Lompat ke isi

Dewi Sartika

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Raden Dewi Sartika

Raden Dewi Sartika atau Dewi Sartika dikenal sebagai pelopor pendidikan bagi kaum perempuan di Indonesia. Selain itu ia juga menjadi salah satu tokoh wanita yang paling berpengaruh dan terkenal di tanah air. Pada tahun 1966, Pemerintah Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional. Ia mendirikan sekolah khusus perempuan pertama di Hindia Belanda, yaitu Saloka Istri, pada 16 Januari 1904 di Bandung.

Dewi Sartika lahir di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat pada 4 Desember 1884. Ia berasal dari keluarga bangsawan sunda. Ayahnya bernama Raden Rangga Somanagara, seorang patih di Bandung, dan ibunya bernama Raden Ayu Rajapermas. Sejak kecil, Dewi Sartika sudah menunjukkan minat dalam bidang pendidikan dengan sering bermain peran sebagai guru bersama teman-temannya.

Dewi Sartika pernah bersekolah di Eerste Klesse School, sekolah bagi anak-anak bangsawan dan warga Eropa pada masa Hindia Belanda. Disana ia belajar membaca, menulis, berhitung, serta bahasa Belanda dan bahasa Inggris. Namun, pendidikannya berhenti ketika ayahnya diasingkan ke Ternate oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1893.

  • "Pendidikan adalah hak setiap orang, termasuk perempuan."
  • "Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah."
  • "Majulah kaum wanita, bangkitlah untuk kemajuan nusa dan bangsa!"
  • "Pendidikan adalah kunci untuk membuka pintu emas kemerdekaan."
  • "Kita harus berjuang untuk kesetaraan dan keadilan."
  • "Perempuan harus memiliki keberanian untuk melangkah maju." [1]
  • "Hanya dengan Pendidikan kita akan tumbuh menjadi suatu bangsa".[2]
  • "Wanita harus berusaha untuk mandiri, berpengetahuan, dan terampil."
  • "Perempuan harus memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki."
  • "Di samping pendidikan yang baik, perempuan bumiputera harus dibekali pelajaran yang bermutu."
  • "Perluasan pengetahuan akan sangat berpengaruh bagi moral perempuan kaum Bumiputera. Pengetahuan tersebut hanya diperolehnya dari sekolah."
  • "Alangkah sedihnya mereka yang tidak bisa membaca dan menulis, karena orang yang demikian ibarat hidup di dalam kegelapan atau umpama orang buta yang berjalan di tengah hari. Maka jika jadi perempuan harus bisa segala-gala."
    • Dikutip dari buku Raden Dewi Sartika (Pendidik Bangsa dari Pasundan) karya E. Rokajat Asura, bagian blurb atau sampul belakang buku.
  • "Ari jadi awéwé kudu segala bisa, ambéh bisa hirup!"
    • "Menjadi perempuan harus memiliki banyak kecakapan agar bisa hidup!"
  • "Sebab seperti itulah kamu akan berharga dan menghargai kehidupan."
    • Kutipan yang digunakan untuk mempertegas kutipan sebelumnya, Dikutip dari buku Raden Dewi Sartika (Pendidik Bangsa dari Pasundan) karya E. Rokajat Asura, h. 394
  • "Kecintaan terhadap bangsa ini harus diwujudkan dengan mencerdaskan generasi penerusnya."[3]
  • "Jangan pernah anggap perbuatan iseng ketika akan menyusahkan orang lain. Sedikit atau banyak sama saja."[4]
    • Dikutip dari buku Raden Dewi Sartika (Pendidik Bangsa dari Pasundan) karya E. Rokajat Asura, h. 387
  • "Daripada susah-susah iseng untuk menyusahkan orang, kenapa kamu tidak bersusah-susah untuk menyenangkan orang? Mungkin kamu akan dipuji bukannya dibenci."
    • Dikutip dari buku Raden Dewi Sartika (Pendidik Bangsa dari Pasundan) karya E. Rokajat Asura, h. 387
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Commons
Commons
Wikimedia Commons memiliki media terkait mengenai:
  1. Copied!, Siena Karani Share Link (2025-10-27). "Kata-Kata Mutiara Dewi Sartika: Inspirasi Perjuangan Pendidikan Perempuan Indonesia". KapanLagi.com. Diakses tanggal 2026-04-26.
  2. "17 Kata Bijak Pahlawan Nasional, Apa yang Disampaikan Bung Hatta dan Tan Malaka?". Tempo. 16 Agustus 2021 | 17.09 WIB. Diakses tanggal 2025-08-30
  3. Wulandari, Trisna. "32 Quote Hari Pahlawan dari Cut Nyak Dien sampai Martha Christina Tiahahu". detikedu. Diakses tanggal 2025-08-30.
  4. Rokajat Asura, E. Raden Dewi Sartika (Pendidik Bangsa dari Pasundan), Jakarta: Penerbit Imania, 2019