Lompat ke isi

Colliq Pujié

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Colliq Pujié atau Retna Kencana Colliq Pujié Arung Pancana Toa Matinroé ri Tucaé (1812-1876) adalah bangsawan Bugis Melayu yang menjadi pengarang, penulis, penyunting naskah Lontarak Bugis kuno, penyalin naskah dan sekretaris istana Kerajaan Tanete (sekarang dikenal sebagai Kabupaten Barru.[1]

Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
  • Ininnawakku muwita, Mau natuddu’ solo’, Mola linrung muwa.
    • Artinya: Lihatlah keadaan batinku, Walaupun dihempas arus deras (kesusahan), Namun aku masih berdiri tegar.[2]

Tentang resiliensi

[sunting | sunting sumber]
  • “Menjadi janda tentu bukanlah impian kaum perempuan sepertiku. Akan tetapi apa dayaku sebagai makhluk Allah meskipun aku sangat mencintai suamiku To Appo La Tenreng Arung Ujung harus meninggalkanku dan menghadap keharibaan Allah sang pemberi hidup dan kehidupan ini. Aku hanya bisa pasrah menerima nasibku tatkala To Appo harus menghembuskan napas terakhirnya di hadapan kami semua.”[3]
  • “Yah,… Aku harus bangkit… sudah cukup lama aku rasanya mengabaikan semua yang ada disekitarku. Kematian To Appo suamiku tentu bukanlah kematian bagi diriku… Jika usia To Appo sudah berakhir, tentu bagiku belum. Meskipun tanpa lelaki yang telah puluhan tahun mendampingiku aku harus bisa berjalan melanjutkan kehidupanku yang batasnya masih menjadi misteri…”[3]
  • “Sesungguhnya kesedihan itu sudah bisa aku daur menjadi semangat untuk memulai kehidupan baruku, karena bagaimanapun aku masih memiliki tanggung jawab terhadap anak-anakku yang mulai tumbuh menjadi remaja. Selain itu aku pun memiliki tanggung jawab terhadap kerajaan Pancana yang dipercayakan ayahku untuk memimpinnya sebagai daerah kerajaan (paliliq) di bawah kerajaan Tanete.”[3]

Tentang keluarga

[sunting | sunting sumber]
  • “Sebagai permaisuri akupun membantu suamiku menjalankan tugas-tugasnya atau menemaninya berdiskusi mencari jalan keluar masalah yang rumit. Meskipun kala musim berburu rusa aku tak bisa pergi menemaninya.”[3]
  • “Ia tahu bahwa kekuatan tanete terletak pada keutuhan dan persatuan keluarganya. Mereka saling mendukung satu sama lainnya dengan prinsip “reqba sipatokkong maliq si parappe, maliluq sipakaingeq, siruiq menre, tassiruiq noq,” (rebah saling menegakkan, hanyut Saling mendamparkan, lupa Saling mengingatkan, saling menarik ke atas tak saling menarik kebawah/menjatuhkan).”[3]

Tentang kemanusiaan

[sunting | sunting sumber]
  • “Sebagai ata di daerah Bugis kami senantiasa menghargai mereka sebagai manusia. Kami bebaskan mereka hidup di dalam wilayah kami, bebas mendirikan rumah di atas tanah-tanah kami. Kami memberikan bagian tertentu setiap hasil panen, atau pun hasil penjualan ternak. Tetapi kebebasan satu-satunya yang kami ambil adalah pilihannya untuk mengabdi pada kami dan tidak bekerja di tempat lain. Itu berlaku secara turun temurun selagi mereka belum membebaskan diri sebagai ata.”[3]
  • “Kami tidak ingin kehilangan seorang pun dari leluhur kami. Karena bagaimanapun kami harus menghargai dan menghormatinya. Dengan adanya beliau-beliau itu sebagai pendahulu sehingga kami yang sekarang ini ada…..Tak mungkin kami ada jika mereka tidak ada pada masa itu….”[3]

Tentang kepercayaan

[sunting | sunting sumber]
  • “Yah…itulah, untungnya kita memiliki keyakinan pada yang kuasa, bahwa segala penderitaan kita di dalam kehidupan ini semua dari Allah demikian juga dengan kesenangan yang kita nikmati. Bahagia dan duka pasti ada dalam kehidupan ini yang datang silih berganti….”[3]
  • “Yah... begitu juga dengan keyakinan saya, bahwa semua ciptaan Allah yang hidup pasti akan menemukan kematian. Dari Allah dan akan kembali ke Allah.....”[3]

Tentang kerjasama

[sunting | sunting sumber]
  • “Untung saja aku mendapat kunjungan Tuan Matthes. Meskipun ia bagian dari pemerintah Belanda akan tetapi aku pikir ia terbebas dari pikiran-pikiran politik dan kekuasaan. Ia seorang ilmuan dan agamawan, sehingga cara berpikirnya tentu lain. Itulah sebabnya aku bisa menerimanya sebagai teman dialog atau mungkin data kusebut sebagai teman kerjaku.”[3]
  • “Sesungguhnya aku beruntung bisa mendapat kesempatan untuk memperluas wawasanku dengan membaca dan menyalin ulang naskah-naskah ini. Karena sepanjang usiaku masih banyak catatan catatan belum pernah aku baca. Tapi atas jasa Matthes yang dengan bersusah payah berkeliling daerah untuk mengumpulkan semua ini aku bisa membacanya.”[3]

Tentang politik

[sunting | sunting sumber]
  • “Kemuliaan darahku itulah yang menuntut jiwaku untuk selalu berjuang menjaga kehormatan diriku dan negeriku selalu berdiri tegar dan tidak mau tunduk kepada kezaliman dan ketakbenaran. Aku akan selalu memihak pada kebenaran dan itu aku perjuangkan dengan menuliskan pesan-pesan kebenaran itu dalam karya-karyaku.”[3]
  • “Tidak semua keinginan mereka harus dituruti. Perintah dan aturan yang merugikan rakyat harus kita tolak. Kita harus membela rakyat kita, orang-orang Tanete…."[3]
  • "Itulah sebabnya, setiap penyerangan tentara belanda pasti akan mendapat perlawanan sengit dari rakyat Tanete dan juga seluruh keluarganya yang berada di daerah/kerajaan lain, selama masih terjalin hubungan kekeluargaan pasti akan merasakan pesse atau kepedihan akibat hinaan itu, karena rasa solidaritas Bersama”[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Rahman., Nurhayati (2008). Retna Kencana Colliq Pujie Arung Pancana Toa, 1812-1876 : intelektual penggerak zaman. La Galigo. ISBN 9789799911520. OCLC 969120981.
  2. Aswar, Muhammad. "Aksara Bilang-Bilang dan Kecerdasan Perempuan Nusantara". Media Pemalang. Diakses tanggal 2025-12-28.
  3. 3,00 3,01 3,02 3,03 3,04 3,05 3,06 3,07 3,08 3,09 3,10 3,11 3,12 3,13 Anggara, Rayhan Adi; Salam, Salam; Sultan, Sultan (2023-02-12). NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM KISAH COLLIQ PUJIE. Vol. 3. doi:10.59562/titikdua.v3i1.43757. ISSN 2809-5332.