Butet Manurung
Tampilan

Saur Marlina Manurung atau dikenal dengan Butet Manurung merupakan tokoh perempuan Indonesia yang aktif terlibat dalam menyiarkan pendidikan bagi masyarakat pedalaman di Indonesia. Ia lahir pada 21 Februari 1972, ia dikenal sebagai aktivis dan antropolog yang telah mendedikasikan hidupnya untuk mendidik komunitas terpencil, khususnya Orang Rimba di kawasan Bukit Duabelas, Jambi, Sumatra. Dalam perjalanannya menempuh pendidikan, Butet menjalin kedekatan dengan berbagai komunitas adat di Nusantara.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Pendidikan bukanlah proses alienasi seseorang dari lingkungannya, atau dari potensi alamiah dan bakat bawaannya, melainkan proses pemberdayaan potensi dasar yang alamiah bawaan untuk menjadi benar-benar aktual secara positif bagi dirinya dan sesamanya."[2]
- "...karena sejatinya proses sekolah pada setiap manusia berlangsung sepanjang hidup, tinggal bagaimana proses belajar tersebut bisa bermakna positif bagi kehidupan kita dan sekitar kita, bukan untuk menjadi budak yang memenuhi industri semata."[1]
- “Masyarakat adat bukan tidak mau belajar, mereka hanya tidak mau kehilangan martabatnya.”[3]
- Pendidikan seharusnya membebaskan manusia, bukan menjadikannya tercerabut dari akar budayanya.”[3]
- “Orang rimba tidak bodoh; merekalah yang paling tahu cara hidup selaras dengan alam.”[2]
- “Belajar membaca dan menulis penting, tetapi lebih penting lagi menjaga hak hidup dan identitas.”[3]
- “Sekolah tidak selalu harus berupa gedung; ia bisa hadir di mana saja selama ada kemauan untuk belajar.”[3]
- “Ketika negara absen, pendidikan sering kali menjadi satu-satunya alat perlawanan yang bermartabat.”[3]
- “Anak-anak adat berhak atas masa depan tanpa harus kehilangan masa lalunya.”[1]
- “Literasi bukan soal huruf semata, melainkan tentang keberanian memahami dunia dan bertahan di dalamnya.”[3]
- Jadi menurut saya, setiap masyarakat adat yang sudah mengalami tekanan dari dunia luar harus belajar baca tulis, Bahasa Indonesia, hak-hak mereka, supaya menjadi setara dan seimbang untuk bernegosiasi. Bukan berarti harus menang atau kalah, kadang-kadang juga kalah. Tapi kalau tidak bisa baca tulis pasti kalah.[4]
- Kalau pendidikan membuat mereka meninggalkan hutan dan kehilangan jati diri, itu bukan kemajuan. Itu kehancuran.”[5]
- "Kalau ditanya apa yang membuatku bertahan sampai sekarang, mungkin inilah yang disebut Passion itu, kebersediaan menderita demi apa yang dipercaya. Tapi ini bukan soal berkorban. Aku gak pernah merasa berkorban di sini. Mengabdi juga enggak, karena aku mengabdi pada cita-citaku sendiri. Aku justru berterima kasih pada Orang Rimba yang sudah membantuku mewujudkan cita-citaku." [6]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 1,2 "Mengenal Butet Manurung - Inside Indonesia: The peoples and cultures of Indonesia". www.insideindonesia.org. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ 2,0 2,1 "Butet Manurung Quotes (Author of Sokola Rimba)". www.goodreads.com. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 "Butet Manurung, Jejak Dalam Membangun Pendidikan Di Masyarakat Orang Rimba – Fakultas Ilmu Pendidikan UNESA" (dalam bahasa American English). 2025-05-19. Diakses tanggal 2025-12-28.
- ↑ "Mimpi Butet Manurung untuk Masyarakat Adat di Indonesia". dw.com. Diakses tanggal 2026-03-28.
- ↑ USU, SUARA (2025-07-21). "Menyusuri Langkah Butet Manurung dalam Menyebarkan Ilmu Lewat Sokola Rimba". SUARA USU (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2026-03-28.
- ↑ Muamar, Abul (2023-09-10). "Butet Manurung, Memberikan Pendidikan yang Memerdekakan untuk Masyarakat Adat Orang Rimba Green Network Asia - Indonesia". Green Network Asia - Indonesia (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-03-28.