Lompat ke isi

Elinor Ostrom

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Elinor Ostrom atau Elinor Clair Awan (lahir di Los Angeles, 7 Agustus 1933 – wafat di Bloomington Indiana, 12 Juni 2012) adalah seorang ilmuwan politik Amerika Serikat yang dianugerahi Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi pada tahun 2009, menjadikannya perempuan pertama yang memenangkan hadiah tersebut, atas analisisnya tentang tata kelola ekonomi, terutama kepemilikan bersama (the commons). Melalui penelitiannya yang revolusioner, Ostrom menentang pandangan konvensional bahwa sumber daya bersama (seperti hutan, sistem irigasi, atau lahan) hanya dapat dikelola secara efektif melalui regulasi pemerintah atau privatisasi. Karya utamanya, Governing the Commons: The Evolution of Institutions for Collective Action (1990), menunjukkan bahwa komunitas lokal sering kali dapat mengembangkan lembaga dan aturan yang sukses untuk mengelola sumber daya bersama mereka secara berkelanjutan tanpa perlu intervensi dari luar. [1]

  • While in the past the literature has underplayed the importance of local effects, we need to recognize - as more and more individuals, families, communities, and states are seeing - that they will gain a benefit, as well as the globe, and that cumulatively a difference can be made at the global level if a number of small units start taking action. We have a much greater possibility of impacting global change problems if we start locally.[2]
  • Meskipun di masa lalu literatur mengabaikan pentingnya dampak lokal, kita perlu mengakui - semakin banyak individu, keluarga, komunitas, dan negara yang menyadari - bahwa mereka akan memperoleh manfaat, begitu juga dengan dunia, dan bahwa secara kumulatif, perbedaan dapat tercipta di tingkat global jika kelompok-kelompok kecil mulai mengambil tindakan. Kita memiliki kemungkinan yang jauh lebih besar untuk memengaruhi perubahan kondisi global jika kita mulai dari tingkat lokal.[2]
  • There are a wide variety of collective action problems that exist at a small scale. The important thing is that people at a small scale, who know what the details of the problems are, organize, rather than calling on officials at a much larger scale.[2]
  • Ada beragam aksi kolektif mengatasi permasalahan dalam skala kecil. Hal yang penting adalah orang-orang yang berada dalam lingkup kecil, mengetahui secara detail masalah apa yang ada, mengatasinya, daripada memanggil pejabat dalam skala yang jauh lebih besar.[2]
  • We need to be recognizing the complexity of the different problems being faced in a wide diversity of regions of the world. Thus, really great solutions that work in one environment do not work in others. We need to understand why, and figure out ways of helping to learn from good examples as well as bad examples of how to move ahead.[2]
  • Kita perlu menyadari kompleksitas dari perbedaan masalah yang dihadapi di beragam wilayah di dunia. Dengan demikian, solusi yang baik dan berhasil di satu lingkungan belum tentu berhasil di lingkungan lain. Kita perlu memahami alasannya, dan mencari cara untuk membantu belajar dari contoh-contoh yang baik maupun contoh-contoh yang buruk sehingga berhasil untuk melangkah maju.[2]
  • We in the social sciences face as great a challenge in how to address the analysis of common-pool resource problems as do the communities of people who struggle with ways to avoid common-pool resource problems in their day-to-day lives.[3]
  • Kita yang bekerja di bidang ilmu sosial menghadapi tantangan yang sama besarnya dalam menganalisis permasalahan sumber daya milik bersama seperti yang dihadapi oleh kelompok masyarakat yang berjuang menghindari permasalahan sumber daya milik bersama dalam kehidupan sehari-hari mereka.[3]
  • The advantage of a polycentric approach is that it encourages experimental efforts at multiple levels, as well as the development of methods for assessing the benefits and costs of particular strategies adopted in one type of ecosystem and comparing these with results obtained in other ecosystems.[3]
  • Keuntungan dari pendekatan polisentris adalah pendekatan ini mendorong upaya eksperimental pada berbagai tingkatan, serta pengembangan metode untuk menilai manfaat dan biaya dari strategi yang diadopsi dalam satu jenis ekosistem dan membandingkannya dengan hasil yang diperoleh di ekosistem yang berbeda.[3]
  • We cannot rely on singular global policies to solve the problem of managing our common resources: the oceans, atmosphere, forests, waterways, and rich diversity of life that combine to create the right conditions for life, including seven billion humans, to thrive.[3]
  • Kita tidak bisa semata mengandalkan kebijakan global tunggal untuk menyelesaikan masalah pengelolaan sumber daya bersama milik kita: kekayaan lautan, atmosfer, hutan, jalur air, dan keanekaragaman hayati yang semuanya berpadu menciptakan kondisi yang sesuai bagi kehidupan, termasuk tujuh miliar manusia, untuk hidup dan berkembang.[3]
  • What we need are universal sustainable development goals on issues such as energy, food security, sanitation, urban planning, and poverty eradication, while reducing inequality within the planet’s limits.[3]
  • Kita membutuhkan tujuan pembangunan berkelanjutan universal mengenai isu-isu seperti energi, ketahanan pangan, sanitasi, perencanaan kota, dan pengentasan kemiskinan, sambil mengurangi ketidaksetaraan dalam lingkup kemampuan planet ini.[3]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Britannica Money". www.britannica.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-03.
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 "Interview with Nobel prize winner Elinor Ostrom on climate change". www.thenewhumanitarian.org (dalam bahasa Inggris). 2012-04-25. Diakses tanggal 2025-12-03.
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 3,6 3,7 Rimmer, Matthew (2012-06-13). "The grand philosopher of the Commons: in memory of Elinor Ostrom". The Conversation (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.