Lompat ke isi

Ester Pandiangan

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Ester Pandiangan adalah seorang penulis perempuan asal Jakarta yang berdomisili di Yogyakarta. Ester merupakan alumni FISIP USU jurusan jurnalistik. [1]Ester Pandiangan telah menulis beberapa buku yang bertemakan gender. Judul bukunya seperti "Akibat Menabukan Seks", "Sebab Kita Semua Gila Seks", "Maaf, Orgasme Bukan Hanya Urusan Kelamin", "Seks Kita Memang Perlu Dibantu", dan "Waktu Aku Dilayoff".

Kutipan dari Buku "Sebab Kita Semua Gila Seks" [1]

[sunting | sunting sumber]
  1. "Hubungan seks pertama sangat menentukan bagaimana Anda memaknai seks". (Halaman:8)
  2. "Sebaik-baiknya edukasi seks memang harus dilakukan oleh orang tua, tentu dengan cara yang benar. Orang tua harus membangun percakapan terbuka dan jujur dengan anak-anak tentang seks, terutama memandang perkembangan seksual sebagai bagian normal dari tumbuh-kembang anak sebagai manusia seutuhnya. Diskusi tentang seks juga harus menjadi proses yang berkelanjutan, bukan pembicaraan satu kali, ditutup-tutupi, atau malah disembunyikan dalam ayat-ayat suci agama". (Halaman:9)
  3. "Pengetahuan seks yang benar membuat seseorang lebih bertanggung jawab dan tahu risiko hubungan seks itu sendiri". (Halaman:10)
  4. "Kecenderungan senang menerima siksaan, termasuk didominasi secara tidak normatif supaya mendapat kenikmatan". (Halaman:14)
  5. "Sebaik-baiknya, consent dan tanggung jawab adalah batasan untuk semua tindakan yang kita lakukan atas nama seks". (Halaman:19)
  6. "Benang merah kelanggengan kekerasan seksual itu tetap sama, menjaga citra". (Halaman:23)
  7. "Kekerasan seksual di dalam rumah didiamkan selain karena menjaga citra, alasan lainnya adalah rasa tidak percaya kalau seorang kerabat dekat apalagi yang profesinya rohaniawan, bisa berperilaku seiblis itu". (Halaman:25)
  8. "Betrand Russell, filsuf asal inggris pernah bilang, jika anak-anak memahami bahwa seks sebagai hubungan antara orang tuanya yang menyebabkan kehadiran mereka, maka mereka akan memaknai seks sebagai bentuk yang paling baik dan bersangkutan dengan tujuan biologis itu sendiri". (Halaman:26)
  9. "Kalau anak sebagai pelengkap status suami-istri, menjaga ketika tua nanti, atau supaya ada jawaban ketika ditanya kenalan sudah punya anak atau belum, mending Anda buang jauh-jauh rencana memiliki anak". (Halaman:26)
  10. "Bumi sudah dipenuhi begitu banyak manusia. Jangan membuat manusia baru tanpa mempersiapkan matang-matang fondasi awal. Lebih baik menjaga rumah sebagai tempat tinggal anak yang semestinya, bukannya malah jadi sarang predator". (Halaman:27)
  11. ""Laki-laki selingkuh wajar, kalau perempuan selingkuh kurang ajar", Kenapa konsep ini mendarah daging?ini tidak lepas dari budaya patriarki yang melekat dan menjadikan perempuan sebagai warga kelas bawah". (Halaman:30)
  12. "Ketika dunia memberikan banyak tuntutan kepada perempuan, kriteria yang sama tidak dibebankan kepada laki-laki. Katanya, laki-laki mah memang harus nakal, badung dan mencoba segalanya. Tapi perempuan tidak boleh". (Halaman:37)
  13. "Lakukan aktivitas seks secara bertanggung jawab, untuk diri sendiri dan tidak merugikan orang lain". (Halaman:61)
  14. "Berkemih setelah hubungan seks adalah upaya untuk mencegah infeksi saluran kemih". (Halaman:68)
  15. "Ketika perempuan mempertahankan dan memperjuangkan cinta, bisa dibilang tidak semata demi persoalannya, melainkan perasaan akan cinta tersebut". (Halaman:75)
  16. "Semua orang bisa mengatakan cinta, tapi apa semua orang bisa membuktikan apa yang dia katakan memang benar?. Setelah pembuktian, adakah batasan untuk berhenti membuktikan supaya cintanya tidak berpindah dan masuk kategori "bodoh"?. Bodoh karena terlalu berupaya, bodoh karena telah mengejar, bodoh karena mencintai orang yang pada akhirnya tidak bisa membalas sesuai dengan takaran cinta yang diberikan". (Halaman:78)
  17. "Sederhananya, cinta memang membuat kita bodoh!". (Halaman:78)
  18. "Travelling dapat membantu menyembuhkan patah hati karena efeknya yang "mengganggu" rutinitas harian". (Halaman:124)
  19. "Kesetiaan itu harga yang mahal dan tidak bisa Anda peroleh dari orang yang murahan". (Halaman:149)
  20. "Seks memang enak, tapi tempatkan akal sehat dan keamanan Anda di atas segala-galanya!. Jangan menyesal kemudian setelah vaginamu terinfeksi herpes atau klamidia". (Halaman:154)
  21. "Penabuan kondom, menjijikan diskusi mengenai seks, hanya akan menghambat informasi mengenai seks. Tahu enaknya tapi tidak mau tahu akibat buruknya, itu sama saja menjerat tali di kelamin sendiri". (Halaman:165)
  22. "Buat para bad boy yang membaca tulisan ini, bertaubatlah atau setidaknya berpikirlah dua kali sebelum menjaring target. Apalagi di dunia digital saat ini, apa yang Anda kirimkan di sosial media bisa di-capture dan disebarluaskan". (Halaman:173)
  23. "Pendidikan tinggi tidak menjamin orang bisa berpikir sehat ketika membahas soal selangkangan". (Halaman:179)
  24. "Semua aktivitas seks itu harus dengan consent". (Halaman:191)
  25. "Lagi galau, ya pergi dengan teman". (Halaman:192)
  26. "Sejati-jatinya aktivitas seks akan lebih indah dan berjiwa bila dilakukan tanpa tindakan manipulasi berkedok pemberian atau perhatian". (Halaman:200)
  27. "Tindakan melukai diri dapat dipicu oleh situasi internal dan lingkungan". (Halaman:206)
  28. "Peradaban kuno lainnya seperti di Sumeria (sekarang Irak bagian selatan) menjadikan masturbasi sebagai perayaan. Di Mesir kuno, masturbasi para dewa dianggap aktivitas yang magis. Dewa Atum disebutkan menciptakan alam semesta dengan masturbasi, dan pasang surutnya Sungai Nil dikaitkan dengan frekuensi ejakulasinya." Hal 15 & 16.[2]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1,0 1,1 Pandiangan, Ester (2021). Sebab Kita Semua Gila Seks. Yogyakarta: Buku Mojok Grup. ISBN 978-623-94979-7-2. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  2. Kompasiana.com (2023-05-01). "Mengulik Serba Serbi Seks Sejak Zaman Dahulu di Buku "Sebab Kita Semua Gila Seks"". KOMPASIANA. Diakses tanggal 2025-12-21.