Lompat ke isi

Arundhati Roy

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Arundhati Roy lahir 24 November 1961 di Shillong, yang pada saat itu merupakan bagian dari Assam (kini berada di wilayah Meghalaya), di keluarga Kristen. Ia adalah putri dari Mary Roy, seorang aktivis perempuan asal Kerala yang menganut Kristen Yakobit Suryani, dan Rajib Roy, seorang Kristen Bengali yang bekerja sebagai manajer perkebunan teh di Kolkata, Bengal Barat.[1] Arundhati Roy merupakan seorang novelis dan aktivis asal India. Ia memenangkan Booker Prize pada 1997 untuk novel pertamanya The God of Small Things. Novel tersebut menjadi buku terlaris yang ditulis oleh penulis India nonekspatriat.[2]

  1. Mencintai. Dicintai. Tak pernah melupakan ketidakberartianmu sendiri. Tak pernah terbiasa dengan kekerasan yang tak terucapkan dan ketimpangan vulgar kehidupan di sekitarmu. Mencari kebahagiaan di tempat-tempat paling menyedihkan. Mengejar keindahan hingga ke sarangnya. Tak pernah menyederhanakan yang rumit atau memperumit yang sederhana. Menghormati kekuatan, tak pernah berkuasa. Di atas segalanya, mengamati. Mencoba memahami. Tak pernah berpaling. Dan tak pernah, tak pernah melupakan.
  2. Itulah akibat kata-kata yang ceroboh. Kata-kata itu membuat orang-orang kurang mencintaimu.
  3. Dan udara dipenuhi dengan pikiran dan hal-hal yang ingin kukatakan. Namun, di saat-saat seperti ini, hanya hal-hal kecil yang terucap. Hal-hal besar tersembunyi di dalam.
  4. Perubahan itu satu hal, penerimaan itu hal lain.
  5. Sebenarnya tidak ada yang namanya 'tak bersuara'. Yang ada hanyalah mereka yang sengaja dibungkam, atau mereka yang lebih baik tidak didengar.
  6. Dunia lain bukan hanya mungkin, ia sedang menuju ke sana. Di hari yang tenang, aku bisa mendengar napasnya.
  7. Ketika kamu menyakiti orang lain, cinta mereka padamu pun berkurang. Itulah akibat kata-kata yang ceroboh. Kata-kata itu membuat cinta orang lain padamu berkurang sedikit.
  8. Ia melipat ketakutannya menjadi setangkai mawar yang sempurna. Ia menggenggamnya di telapak tangannya. Wanita itu mengambilnya dan menyelipkannya di rambutnya.
  9. Tak ada yang terlalu penting. Tak ada yang terlalu penting. Dan semakin tak penting, semakin tak penting. Tak pernah cukup penting. Karena hal-hal yang lebih buruk telah terjadi. Di negara asalnya, yang selalu berada di antara teror perang dan kengerian perdamaian, hal-hal yang lebih buruk terus terjadi.
  10. Bagaimanapun, begitu mudah untuk menghancurkan sebuah cerita. Memutus rantai pemikiran. Merusak sepenggal mimpi yang dibawa dengan hati-hati seperti sepotong porselen. Membiarkannya begitu saja, membawanya bepergian, seperti yang dilakukan Velutha, adalah hal yang jauh lebih sulit.
  11. Kalau dia menyentuhnya, dia tidak bisa bicara padanya, kalau dia mencintainya, dia tidak bisa pergi, kalau dia bicara, dia tidak bisa mendengarkan, kalau dia bertarung, dia tidak bisa menang
  12. Sungguh mengherankan bagaimana terkadang kenangan akan kematian dapat bertahan lebih lama daripada kenangan akan kehidupan yang dicuri.[3]

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. Dey, Debalina (06 September 2020). "Arundhati Roy joins Shashi Tharoor, Kangana Ranaut in list of 'casteless' upper-caste Indians In a recent event for her new book, the author claimed she wasn't Brahmin because her mother is Christian and her father belonged to the Brahmo Samaj". theprint. Diakses tanggal 04 Desember 2025.
  2. Kurnia, Anton (2019). Ensiklopedia Sastra Dunia. Yogyakarta: Diva Press. hlm. 47. ISBN 978-602-391-662-7.. Pemeliharaan CS1: Status URL (link)
  3. Roy (Arundhati). "Kutipan Arundhati Roy". Goodreads. Diakses tanggal 04 Desember 2025.