Claudia Goldin
Claudia Dale Goldin (lahir di New York, 14 Mei 1946) adalah seorang ekonom Amerika Serikat yang memenangkan Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi pada tahun 2023 karena "telah memajukan pemahaman kita tentang hasil pasar tenaga kerja perempuan" di Amerika Serikat dan negara-negara berpenghasilan tinggi lainnya. Melalui penelitian perintisnya dalam sejarah ekonomi dan ekonomi tenaga kerja, Goldin mengoreksi asumsi konvensional dengan menunjukkan bahwa tingkat partisipasi perempuan dalam angkatan kerja AS selama dua abad terakhir dapat direpresentasikan sebagai kurva berbentuk "U", dan ia juga memberikan wawasan mendalam tentang faktor sosial dan ekonomi yang menyebabkan kesenjangan upah (gender gap) yang bervariasi namun terus-menerus terjadi antara perempuan dan laki-laki. Goldin adalah perempuan ketiga yang menerima Hadiah Nobel Ilmu Ekonomi dan satu-satunya perempuan yang menjadi pemenang tunggal hadiah tersebut.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- I was slighting the family member who would undergo the most profound change over the long run—the wife and mother. I neglected her because the sources had. Women were in the data when young and single and often when widowed. But their stories were faintly heard after they married.[2]
- Saya mengabaikan anggota keluarga yang akan menjalani perubahan paling mendalam dalam jangka panjang yaitu istri dan ibu. Saya mengabaikannya karena sumber-sumber data juga mengabaikannya. Perempuan ada dalam data ketika mereka muda dan lajang, dan sering kali ketika mereka menjanda. Tetapi kisah-kisah mereka terdengar samar setelah mereka menikah.[2]
- We’ve come to a point in which women’s employment is extremely high, and yet there are inequalities. And those inequalities are inequalities that occur within households.[3]
- Kita telah mencapai suatu titik di mana jumlah pekerja perempuan sangat tinggi, namun masih ada ketidaksetaraan. Dan ketidaksetaraan tersebut adalah ketidaksetaraan yang terjadi di dalam rumah tangga.[3]
- For economists, change is important - change is interesting. Therefore, men are boring and women are interesting.[3]
- Bagi para ekonom, perubahan itu penting - perubahan adalah hal yang menarik. Oleh karena itu, laki-laki membosankan dan perempuan memukau.[3]
- Some attribute the gender earnings gap to “occupational segregation” - the idea that women and men are self-selecting, or being railroaded into, certain professions that are stereotypically gendered (such as nurse versus doctor, teacher versus professor), and that those chosen professions pay differently.[4]
- Beberapa pihak mengaitkan kesenjangan pendapatan gender dengan "pemisahan pekerjaan" - gagasan bahwa perempuan dan laki-laki memilih sendiri, atau dipaksa masuk ke dalam, profesi-profesi tertentu yang secara stereotip digenderkan (seperti perawat versus dokter, guru versus profesor), dan bahwa profesi-profesi yang dipilih tersebut membayar gaji berbeda-beda.[4]
- The advent of women’s careers fundamentally changed the relationship between the American family and the economy. We will never get to the bottom of the gender earnings gap until we understand the trajectory of the far larger problem of which it is a symptom. The gender earnings gap is a result of the career gap; the career gap is at the root of couple inequity. To truly grasp what that means, we need to take a voyage through women’s role in the American economy and consider how it has transformed across the course of the last century.[4]
- Kemajuan karier perempuan secara mendasar telah mengubah hubungan antara keluarga dan perekonomian Amerika. Kita tidak akan pernah mencapai akar masalah kesenjangan pendapatan berdasarkan jenis kelamin sampai kita memahami lintasan masalah yang jauh lebih besar yang merupakan gejalanya. Kesenjangan pendapatan antar jenis kelamin merupakan hasil dari kesenjangan karier; kesenjangan karier adalah akar dari ketidaksetaraan pasangan. Untuk benar-benar memahami maknanya, kita perlu melakukan perjalanan menyelami peran perempuan dalam perekonomian Amerika dan mempertimbangkan bagaimana hal itu telah berubah sepanjang abad terakhir.[4]
- Early marriage often precluded further study for women, at least immediately. Newly married couples moved more often for the husbands’ career and education than for the wives’. Women didn’t always maximize their own future career prospects. Instead, they often sacrificed their careers to optimize the family’s well-being.[4]
- Pernikahan dini sering kali menghalangi perempuan untuk melanjutkan pendidikan, setidaknya secara langsung. Pasangan yang baru menikah lebih sering pindah karena karier dan pendidikan suami daripada karena karier dan pendidikan istri. Perempuan tidak selalu memaksimalkan prospek karier mereka di masa depan. Sebaliknya, mereka sering mengorbankan karier mereka untuk mengoptimalkan kesejahteraan keluarga.[4]
- Rising inequality in earnings may be one important reason why the gender pay gap among college graduates has remained flat in the last several decades, despite improvements in women’s credentials and positions. It may be the reason why the gender earnings gap for college graduates became larger than that between men and women in the entire population in the late 1980s and early 1990s. Women have been swimming upstream, holding their own but going against a strong current of endemic income inequality.[4]
- Meningkatnya ketidaksetaraan dalam pendapatan mungkin menjadi salah satu alasan utama terjadinya stagnasi kesenjangan upah berdasarkan jenis kelamin di kalangan lulusan perguruan tinggi dalam beberapa dekade terakhir, meskipun ada peningkatan dalam kredensial dan posisi perempuan. Ini mungkin alasan mengapa kesenjangan pendapatan berdasarkan jenis kelamin untuk lulusan perguruan tinggi menjadi semakin besar antara laki-laki dan perempuan di seluruh populasi pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Perempuan berjuang melawan arus, mempertahankan posisi mereka tetapi melawan arus kuat endemik atas ketidaksetaraan pendapatan.[4]
- If women can achieve equity within their families, they have a better chance of achieving equality at work, too. That’s because when women are tasked with more of the child care, household chores and elder care, they have less time to dedicate to their careers and, in doing so, they earn less.[5]
- Jika perempuan dapat mencapai keadilan di dalam keluarga mereka, mereka juga memiliki peluang yang lebih baik untuk mencapai kesetaraan di tempat kerja. Hal tersebut terjadi karena perempuan dibebani lebih banyak tugas pengasuhan anak, pekerjaan rumah tangga, dan perawatan lansia, sehingga tidak cukup waktu bagi mereka mendedikasikan diri pada karier mereka dan, dengan demikian, mereka mempunyai pendapatan yang lebih rendah.[5]
Sumber Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Claudia Goldin | Biography, Nobel Prize, & Facts | Britannica (dalam bahasa Inggris).
- ↑ 2,0 2,1 "Profile of Harvard Economist Claudia Goldin – IMF Finance & Development Magazine | December 2018". IMF (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 DeSmith, Christy (2023-10-09). "Harvard's Claudia Goldin awarded Nobel Memorial Prize in Economic Sciences". Harvard Gazette (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 4,5 4,6 4,7 harvardgazette (2023-10-17). "Excerpt from 'Career and Family' by Claudia Goldin". Harvard Gazette (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 5,0 5,1 Smith, Morgan (2023-10-10). "Nobel Prize-winning Harvard economist Claudia Goldin: The gender pay gap will 'never' close unless this happens". CNBC (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-03.