Lompat ke isi

Diana Rikasari

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Diana Rikasari pada 2015
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Diana Rikasari (lahir 23 Desember 1984) adalah perancang busana, pengusaha, dan penulis Indonesia. Saat ini, ia dikenal sebagai desainer yang menggeluti dunia perancangan baju daur ulang (upcycling fashion). Diana menulis buku #88Lovelife yang dinobatkan sebagai salah satu buku terlaris di Indonesia dan pernah meraih penghargaan buku nonfiksi terbaik di Malaysia pada 2015 dan 2016.[1][2]

  • My passion is rooted in curiosity, playfulness, and a deep caring for our planet.[3]
    • Semangat saya berakar pada keingintahuan, keceriaan, dan kepedulian yang mendalam terhadap planet kita.
  • I am now more conscious about the clothes I buy; who I buy from, where they were produced, whether they were responsibly made. Saya sekarang lebih nyaman belanja dari small and slow fashion brands dan berbelanja secondhand. I do splurge in designer items too once in a while, but I would say I am more mindful now. Other than that, I enjoy making or upcycling my own clothes.[4]
    • Saya sekarang lebih sadar tentang pakaian yang saya beli; dari siapa saya membeli, di mana pakaian itu diproduksi, apakah pakaian itu dibuat secara bertanggung jawab. Saya sekarang lebih nyaman berbelanja dari merek fesyen kecil dan lambat serta berbelanja barang bekas. Saya juga sesekali membeli barang-barang desainer, tetapi saya bisa bilang sekarang saya lebih berhati-hati. Selain itu, saya senang membuat atau mendaur ulang pakaian saya sendiri.
  • Humans are multi-dimensional, we enjoy different things, and so I embrace all that. I love to design, take photos, write, create, sew, and fulfilling all that makes me happy. But I do think I enjoy sewing and writing the most. They’re like therapy, it heals and calms the mind.[5]
    • Manusia adalah multi-dimensi, kita menikmati hal-hal yang berbeda, jadi saya merangkul semua itu. Saya suka mendesain, mengambil foto, menulis, membuat, menjahit, dan memenuhi semua yang membuat saya bahagia. Tapi saya rasa saya paling menikmati menjahit dan menulis. Mereka seperti terapi, menyembuhkan dan menenangkan pikiran.
  • I’m definitely an outfit repeater. My wardrobe grows with me. I rarely “throw away” my clothes, sometimes I hand them down to my cousins or nieces. Nowadays, when I’m bored of my clothes, I upcycle them.[5]
    • Saya pastinya tipe orang yang suka mengulang-ulang pakaian. Lemari pakaian saya terus bertambah seiring bertambahnya usia. Saya jarang "membuang" pakaian saya, terkadang saya memberikannya kepada sepupu atau keponakan saya. Sekarang, kalau sudah bosan dengan pakaian saya, saya mendaur ulangnya.
  • I started reading about the topic of sustainable fashion in 2018, watched plenty of documentaries on the impact of fast fashion towards our planet, and slowly accepted that “fast fashion” and buying too many clothes is harmful. As human beings, it’s important to keep up with what’s going on in the world, have a good moral compass and realize that the world does not revolve around just pretty things. We need to evolve as an individual and make better choices not just for us but for the planet, for our children.[5]
    • Saya mulai membaca tentang topik fesyen berkelanjutan pada tahun 2018, menonton banyak film dokumenter tentang dampak fast fashion terhadap planet kita, dan perlahan-lahan menerima bahwa “fast fashion” dan membeli terlalu banyak pakaian itu berbahaya. Sebagai manusia, penting untuk mengikuti apa yang terjadi di dunia, memiliki kompas moral yang baik dan menyadari bahwa dunia tidak hanya berputar di sekitar hal-hal yang indah. Kita perlu berkembang sebagai individu dan membuat pilihan yang lebih baik tidak hanya untuk kita tetapi untuk planet ini, untuk anak-anak kita.
  • I imagine a fashion world where circularity and creativity walk hand-in-hand, where every garment is designed for its second life, and designers and consumers celebrate that cycle together. In this world, I’d be a connector: crafting joyful, wearable art from waste, mentoring new upcycling designers, and collaborating across industries to build systems that value quality, not just novelty. I want fashion to feel like a fun superhero costume, built with intention and heart.[5]
    • Saya membayangkan dunia mode di mana sirkularitas dan kreativitas berjalan beriringan, di mana setiap pakaian dirancang untuk kehidupan keduanya, dan para desainer serta konsumen merayakan siklus tersebut bersama-sama. Di dunia ini, saya akan menjadi penghubung: menciptakan karya seni yang menyenangkan dan dapat dikenakan dari limbah, membimbing para desainer daur ulang baru, dan berkolaborasi lintas industri untuk membangun sistem yang menghargai kualitas, bukan sekadar kebaruan. Saya ingin mode terasa seperti kostum pahlawan super yang menyenangkan, dibuat dengan niat dan hati.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Putri, Citra Narada (10 Januari 2022). "Mengenal Upcycle Fashion, Daur Ulang Pakaian yang Punya Nilai Tambah". Parapuan.co. Diakses tanggal 2025-12-03.
  2. "10 Fakta Diana Rikasari, dari Fashion Blogger hingga Penulis Buku". Gramedia. 23 Desember 2018. Diakses tanggal 2025-12-03.
  3. "Interview #180 Diana Rikasari". A Sustainable CLoset. Diakses tanggal 2025-12-03.
  4. "Passion Diana Rikasari terhadap Upcycling Fashion". The Editors Club. 7 Mei 2022. Diakses tanggal 2025-12-03.
  5. 5,0 5,1 5,2 5,3 Saffira, Mega (20 Februari 2023). "The Upcycling Heroes #2: Diana Rikasari dan Warna-warni Dunia Pendayagunaan Ulang". The Textile Map. Diakses tanggal 2025-12-03.