Dewi Fortuna Anwar
Tampilan

Dewi Fortuna Anwar (lahir 22 Mei 1958) adalah akademisi Indonesia, profesor dan pengamat kebijakan luar negeri yang pernah menjabat Wakil Sekretaris Bidang Politik di Wakil Presiden serta aktif di lembaga kebijakan publik seperti The Habibie Center dan Foreign Policy Community of Indonesia.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- Indonesia cannot afford to be inward looking, we have to be aware of all of the challenges and opportunities. [2]
- Indonesia tidak boleh bersikap tertutup; kita harus menyadari seluruh tantangan dan peluang yang ada.[2]
- Because of its strategic position, the majority of the international sea lanes are located within Indonesian territorial waters. Whatever our policy is, it cannot be simply national. It has to take into account the strategic interests of other countries. We have to ensure that we are able to be responsible in managing our territory without allowing others to violate our sovereignty and exploit our resources.[2]
- Karena posisi strategisnya, sebagian besar jalur pelayaran internasional berada di dalam perairan teritorial Indonesia. Apa pun kebijakan kita, kebijakan itu tidak bisa semata-mata bersifat nasional. Kebijakan tersebut harus mempertimbangkan kepentingan strategis negara-negara lain. Kita harus memastikan bahwa kita mampu bertanggung jawab dalam mengelola wilayah kita tanpa membiarkan pihak lain melanggar kedaulatan kita atau mengeksploitasi sumber daya kita.[2]
- Prioritizing national security over humanitarian protection and framing migration as a crime issue is unsustainable and fails to address the root causes of forced migration. [3]
- Mengutamakan keamanan nasional dibandingkan perlindungan kemanusiaan serta memandang migrasi sebagai persoalan kriminal adalah pendekatan yang tidak berkelanjutan dan gagal menangani akar penyebab migrasi paksa.[3]
- Do not let the superpowers monopolize the narrative, because what happened in the G20, shows clearly that the middle powers (countries), those who work with the centripetal (uniting; not dividing because of differences) forces, actually can have an important role to play. [4]
- Jangan biarkan negara-negara adikuasa memonopoli narasi, karena apa yang terjadi di G20 menunjukkan dengan jelas bahwa negara-negara dengan kekuatan menengah, mereka yang bekerja dengan kekuatan sentripetal (yang mempersatukan, bukan memecah belah karena perbedaan) justru dapat memainkan peran yang sangat penting.[4]
- · "Keahliannya terletak pada kebijakan luar negeri Indonesia, demokratisasi, ASEAN, serta isu-isu politik dan keamanan regional. Ceramah ini memberikan perhatian khusus pada bagaimana dinamika ini berdampak pada Indonesia dan Timor-Leste."[1]
Daftar Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 "Prof Dewi Fortuna Anwar Terima Penghargaan dari Timor Leste". seputarmiliter.id. Diakses tanggal 2025-12-13.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 "Strategic Review". sr-indonesia.com. Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 3,0 3,1 Post, The Jakarta. "ASEAN needs political will to address forced migration - Academia". The Jakarta Post (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.
- ↑ 4,0 4,1 antaranews.com (2022-11-26). "Indonesia should identify issues in foreign policy: Expert". Antara News (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-11-15.