Lompat ke isi

Artie Ahmad

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.

Artie Ahmad adalah seorang penulis novel dan cerita pendek. Ia lahir di Salatiga, 21 November 1994. Beberapa novel telah ditulis seperti Sunyi di Dada Sumirah, Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri, dan Nyi Sadikem.[1]

Novel Sunyi Di Dada Sumirah

[sunting | sunting sumber]

"Kemerdekaa adalah hal yang begitu mahal. Bagiku memang seperti itu, sejak berpuluh tahun lalu. Kemerdekaanku sudah tergadai bahkan sebelum aku paham kenapa di dunia ini hidup seseorang bisa serumit diriku."[1]

"Kita perlu membela diri kita sendiri. Tak perlu khawatir, Tuhan tak akan marah."[1]

"Takdir seorang manusia tak ubahnya pahatan alam. Ada kalanya banyak hal yang tak bisa dikendalikan diri sendiri. Dalam membawa hati pun demikian juga."[1]

"Tidur adalah cara terbaik untuk mengusir kebebalan dan segala hal yang memuakkan."[1]

Novel Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri

[sunting | sunting sumber]

"Cinta terlahir dari rasa kasih di dalam naluri setiap makhluk hidup. Namun, tanpa kerja akal, dia tak akan bisa berjalan sebagaimana mestinya."[2]

"Daun-daun teh terlihat basah karena embun. Kabut pagi ini turun, cuaca menjadi sangat dingin. Menuju tengah hari, matahari mulai bersinar lebih terik."[3]

"Tetaplah jadi orang baik, apa pun kondisimu!"[4]

"Kita serupa namun tak sama. Kamu miskin harta, aku miskin hati."[4]

Novel Persekutuan Perempuan-perempuan Lajang

[sunting | sunting sumber]

"Tak ada istilah sembuh tanpa adanya luka. Tak ada kebahagiaan tanpa adanya kesedihan."[5]

Cerpen Romansa Bertetangga

[sunting | sunting sumber]

"Bukan saja pembangunan yang mengubah desa kami, tapi hajat hidup dan manusia-manusia di dalam desa perlahan berubah pula. Seiring waktu kami disibukkan dengan pekerjaan di luar desa. Masih banyak yang mengabdikan diri sebagai petani, tapi sayangnya tak ada lagi pemuda yang tertarik meneruskan pekerjaan moyang itu."[6] "Anak-anak muda di desa lebih banyak memilih bekerja di pabrik atau bahkan mengais rezeki di kota besar, berpeluh di tengah sawah bukan pilihan lagi. Mereka enggan lantaran menjadi petani dianggap pendapatannya tak pasti, terlebih lagi ketika gagal panen, belum susahnya lantaran pupuk mahal, dan segala macam kemuraman menjadi garda penjaga pangan."[6]

Cerpen Pulang Tanpa Kampung Halaman

[sunting | sunting sumber]

"Dirimu selalu dicekam rindu, aku memahami betul hal itu. Sungguh, andai aku bisa menunaikan rasa rindumu, tentu sudah kutunaikan sejak dulu."[7]

"Aku memang tak bisa berkata banyak lewat lisan, aku tak bisa mengungkapkan betapa menderitanya aku saat melihat kedua matamu merebak lantaran tangis sebab kau rindu kampung halamanmu yang telah kautinggalkan berpuluh tahun lalu. Aku tahu betapa menderitanya engkau menanggung kenangan dan rasa ingin pulang."[7]

Daftar Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1,0 1,1 1,2 1,3 1,4 author. "Sunyi di Dada Sumirah" karya Artie Ahmad". Sanglah Institute. Diakses tanggal 2025-12-28.
  2. "Cinta yang Bodoh Harus Diakhiri". Goodreads (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-28.
  3. "Risalah Teh & Tiga Keluarga". Goodreads (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-28.
  4. 4,0 4,1 "Review Novel Risalah Teh dan Tiga Keluarga Karya Artie Ahmad - MenulisID - Every sentence is precious, never stop loving literacy✨" (dalam bahasa American English). 2025-11-06. Diakses tanggal 2025-12-28.
  5. "Persekutuan Perempuan-Perempuan Lajang". Goodreads (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-28.
  6. 6,0 6,1 "Bot Verification". ruangsastra.com. Diakses tanggal 2025-12-28.
  7. 7,0 7,1 "Bot Verification". ruangsastra.com. Diakses tanggal 2025-12-28.