Eva Green
Tampilan

Eva Gaëlle Green (bahasa Prancis: [eva ɡa.ɛl ɡʁeːn]; bahasa Swedia: [ˈêːva ˈɡreːn]; lahir 6 Juli 1980) adalah pemeran Prancis, yang dikenal karena memerankan karakter-karakter yang eksentrik, jahat, dan kompleks. Putri dari aktris Marlène Jobert ini memulai kariernya di teater sebelum memulai debut filmnya dalam The Dreamers (2003) karya Bernardo Bertolucci. Ia memerankan Sibylla, Ratu Yerusalem dalam Kingdom of Heaven (2005). Tahun berikutnya, ia memerankan gadis Bond, Vesper Lynd, dalam film James Bond Casino Royale (2006), yang membuatnya menerima BAFTA Rising Star Award.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “I originally had reservations about being a Bond girl. I didn’t want to be a bimbo. The women are now perceived differently. They are intelligent and sassy and fascinating. I loved playing Vesper. She’s the only one to get to Bond’s heart and has a big impact on his life.”[2]
- Awalnya saya ragu menjadi gadis Bond. Saya tidak ingin menjadi wanita murahan. Para wanita tersebut sekarang dianggap berbeda. Mereka cerdas, lancang, dan menarik. Saya senang memerankan Vesper. Dialah satu-satunya yang bisa menyentuh hati Bond dan memiliki dampak besar dalam hidupnya.
- "It's so boring to play the girlfriend. Most of the women in film are there to be beautiful to the man. It's quite hard to find a ballsy or complex character."[3]
- Membosankan sekali memerankan kekasih. Kebanyakan karakter perempuan di film hanya ingin terlihat cantik di mata laki-laki. Sulit sekali menemukan karakter yang berani atau kompleks.
- "It's not all about physique and how beautiful you look. In this business actors who have Botox or surgery make you very aware of age. It's awful. In Los Angeles, I feel like the ugly duckling, like I'm from Venus or something."[4]
- "Ini bukan soal fisik dan kecantikan. Di bisnis ini, aktor yang pakai Botox atau operasi bikin kita sadar banget soal usia. Ini mengerikan. Di Los Angeles, aku merasa seperti bebek buruk rupa, seakan-akan aku dari Venus atau semacamnya."
- "My mother would tell you - I should know how to do my hair, to make an effort. I ought to wear more colours, to be more of a woman, but I like comfort too much."[5]
- Ibu saya akan bilang - saya harus tahu cara menata rambut, berusaha. Saya harus memakai lebih banyak warna, menjadi lebih feminin, tapi saya terlalu suka kenyamanan.
- "High heels just feel really anti-feminist to me, we're like birds on stilts."[5]
- Sepatu hak tinggi terasa sangat anti-feminis bagi saya, kami seperti burung di atas panggung
- "A lot of the films now are more focused on the visuals than on the actors. I think all directors should go to drama school."[6]
- Banyak film sekarang lebih fokus pada visual daripada aktornya. Saya pikir semua sutradara seharusnya belajar di sekolah drama.
Kesan terhadap astronot perempuan
[sunting | sunting sumber]Sebagai bagian dari pendalaman karakternya sebagai pilot perempuan dalam film Proxima, Eva bertemu dengan sejumlah astronot perempuan.
- "They're like superheroes, these people. They speak five or six languages, they have to be good at everything physically, they sacrifice themselves. They're almost like saints - it's a religion, wanting to explore the unknown. The male astronauts will automatically show you pictures of their children and partners, but the women usually don't, because it would distract them from the mission. They are so strong, it's difficult to see the cracks in the armour."[5]
- Mereka seperti pahlawan super. Mereka berbicara lima atau enam bahasa, mereka harus mahir dalam segala hal secara fisik, mereka mengorbankan diri. Mereka hampir seperti orang suci - sebuah agama, ingin menjelajahi hal yang tak diketahui. Para astronot pria akan secara otomatis menunjukkan foto anak-anak dan pasangan mereka, tetapi para wanita biasanya tidak, karena itu akan mengalihkan perhatian mereka dari misi. Mereka begitu kuat, sulit untuk melihat retakan pada baju zirahnya.
Respon terhadap wacana James Bond versi perempuan
[sunting | sunting sumber]- “I’m for women, but I really think James Bond should remain a man. It doesn’t make sense for him to be a woman. Women can play different types of characters, be in action movies and be superheroes, but James Bond should always be a man and not be Jane Bond. There is history with the character that should continue. He should be played by a man.”
- "Saya mendukung perempuan, tapi saya sungguh berpikir James Bond harus tetap menjadi laki-laki. Tidak masuk akal baginya untuk menjadi perempuan. Perempuan bisa memerankan berbagai macam karakter, bermain di film laga, dan menjadi pahlawan super, tapi James Bond harus selalu menjadi laki-laki, bukan Jane Bond. Ada sejarah dalam karakter tersebut yang harus berlanjut. Dia harus diperankan oleh seorang laki-laki."[7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Merona, Sonya Merah (6 Maret 2025). "Profil Aktris Ternama Eva Green, Awal Karier Main Teater Hingga Bintangi Banyak Film". Kapanlagi.com. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Fernández, Alexia (15 Maret 2019). "Former Bond Girl Eva Green Says 007 Should 'Always' Be Played By a Man". People. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ "Bond girl Eva Green feels like an ugly duckling in Hollywood". M16. 4 Mei 2012. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ "Eva Green hates dieting". The Indian Express. 4 Mei 2012. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ 5,0 5,1 5,2 Carpani, Jessica (14 Mei 2020). "High heels are 'anti-feminist' says Eva Green=". The Telegraph. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Aftab, Kaleem (24 November 2008). "Eva Green". Interview Magazine. Diakses tanggal 2025-12-08.
- ↑ Chi, Paul (12 Maret 2019). "Bond Girl Eva Green Thinks James Bond Should Always Be Played by a Man". Vanity Fair. Diakses tanggal 2025-12-08.
