Erni Aladjai
Tampilan
Erni Aladjai lahir pada 7 Juni 1985 di Desa Lipulalongo, Sulawesi Tengah. Ia menamatkan kuliahnya di jurusan Sastra Perancis, Universitas Hasanuddin Makassar. [1] Salah satu karyanya adalah buku "Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga".[2]
Sebelum memutuskan menjadi penulis penuh waktu, ia sempat bekerja sebagai wartawan di Makassar, penyunting berita. Selain menulis, ia bekerja sebagai penyunting novel lepas.[3]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Bubungan, kayu, kasau, atap, lantai papan semuanya 'bernyawa', mereka bertahan, sementara kita yang hidup biasanya rapuh dan berakhir..."[4]
- “Perempuan susah dapat waktu untuk menulis karya yang matang. Dalam prosesnya sering tersingkir dari sistem yang ada. Jadi menurut saya penting menandai diri sebagai perempuan penulis sebagai bagian dari satu penolakan sistem yang masih ada.
- “Untuk meretas ruang, penulis harus menyadari privilese. Dengan privilese yang dipunyai, apa yang bisa dilakukan untuk orang lain adalah untuk meretas ruang supaya lebih inklusif,” [5]
- "Melalui medium fiksi, orang akan lebih mudah menerima dikarenakan mediumnya yang lebih nyaman,”
- “Menulis bagi saya berperan sebagai meditasi. Berhenti berbicara sejenak dan berbicara dengan kepala sendiri. Sementara goals dari tulisan saya sendiri adalah hal-hal yang manusiawi. Saya menempatkan tokoh-tokoh dalam cerita saya dalam posisi yang setara. Entah itu hewan, manusia, dan lain sebagainya. Itulah nilai yang saya bawa,”[6]
- "Kasih itu sabar. Kasih itu murah hati. Tidak cemburu. Tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Tidak melakukan yang tak sopan dan tak mencari keuntungan diri sendiri. Tak pemarah dan menyimpan kesalahan orang lain."[7]
- "Jika ada orang yang memandang orang lain rendah, dia tidak pernah melihat keburukan di dalam dirinya sendiri."[7]
- "Ada orang-orang yang tumbuh kejam dalam kehidupan ini, mereka tidak digelayuti rasa bersalah dan memiliki hasrat melahap yang tidak pernah surut, mereka sungguh menakutkan ketimbang hantu dan hewan-hewan buas"[7]
- "Manusia itu makhluk kebiasaan, yang terbiasa berprasangka akan sulit berpikir jernih, yang terbiasa serakah akan sukar merasa cukup, dan yang terbiasa kesunyian, akan sulit berada dalam kegaduhan."[7]
- "Saya memilih nyemplung di dunia tulis-menulis karena saya merasa harus menceritakan hal-hal yang menjadi kegelisahan saya. Ketika SMA, ada teman saya pakai narkoba, di kelas dia ngantuk. Saya menulis, karena hal itu adalah kegelisahan di sekitarku."[6]
- "Biasanya ada beberapa peristiwa sensitif yang beresiko jika ditulis di dunia jurnalistik. Oleh karena itu, saya memilih berbicara di medium fiksi meski nyatanya kita sedang membicarakan persoalan yang nyata. Melalui medium fiksi, orang akan lebih mudah menerima dikarenakan mediumnya yang lebih nyaman."[6]
- "Cukup disedihkan bahwa kedua agama yang tidak berbaur itu adalah akar dari konflik yang ada. Kala itu di bawah hujan deras, saya menceritakan bahwa anjing itu menggonggong meminta bala bantuan. Metaforanya itu kita tidak bisa mengatakan bahwa anjing adalah simbol orang Kristen, tapi kita harus menolong sesama."[6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Erni Aladjai Bio – Hayat Indriyatno | Dalang Publishing". indonesian.dalangpublishing.com. Diakses tanggal 2025-12-20.
- ↑ "Erni Aladjai Quotes (Author of Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-20.
- ↑ Nabila, Balqis (2021-03-16). "Erni Aladjai". Suku Sastra (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-20.
- ↑ Media, Kompas Cyber (2021-05-26). Perempuan, Cengkih, dan Erni Aladjai Halaman all - Kompas.com (dalam bahasa Inggris).
- ↑ developer, mediaindonesia com. "Meretas Ruang Sastra bagi Perempuan". mediaindonesia.com. Diakses tanggal 2025-12-20.
- ↑ 6,0 6,1 6,2 6,3 Wutsqaa, Urwatul (2020-06-09). "Menulis adalah Meditasi". identitas Unhas. Diakses tanggal 2025-12-20.
- ↑ 7,0 7,1 7,2 7,3 "Erni Aladjai Quotes (Author of Haniyah dan Ala di Rumah Teteruga)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-28.