Lompat ke isi

Ayisha Siddiqa

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Ayisha Siddiqa (lahir di Jhang, Pakistan, 20 Agustus 2000[1]) adalah seorang pembela hak asasi manusia dan hak atas tanah ulayat dari wilayah kesukuan Moochiwala dan Mahsan di Pakistan Utara. Ia merupakan salah satu pendiri Polluters Out dan Fossil Free University, yang merupakan inisiatif-inisiatif berorientasi pada keadilan iklim. Pekerjaannya berfokus pada memperjuangkan hak asasi manusia bagi komunitas marjinal yang terdampak oleh perubahan iklim. Saat ini, ia menjabat sebagai peneliti di NYU School of Law, yang berupaya menjembatani sektor lingkungan dan hak asasi manusia dengan gerakan iklim oleh pemuda.[2]

  • Art makes life worth living, and in my opinion, it’s what makes humans worth the fight. Like all of the things that we leave behind, all the creations, wouldn’t it be so unfortunate if there’s nobody on the other side to witness and observe them? [3]
  • Seni membuat hidup ini layak dijalani, dan menurutku, hal inilah yang membuat kemanusiaan layak untuk diperjuangkan. Seperti semua hal yang kita wariskan, semua karya cipta kita, akan sangat menyedihkan jika di masa depan tidak ada lagi orang yang bisa menyaksikan dan menikmatinya? [3]
  • My work is in defense of life. By default, its defense of the rights of women. Therefore, it’s also by default human rights.[3]
  • Perjuanganku adalah demi menjaga hidup. Di dalamnya, termaktub pembelaan terhadap hak-hak perempuan. Dan karenanya, ia menjelma menjadi perjuangan bagi kemuliaan martabat manusia.[3]
  • I was raised with the idea that the earth is a living being, that she gives life to you and in return, you have a responsibility. [3]
  • Sejak kecil aku diajar untuk percaya bahwa bumi adalah sosok yang hidup. Ia menyemai kehidupan di dalam dirimu, dan sebagai balas budinya, ada tanggung jawab yang terpatri dalam dirimu.[3]
  • I am young now. Tomorrow, I won’t be. I absolutely love working with people younger than me to pass on this knowledge so that the chain never breaks. [3]
  • Kini aku berusia muda, esok tidak lagi. Maka kupilih untuk merengkuh jiwa-jiwa muda, menitipkan ilmu dan pengetahuanku agar garis sejarah ini tetap utuh, dan mata rantainya abadi tak terputus. [3]
  • We have reached a point where we are collectively ignoring the cries of mother earth. This is how the climate crisis is linked to women and girls because of the same structures that are abusing, hurting, and taking without consent. This is how we treat planet earth. This is how we treat the very thing which gives us life. [4]
  • Kita telah sampai pada titik di mana kita menulikan diri dari jerit pilu Ibu pertiwi. Di sinilah krisis iklim berkelindan dengan nasib perempuan; sebab keduanya terjerat dalam belenggu yang sama yaitu kuasa yang menyakiti, menindas, dan merampas paksa tanpa persetujuan. Demikianlah cara kita memperlakukan bumi. Demikianlah cara kita membalasnya, satu-satunya sumber yang memberi kita napas kehidupan. [4]

Sumber Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Ayisha Siddiqa. 2025-10-07.
  2. "Ayisha Siddiqa". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 3,6 3,7 Mandel, Kyla. Ayisha Siddiqa Is Using Her Voice to Defend Mother Earth (dalam bahasa Inggris).
  4. 4,0 4,1 APP (2023-03-04). "Time's Women of the Year 2023 include Pakistani activist Ayisha Siddiqa". Aaj English TV (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.