Lompat ke isi

Gloria Steinem

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Gloria Steinem adalah penulis, aktivis politik, dan penggiat feminis yang mendirikan majalah Ms. serta banyak lembaga untuk kesetaraan gender dan hak asasi manusia.[1]

  • The first problem for all of us, men and women, is not to learn, but to unlearn. We are filled with popular wisdom of several centuries just past, and we are terrified to give it up. [2]
  • Masalah pertama bagi kita semua, laki-laki maupun perempuan, bukanlah belajar, tetapi melepaskan apa yang telah dipelajari. Kita dipenuhi oleh kebijaksanaan populer berabad-abad yang lampau, dan kita takut sekali untuk melepaskannya.[2]
  • We’ll never solve the feminization of power until we solve the masculinity of wealth. [3]
  • Kita tidak akan pernah menyelesaikan feminisasi kekuasaan sampai kita menyelesaikan maskulinitas kekayaan.[3]
  • I want to see women paid equally and treated with respect in all ways at all ages. (Saya ingin melihat perempuan dibayar secara setara dan diperlakukan dengan hormat dalam segala hal di setiap tingkatan usia.)[3]
  • There are also what are called cultural barriers, but I’m not sure we should call them cultural, because it seems to me what affects men is called political and what affects women is called cultural. [4]
  • Ada juga yang disebut sebagai hambatan budaya, tetapi saya tidak yakin kita seharusnya menyebutnya budaya, karena bagi saya, apapun yang memengaruhi laki-laki disebut politik, dan apapun yang memengaruhi perempuan disebut budaya.[4]
  • The deeper problem is that we are still raised as children, mainly by women, so we associate female authority with childhood. (Masalah yang lebih mendalam adalah kita masih dibesarkan sebagai anak-anak terutama oleh perempuan, sehingga kita mengaitkan otoritas perempuan dengan masa kanak-kanak.)[4]
  • It doesn't matter what word we use, if it has the same content, it will be treated in the same way. There are other words, there's 'womanist,' there's "Mujerista", there's women's liberationist,' all mean the same thing and they get the same ridicule. I think we just need to choose what word we feel comfortable with that says women are full human beings, and whatever that word is, it will get a lot of opposition. But it will also attract a lot of support. But this is a revolution, not a public relations movement.[5]
  • Tidak masalah apapun kata yang kita gunakan jika isinya sama, kata itu akan diperlakukan dengan cara yang sama. Ada kata lain seperti “womanist,” “mujerista,” atau “women’s liberationist”; semuanya berarti hal yang sama dan semuanya mendapat cemoohan yang sama. Saya pikir kita hanya perlu memilih kata yang membuat kita merasa nyaman, yang menyatakan bahwa perempuan adalah manusia seutuhnya, dan apa pun kata itu, ia akan mendapat banyak penentangan. Namun ia juga akan menarik banyak dukungan. Karena ini adalah sebuah revolusi, bukan gerakan hubungan masyarakat.[5]
  • Some people live in the past, some people live in the present, which is probably the most rewarding, and some people live in the future. I live in the future, so I am always thinking, 'What if?' or 'This could be' or 'This could change' or trying to understand why something happens. The great joy to me is that moment-that 'aha!-when you think, 'Oh, that's why!' That excitement and pleasure in realizing why something is happening, how it could be different, that definitely keeps me going. [5]
  • Beberapa orang hidup di masa lalu, beberapa orang hidup di masa kini; yang mungkin paling memuaskan; dan beberapa orang hidup di masa depan. Saya hidup di masa depan, jadi saya selalu berpikir, “Bagaimana jika?” atau “Ini bisa menjadi sesuatu,” atau “Ini bisa berubah,” atau mencoba memahami mengapa sesuatu terjadi. Kebahagiaan terbesar bagi saya adalah momen “aha!” yaitu ketika kita berpikir, “Oh, jadi itu alasannya!” Kegembiraan dan rasa puas saat menyadari mengapa sesuatu terjadi, dan bagaimana hal itu bisa berbeda, benar-benar membuat saya terus berjalan.[5]

Daftar Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Gloria Steinem". Gloria Steinem (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-15.
  2. 2,0 2,1 "Gloria Steinem". The Decision Lab (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.
  3. 3,0 3,1 3,2 "Our Afternoon with Gloria Steinem | Milken Institute". milkeninstitute.org (dalam bahasa Inggris). 2025-04-16. Diakses tanggal 2025-11-15.
  4. 4,0 4,1 4,2 Joshi, Angela (2018-02-04). "Interview with Gloria Steinem". What Will It Take (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-15.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 "Celebrating Gloria Steinem's 80th Birthday". Feminist.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.