Annie Ernaux
Annie Ernaux atau dikenal sebagai Annie Duchesne (lahir di Lillebonne, 1 September 1940) adalah seorang penulis Prancis yang dikenal karena memoar-memoar yang sedikit difiksikan (lightly fictionalized memoirs) yang ditulis dalam prosa yang sederhana dan terpisah (spare, detached prose), yang dengan berani mengungkap akar, keterasingan, dan hambatan kolektif dari ingatan pribadinya. Karyanya sering mengeksplorasi tema-tema universal melalui pengalamannya sendiri, seperti jarak kelas sosial, aborsi ilegal, pernikahan yang bermasalah, dan pengalaman hidup sebagai perempuan pada abad ke-20 dan ke-21, termasuk dalam karya-karya penting seperti La Place (A Man's Place), Une Femme (A Woman's Story), dan Les Années (The Years). Atas keseluruhan karyanya, Ernaux dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada tahun 2022.[1]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- It was life situations in which the weight of difference between a woman’s existence and that of a man was keenly felt in a society where roles were defined by gender, where contraception was prohibited and termination of pregnancy a crime.[2]
- Situasi kehidupan saat itu sangatlah terasa perbedaan besar antara keberadaan perempuan dan laki-laki di dalam masyarakat di mana peran didefinisikan oleh gender, di mana kontrasepsi dilarang, dan pengguguran kandungan adalah sebuah kejahatan.[2]
- How can one reflect on life without also reflecting on writing? Without wondering whether writing reinforces or disrupts the accepted, interiorized representations of beings and things? With its violence and derision, did insurgent writing not reflect the attitude of the dominated? When the reader was culturally privileged, he maintained the same imposing and condescending outlook on a character in a book as he would in real life.[2]
- Bagaimana seseorang dapat merenungkan kehidupannya tanpa melakuan perenungan atas tulisannya? Tanpa mempertanyakan apakah penulisan memperkuat atau mengganggu penerimaan, mewakili internalisasi keberadaan makhluk dan benda? Adanya kekerasan dan ejekan, pemberontakan karya akan mencerminkan sikap kaum yang didominasi? Ketika pembaca memiliki hak istimewa secara budaya, ia mempertahankan kesamaan pandangan yang mendominasi dan merendahkan karakter dalam sebuah buku seperti yang ia lakukan dalam kehidupan nyata.[2]
- This commitment through which I pledge myself in writing is supported by the belief, which has become a certainty, that a book can contribute to change in private life, help to shatter the loneliness of experiences endured and repressed, and enable beings to reimagine themselves. When the unspeakable is brought to light, it is political.[2]
- Komitmen dimana saya bersumpah menjadi penulis, didukung oleh keyakinan, yang kemudian menjadi kepastian, bahwa sebuah buku dapat berkontribusi dalam mengubah kehidupan pribadi, membantu menghancurkan kesepian yang dialami karena penderitaan dan tekanan, serta memungkinkan manusia untuk membayangkan kembali diri mereka. Ketika hal yang tak terkatakan diangkat ke permukaan, hal tersebut menjadi politik.[2]
- For me, the library has always been the symbol of the educated class. Books, as soon as I could read, were the object of an almost unquenchable desire. Until the age of eighteen, this desire was difficult to satisfy because books were expensive and we didn’t dare to go to the public library - which was only open, to tell the truth, two hours a week! It was not a place for us.[3]
- Bagi saya, perpustakaan selalu menjadi simbol kelas terpelajar. Buku, sejak saya bisa membaca, adalah objek dari keinginan yang hampir tak pernah terpuaskan. Hingga usia delapan belas tahun, keinginan tersebut sulit dipenuhi karena harga buku mahal dan kami tidak berani pergi ke perpustakaan umum - yang sejujurnya, hanya buka dua jam seminggu! Itu bukan tempat untuk kami.[3]
- I lived in books. They were a great source of knowledge and probably gave me this famous way with words. In fact, this was a way with the written word, not with speech: for a long time I spoke like everyone else around me, while I tried to write like in books, and the words in books seemed wonderful to me.[3]
- Buku adalah duniaku. Buku-buku adalah sumber pengetahuan yang hebat dan mungkin membuat saya terkenal akan kemampuanku dalam merangkai kata-kata. Sebenarnya, hal ini adalah kemampuan menggunakan kata-kata tertulis, bukan dengan ucapan: untuk jangka waktu yang lama saya berbicara seperti semua orang di sekitar saya, sementara saat saya mencoba menulis seperti yang tercetak di buku, dan kata-kata dtersebut tampak luar biasa bagi saya.[3]
- I don’t like stained books or fingerprints on the cover. That’s why I’m reluctant to lend my books out, except to people who are used to taking care of them. I don’t understand why anyone would dare to return a dirty book. So, I maintain a form of respect for this object. Above all, I attach so much value to what a book is, that I am able to throw one away when its content disgusts me. It’s a symbolic gesture: it won’t change anything about its circulation, but I don’t want to keep this book at home, to become its unwitting courier.[3]
- Saya tidak suka buku yang bernoda atau ada sidik jari di sampulnya. Itulah sebabnya saya enggan meminjamkan buku saya, kecuali kepada orang-orang yang terbiasa merawatnya. Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang berani mengembalikan buku yang lusuh. Jadi, saya mempertahankan bentuk rasa hormat terhadap benda tersebut. Di atas segalanya, saya sangat menghargai makna sebuah buku, sehingga saya sanggup membuang satu buku ketika isinya membuat saya jijik. Hal tersebut adalah gerakan simbolis: yang tidak akan mengubah apa pun tentang peredarannya, tetapi saya tidak ingin menyimpan buku tersebut di rumah, sehingga menjadi penyampai pesan yang tidak disengaja.[3]
- Reading is an experience that invisibly engages the totality of one’s being: all the senses are called into play by the imagination. And what remains elusive is the voice of the book – missing in the adaptation of a novel to the screen – a voice whose tone, colour, gentleness or violence lives on in the memory.[4]
- Membaca adalah pengalaman tersirat yang melibatkan totalitas keberadaan seseorang: semua indra hadir dan berperan dalam imajinasi. Dan yang tetap sulit dipahami adalah makna buku – yang hilang dalam adaptasi novel menjadi film – suara yang nada, warna, kelembutan, atau kekerasannya hidup selamanya dalam ingatan.[4]
- A painting, a book, or a film that depicts an abortion ‘puts something into the world’: it’s no longer something personal, hidden, or only a women’s problem, but that it concerns all of humanity.[5]
- Sebuah lukisan, buku, atau film yang menggambarkan tentang aborsi telah 'menempatkan sesuatu ke dalam dunia': hal itu bukan lagi sesuatu yang bersifat intim, tersembunyi, atau hanya masalah perempuan, tetapi itu menyangkut seluruh umat manusia.[5]
- I wanted to record what it felt like to be a woman without the right to self-determination. You can no longer imagine what it was like when abortion was illegal. Nobody helped you – neither doctors, nor friends, nor your family. They all looked the other way. It was a feeling of immense loneliness. [6]
- Saya ingin merekam bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan tanpa hak untuk menentukan nasib sendiri. Anda tidak bisa lagi membayangkan bagaimana rasanya ketika aborsi itu ilegal. Tidak ada yang membantu anda – baik dokter, teman, maupun keluarga anda. Mereka semua memalingkan muka. Hal tersebut merupakan rasa kesepian yang luar biasa.[6]
Sumber Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Zelazko, Alicja. "Annie Ernaux". Britannica. Diakses tanggal 3 Desember 2025.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 2,5 "Nobel Prize in Literature 2022". NobelPrize.org (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 3,5 "Nobel Prize Winner Annie Ernaux Speaks on How Class Shapes Her Writing". jacobin.com (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 4,0 4,1 "Reading, memories and notes – Annie Ernaux" (dalam bahasa Inggris (Britania)). Diakses tanggal 2025-12-03.
- ↑ 5,0 5,1 Elkin, Lauren (2022-04-03). ‘It plunged me back to waiting for a period’: Annie Ernaux and Audrey Diwan on abortion film Happening (dalam bahasa Inggris (Britania)). ISSN 0261-3077.
- ↑ 6,0 6,1 "Annie Ernaux: "Maybe that's exactly what I'm here for"". Swiss Life Group (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-03.