Lompat ke isi

Febriana Firdaus

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Febriana Firdaus adalah jurnalis investigatif dan pembuat film dokumenter asal Indonesia yang sering menyoroti isu-isu sensitif seperti diskriminasi LGBT, konflik Papua, dan peristiwa 1965–66.[1]

  • Seorang jurnalis tidak bekerja untuk negara dan tidak menjadi agen kampanye identitas nasional mana pun. Ia bekerja untuk mencari fakta di lapangan, mengungkap apa yang tidak diungkap di publik, menyajikan pemberitaan yang tidak melanggar nilai-nilai kode etik jurnalistik yang setia pada akurasi dan kebenaran yang fungsional.[2]
  • Kita seharusnya skeptis ketika “NKRI harga mati” dipakai untuk menyudutkan orang-orang Papua yang ingin menyuarakan pelanggaran HAM di tanahnya. Bahwa mungkin saja “NKRI harga mati” hanyalah ingatan kita yang keliru dari pelajaran sekolah yang kita dapatkan di zaman Orde Baru.[2]
  • Hanya dengan kualitas jurnalisme yang patuh terhadap kode etik, jurnalisme mampu memberikan sumbangsihnya untuk kemanusiaan, terutama di Papua. Karena tujuan jurnalis hanya satu: menyampaikan kebenaran.[2]
  • Perlu adanya kesetaraan gender, baik pada saat menulis berita maupun di ruang redaksi. Hal ini terkait proses pendekatannya dengan narasumber pada saat melakukan wawancara. Terutama untuk membuka hal traumatis dalam perjuangan para perempuan. [3]
  • Can we just stop publishing stories on the matter of the tourist gaze? This is so wrong at many levels of journalism.[4]
  • Bisakah kita berhenti memublikasikan cerita yang penting dalam sudut pandang turis? Hal ini sangat salah di berbagai level jurnalisme.[4]
  • Across Indonesia, I found women who cared for their families, and who understood profoundly the importance of rainforests, mountains and land for the survival of their communities. Everywhere, the natural world was given feminine form, and women were fighting for it.[5]
  • Di seluruh Indonesia, saya menemukan perempuan yang merawat keluarga mereka, dan sangat memahami pentingnya hutan hujan, gunung, dan tanah bagi kelangsungan hidup komunitas mereka. Di mana-mana, alam digambarkan dalam bentuk feminin, dan perempuan memperjuangkan keberadaannya.[5]
  • There is no measurement or quota that can be reached guarantee women’s issue will be prioritised. Because even when a woman becomes a lawmaker, does it mean she has a perspective on women’s issues? [6]
  • Tidak ada ukuran atau kuota yang bisa menjamin isu perempuan akan diprioritaskan. Bahkan ketika seorang perempuan menjadi pembuat undang-undang, apakah itu berarti dia memiliki perspektif tentang isu-isu perempuan? [6]
  • Perhaps politicians are well educated, but not open-minded and brave enough to speak up to support minorities.[7]
  • Mungkin para politikus berpendidikan tinggi, tetapi tidak cukup berpikiran terbuka dan berani bersuara mendukung kelompok minoritas.[7]
  • Berbicara itu penting karena bisa memberikan (motivasi) bersuara bagi teman-teman yang belum berani.[8]
  • Sistem perekrutan dan penugasan (jurnalis) terkadang seksis. Repotnya lagi adalah kalau kita ke lapangan dan kita perempuan, perlakuannya sudah beda.[8]

Daftar Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Febriana Firdaus. 2025-10-16.
  2. 2,0 2,1 2,2 "Mengapa media gagal meliput Papua?". New Mandala (dalam bahasa Australian English). 2017-12-13. Diakses tanggal 2025-11-16.
  3. Redaksi (2020-10-31). "Tanah Ibu Kami: Perempuan, Lingkungan, dan Pergerakan". Media Publica. Diakses tanggal 2025-11-16.
  4. 4,0 4,1 "Post-Pandemic, Will Bali Rethink Tourism?". thediplomat.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-16.
  5. 5,0 5,1 Across Indonesia, hundreds of communities are in conflict with companies seeking control of their resources In some cases; struggles, Journalist Febriana Firdaus travelled across the country to meet grassroots female activists and delve into the stories behind their; This article is part one of a series about her journey, which has also been made into a film (2020-11-13). "The women of Kendeng set their feet in cement to stop a mine in their lands. This is their story". Mongabay Environmental News (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-11-16.
  6. 6,0 6,1 "The long struggle of the women's movement in Indonesian politics | Lowy Institute". www.lowyinstitute.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  7. 7,0 7,1 "Indonesia's LGBT crackdown". www.lowyinstitute.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-16.
  8. 8,0 8,1 "Febriana Firdaus". Never Okay. 2018-04-27. Diakses tanggal 2025-12-20.