuatan bagi perempuan Afghanistan untuk terus percaya pada masa depan yang lebih baik.[4]
  • You can't erase thirty years of chaos in ten. But these ten years have shown Afghans that another, freer life is possible. And once a people has tasted freedom, it becomes harder to subdue them.[5]
  • Anda tidak bisa menghapus tiga puluh tahun kekacauan hanya dalam sepuluh tahun. Namun jangka waktu sepuluh tahun tersebut telah menunjukkan kepada rakyat Afghanistan kemungkinan kehidupan lain yang lebih bebas. Dan begitu suatu bangsa merasakan kebebasan, akan semakin sulit untuk menundukkan mereka.[5]
  • Initially, when we launched the radio station, it was mainly city women. But we're getting more and more women from rural areas who are finding their courage; they've had enough. They're daring to speak out, even though they're the women who are given the least opportunity to speak.[6]
  • Awalnya, ketika kami meluncurkan stasiun radio, pendengarnya terutama perempuan di perkotaan. Tetapi kini semakin banyak perempuan dari pedesaan yang mulai menemukan keberanian mereka; mereka merasa sudah cukup. Mereka berani bersuara, meskipun merekalah yang paling sedikit diberi kesempatan untuk berbicara.[6]
  • Concentrate on the things you do well every day; note your strengths and focus on every opportunity that comes your way.[7]
  • Fokuslah pada hal-hal yang kamu bisa lakukan dengan baik setiap hari; catat kekuatanmu dan pusatkan perhatian pada setiap peluang yang menghampirimu.[7]
  • Natürlich bemühen wir uns, niemanden zu provozieren, nicht Partei zu ergreifen, nicht zu kritisieren; aber wenn wir unseren Hörerinnen das Wort lassen, haben die das Recht, alles zu sagen, was sie auf dem Herzen haben.[8]
  • Tentu saja kami berusaha untuk tidak memprovokasi siapa pun, tidak memihak, tidak mengkritik; tetapi ketika kami memberi ruang bagi para pendengar perempuan kami untuk berbicara, mereka berhak mengatakan apa pun yang mereka pendam.[8]
  • “Kami masih ada, menulis dan bertahan menunggu hari ketika kebebasan berekspresi kembali tumbuh di negara ini, dan ketika kami dapat merebut kembali hak kami sebagai separuh tubuh masyarakat,”[9]
  • “Saya berharap dunia sungguh-sungguh mendengar suara perempuan Afghanistan bukan hanya melalui pernyataan hambar, konferensi yang sia-sia, atau kecaman yang berulang. Kami, perempuan Afghanistan, membutuhkan organisasi hak asasi manusia dan hak perempuan untuk mendengarkan kami dengan sepenuh hati dan mengambil tindakan nyata yang berarti”[9]
  • "Kami tidak menyerah," [10]
  • "Kami harus menunjukkan bahwa kami tidak perlu takut. Kami harus menempati ruang publik," kata Aman, yang kembali setelah penggulingan rezim pertama Taliban pada 2001 oleh pasukan asing pimpinan Amerika Serikat (AS).[10]
  • Suara seorang wanita adalah identitasnya, bukan sesuatu yang harus disembunyikan.[11]
  • “Kita harus terus menyuarakan aspirasi rakyat Afghanistan dan mendorong perubahan nyata. Pekerjaan kami membutuhkan dukungan.”[12]
  • Di balik keterbatasan, siaran Tabasum menjadi bukti bahwa media dapat menjadi alat pemberdayaan. Program ini membawa suara perempuan Afghanistan ke ruang publik global, menembus batasan yang diberlakukan otoritas de facto.[12]

Daftar Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Hamida Aman. 2025-11-13.
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 author, author (2024-12-03). "BBC 100 Women 2024: Siapa saja yang masuk daftar tahun ini?". Kanal BBC 100 women. Diakses tanggal 2025-12-28.
  3. 3,0 3,1 Resilience amidst adversity: Hamida Aman, founder of women-led radio Begum, empowering Afghan women’s voices (dalam bahasa Inggris).
  4. 4,0 4,1 Soroptimist (2025-10-30). "Hamida Aman Receives the Soroptimist International of Europe Peace Prize 2025". Soroptimist Europe (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-19.
  5. 5,0 5,1 Hamida Aman, à la tête de Kaboulywood - Le Temps (dalam bahasa Prancis). 2014-04-13. ISSN 1423-3967.
  6. 6,0 6,1 JBG (2024-04-15). "Hamida Aman : "On émet depuis Kaboul vers les provinces"". Sud Radio (dalam bahasa Prancis). Diakses tanggal 2025-11-19.
  7. 7,0 7,1 "From Paris, Begum TV offers Afghan women 'window onto the world'". France 24 (dalam bahasa Inggris). 2025-02-19. Diakses tanggal 2025-11-19.
  8. 8,0 8,1 "Mitten in Afghanistan: ein Frauenradio - Vatican News". www.vaticannews.va (dalam bahasa Jerman). 2023-03-22. Diakses tanggal 2025-11-19.
  9. 9,0 9,1 "Perjuangan Jurnalis Perempuan Afghanistan di Bawah Kekuasaan Taliban". independen.id (dalam bahasa Inggris). 2025-11-28. Diakses tanggal 2025-12-20.
  10. 10,0 10,1 BeritaSatu.com. "Radio Wanita Afghanistan Bertahan dalam Aturan Taliban". beritasatu.com. Diakses tanggal 2025-12-20.
  11. harian.disway.id. "Perempuan Makin Tak Berdaya di Bawah Kekuasaan Taliban, Dunia Tak Mampu Berbuat Banyak". harian.disway.id. Diakses tanggal 2025-12-20.
  12. 12,0 12,1 Widya, Hana Ratri Septyaning. "Inspiratif, Dika Akbari Angkat Suara Perempuan Afghanistan Lewat Siaran Televisi di Paris". Media Purwodadi. Diakses tanggal 2025-12-20.