Djenar Maesa Ayu
Tampilan
Djenar Maesa Ayu atau yang akrab disapa Nai adalah aktris, penulis, produser, dan sutradara perempuan Indonesia yang berbakat. Ia lahir di Jakarta tanggal 14 Januari 1973 berasal dari keluarga seniman. Ayahnya, Syuman Djaya, adalah sutradara film dan ibunya, Tuti Kirana, adalah aktris terkenal tahun 1970-an. Karyanya, terutama cerpen, tersebar di berbagai media massa Indonesia, seperti Kompas, The Jakarta Post, Republika, Koran Tempo, Majalah Cosmopolitan, dan Lampung Post.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- “Tapi, inilah yang berbahaya dari cinta, kita tak pernah bisa merencanakan dan memilih kepada siapa akan jatuh cinta.”
- “Hidup kan bukan perkara menang atau kalah. Konflik gak melulu berakhir dengan pencerahan.”
- “Yangku, saya bukan pencinta perempuan. Saya bukan lesbian. Tapi saya pencinta kehidupan. Saya akan setia pada kehidupan.”
- “Imajinasi, sesuatu yang tanpa batas, yang bukan hanya merasuki pengarangnya tapi juga bisa semua manusia.”
- “Ada pergulatan aneh yang merasuki mereka berdua. Keinginan meledak-ledak untuk segera berjumpa dan keinginan untuk lebih lama bersama, bagai satu mata koin dengan dua sisi yang berbeda. Betapapun besar usaha mereka untuk memperpanjang kebersamaan, sebesar itu pulalah usaha mereka untuk segera menyudahi.”
- “Malam memberi ruang bagi semua. Bagi hati yang merana. Terluka. Ternoda. Teraniaya. Terhina.”[2]
- "Imajinasi cenderung bebas tanpa moral dan konvensi masyarakat, bagaikan anjing "menggonggong" dan "menggigit" realitas yang munafik."
- "Lantas apa yang salah dengan pelacur? Adakah orang yang menulis di buku catatannya, cita-cita: pelacur. Mana yang lebih pantas dipertanyakan, takdir atau pelacur?"
- "Hidup ini sendiri memang fiksi. Sering kali hanya imajinasi."
- "Imajinasi, sesuatu yang tanpa batas, yang bukan hanya merasuki pengarangnya tapi juga bisa semua manusia."
- "Biarkan takdir yang menentukan. Biarkan takdir bekerja dan ia menjadi mediatornya."[3]
- "Hidup pada akhirnya memang pilihan masing-masing. Kesunyian masing-masing. Sama seperti kematian. Semua akan mati karena itulah hukuman yang sejak lahir sudah manusia emban. Tapi manusia tetap bisa memilih cara untuk mati. Dengan cara wajar ataupun bunuh diri. Dengan usia atau cinta. Dengan kalah atau menang?"
- "Semoga segala yang tidak baik, jenuh dengan ketidak-baikannya sendiri."
- "Kita bisa memesan bir, namun tidak bisa memesan takdir."[4]
- “Kebanggaan terbesar bagi ibunya adalah kebanggaan terhadap keberhasilannya sendiri sebagai seorang ibu. Begitupun sebaliknya, kebanggaan terbesarnya adalah menyaksikan kebahagiaan ibu.”
- “Tuhan tidak tidur, Tuhan pasti maklum.”
- “Tapi ada kalanya kita harus berbohong demi kebaikan.”
- “Hidup kan bukan perkara menang atau kalah. Konflik gak melulu berakhir dengan pencerahan.”
- “Saya katakan, jika saya seekor monyet maka saya satu-satunya binatang yang paling mendekati manusia. Berarti derajat saya berada di atas mereka. Tapi mereka bersikeras bahwa mereka manusia bukan binatang, karena mereka punya akal dan perasaan. Dan saya hanyalah seekor binatang. Hanya seekor monyet!”
- “Bukankah semua anak punya hak untuk bertanya?”[5]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ operator. "Djenar Maesa Ayu | Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa - Kemendikdasmen". badanbahasa.kemendikdasmen.go.id. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ "Top 6 Djenar Maesa Ayu Quotes (2026 Update) - QuoteFancy". quotefancy.com (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ "12 Kata-kata Bijak dari Djenar Maesa Ayu: Kata bijak, kutipan dan ucapan". JagoKata.com. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ "Kata-Kata Keren Djenar Maesa Ayu Soal Seksualitas, Kehidupan, dan Perempuan". Dream.co.id (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ "Djenar Maesa Ayu Quotes (Author of Mereka Bilang, Saya Monyet!)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-02.