Lompat ke isi

Devi Asmarani

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Devi Asmarani (lahir 28 April 1972) adalah penulis lepas dan kolumnis Indonesia. Ia merupakan pemimpin redaksi dan salah satu pendiri media yang mengangkat isu-isu terkait perempuan dan keberagaman gender, Magdalene. Devi mendapatkan penghargaan SK Trimurti dari Aliansi Jurnalis Independen pada 2018 atas upayanya dalam menyuarakan isu-isu perempuan. Ia juga ditetapkan sebagai UNDP Indonesia Changemaker pada 2024 atas kontribusinya dalam mengembangkan jurnalisme yang progresif dan sensitif gender.[1]

Perempuan dan jurnalisme

[sunting | sunting sumber]
  • “Terus terang masyarakat Indonesia masih sangat patriarkis, dan ironisnya ini masih sangat terasa di dunia jurnalistik yang seharusnya menurut saya jauh lebih progresif dibanding yang lain."[2]
  • “Bagi saya tantangannya ada di sini bahwa wartawan sekalipun, apalagi wartawan perempuan, masih belum memiliki perspektif perempuan.”[2]

Feminisme

[sunting | sunting sumber]
  • "Sampai sekarang masih banyak organisasi-organisasi perempuan yang sangat berdampak, itu tidak menggunakan kata feminisme, tapi what they’re doing is feminism (apa yang mereka lakukan adalah feminisme)."[3]
  • "Sebenarnya feminisme di mana-mana sama, tujuannya sama. Yaitu memastikan ada kesetaraan gender dalam semua aspek kehidupan. Dari politik, sosial, ekonomi, dan sebagainya. Dari adat, tradisi, dan semacamnya itu sama semua. Perjuangannya yang berbeda-beda, bentuk perjuangannya berbeda-beda dan ekspresi perjuangannya juga berbeda tergantung dari lokalitasnya, tergantung dari bagaimana resepsi terhadap ide itu sendiri di tempat tersebut."[3]
  • Saat ini ada kesalahpahaman – atau mungkin lebih ke pemahaman yang sempit – tentang apa itu feminisme. Dianggap bahwa feminisme itu adalah semua hal yang berhubungan dengan kebebasan pribadi kita. Of course, you are free, you should be free just like any other person in the world, but that is not what feminism is ONLY about. If you want to call yourself a feminist (tentu saja, kamu bebas, kamu seharusnya bebas seperti orang lain di dunia, tapi feminisme bukan hanya tentang itu. Jika kamu ingin menyebut dirimu seorang feminis), kita juga harus mengakui bahwa banyak sekali ketidakadilan di dunia ini yang berakar dari ketidaksetaraan."[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Devi Asmarani: Championing Feminist Journalism Through Magdalene.co". UNDP. 2 Desember 2024. Diakses tanggal 2025-12-01.
  2. 2,0 2,1 Mazrieva, Eva (9 September 2018). "Gigih Suarakan Isu Perempuan, Devi Asmarani Raih SK Trimurti". VOA Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-02.
  3. 3,0 3,1 3,2 Warastri, Wintang (19 Juni 2019). "Memahami Feminisme Bersama Inisiator Magdalene, Devi Asmarani". Whiteboard Journal. Diakses tanggal 2025-12-02.