Lompat ke isi

Bina Bektiati

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Bina Bektiati merupakan jurnalis dan pengarang asal Indonesia. Bina merupakan penulis untuk Majalah Tempo, ia membantu pendirian Aliansi Jurnalis Independen setelah Tempo dilarang pada 1994. Pernah diusir sebentar dari Indonesia, Bina memenangkan Courage in Journalism Awards di tahun 1997. [1][2]

  1. Apa makna fenomena kopi kekinian dalam dunia persilatan kopi? Secara umum: agar bisa menjangkau konsumen yang lebih banyak dan luas, terutama di kalangan anak muda. Maka kreativitas dalam mengolah produk minuman kopi menjadi niscaya. Agar kopi tidak sebatas hitam, tubruk, atau yang lebih ‘modern’: americano, cappuccino dan coffee latte. Agar kopi juga menjadi wujud dari tren pergaulan, kehidupan urban, dan bagian dari ekspresi diri.[3]
  2. Kata kunci dari kopi kekinian adalah: kreativitas, anak muda, dan pasar. Memang tidak ada yang salah, karena agar ‘hilirisasi’ kopi bisa berhasil menggerakkan ekonomi, maka ketiga faktor tersebut perlu benar-benar diperhitungkan. Dan memang terbukti. Kopi kekinian di Indonesia telah melahirkan merek-merek waralaba seperti Kopi Kenangan, Kopi Janji Jiwa, Kopi Lain Hati, yang kedai-kedainya sudah tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Desain eksterior dan interior kedai, beragam pilihan kemeriahan rasa kopi, serta kudapan menjadi paket lengkap tempat nongkrong kopi kekinian. Jangan lupa, ada juga titik-titik untuk swafoto yang siap diviralkan.[3]
  3. Berikutnya, Indonesia adalah satu-satunya negara penghasil kopi yang merupakan negara kepulauan. Brazil, Vietnam, Kolombia adalah negara kontinen. Selain itu, Indonesia juga satu-satunya negara penghasil kopi yang berada di kawasan cincin api (ring of fire). Dengan keistimewaan tersebut, Indonesia memiliki jumlah kopi khas suatu daerah (single origin) yang paling banyak dan beragam dibanding negara-negara penghasil kopi lainnya. Bayangkan, keberagaman asal ekosistem kopi Indonesia – kita kenal kopi Gayo, Sidikalang, Temanggung, Ijen, Kintamani, dan banyak lagi– memberikan paduan rasa dan aroma yang berbeda pula.[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Melawan Lupa, AJI Gelar Pameran Foto Reformasi 1998 | AJI - Aliansi Jurnalis Independen". aji.or.id. Diakses tanggal 2025-12-10.
  2. "Bina Bektiati - IWMF". www.iwmf.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-10.
  3. 3,0 3,1 3,2 "Ayo Cerita tentang Kopi, Sebelum Kopi Tinggal Cerita | Biodiversity Warriors | Kehati" (dalam bahasa American English). 2024-10-01. Diakses tanggal 2025-12-10.