Fatia Maulidiyanti
Tampilan

Fatia Maulidiyanti (lahir 13 September 1992) adalah aktivis hak asasi manusia yang lantang dalam mengkritisi isu politik dan kemanusiaan di Indonesia. Fatia pernah menjabat sebagai Kepala Advokasi Internasional KontraS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan). Ia juga pernah menjabat sebagai koordinator KontraS pada periode 2020-2023.[1]
Sebagai aktivis HAM, Fatia menggagas Books for Tomorrow, yang mengumpulkan buku-buku untuk para terpidana mati di lembaga permasyarakatan di seluruh Indonesia.[2]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- There are libraries in prisons, probably because it's a must, but there is not enough concern about the books themselves, from the range of books to their quality,[2] - ucap Fatia pada peluncuran Books for Tomorrow, yang memiliki arti terdapat perpustakaan di penjara, mungkin karena hal tersebut merupakan suatu keharusan, namun perhatian terhadap buku-buku itu sendiri, mulai dari jenis buku hingga kualitasnya masih kurang.
- In the cells, there is only them and their thoughts. This could lead to suicidal tendencies,[2] - ucap Fatia mengenai kondisi para narapidana, yang memiliki arti di dalam sel hanya ada mereka dan pikirannya. Hal ini bisa memicu kecenderungan bunuh diri.
- If possible, we would like the government to put a moratorium on executions or to end the death penalty altogether ,[2] harapan Fatia mengenai penangguhan hukuman, yang dapat diartikan "Jika memungkinkan, kami ingin pemerintah memberlakukan moratorium eksekusi atau mengakhiri hukuman mati sama sekali."
- Jaksa dan orang yang diwakilinya, menuduh saya berniat merugikan nama baik orang, saya katakan itu salah, itu bukan niat saya. Niat saya hanya satu, menolong rakyat kita di Papua!, [3] - pembelaan Fatia saat proses persidangan mengenai tuntutan kasus pencemaran nama baik.
- Saya harap gelombang solidaritas tidak berhenti di kami berdua, tetapi juga di banyak momen lainnya untuk kemerdekaan, demokrasi, keadilan, hak asasi manusia, lingkungan hidup yang bersih dan sehat serta anti-korupsi.[4]
- Apa yang saya alami hari ini tidak lain tidak bukan adalah wajah paling biasa dari represi terhadap hak asasi manusia. Kendati demikian, ancaman dan tekanan ini tidak menyurutkan niat saya sebagai perempuan pegiat hak asasi manusia[4] - ujar Fatia di persidangan mengenai tuntutan kasus pencemaran nama baik.
- Pembela HAM di Indonesia menghadapi berbagai serangan, di mana mereka atau keluarga mereka dibuntuti, diawasi, menjadi sasaran tuntutan pidana, dan pencemaran nama baik di depan umum[5] - ucap Fatia mengenai isu Pembela HAM.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Media, Kompas Cyber (2022-03-24). Profil Haris Azhar dan Fatia Maulidiyanti yang Jadi Tersangka Pencemaran Nama Baik Luhut.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 Post, The Jakarta. "'Books for Tomorrow' to ignite humanity for death row inmates - Books". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ DA, Ady Thea. "Fatia Maulidiyanti: Niat Saya Hanya Satu, Menolong Rakyat di Papua". hukumonline.com. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ 4,0 4,1 Firmansyah, Rangga; Salam, Fahri; Salam, Rangga Firmansyah & Fahri (2024-01-08). "Kita Semua Berhak Kritis. Kita Semua adalah Fatia & Haris". Project Multatuli. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ "Laporan UPR Pemerintah Indonesia: Bertentangan dengan Realita Lapangan • Amnesty International Indonesia". Amnesty International Indonesia. 2022-11-10. Diakses tanggal 2025-12-02.