Anielle Franco
Anielle Francisco da Silva GCRB (lahir di Rio de Janeiro, 3 Mei 1984[1]) adalah Menteri Kesetaraan Ras Brasil, penulis, dan aktivis kemanusiaan yang lahir serta dibesarkan di Favela da Maré, Rio de Janeiro. Sebagai sarjana jurnalisme dan sastra Inggris dengan gelar magister dalam hubungan etnis-rasial, ia kini menempuh studi doktoral dalam linguistik terapan di Universitas Federal Rio de Janeiro. Anielle merupakan sosok sentral di balik Marielle Franco Institute, yang didirikannya untuk merawat warisan perjuangan mendiang saudarinya, Marielle Franco, melalui karya tulis seperti "Letter to Marielle" serta partisipasinya dalam edisi Brasil autobiografi Angela Davis. Di garis depan perjuangan demi keadilan, ia mendedikasikan suaranya untuk menginspirasi kaum perempuan, anak perempuan, dan komunitas kulit hitam prasejahtera di seluruh dunia dalam upaya merombak struktur sosial yang timpang.[2]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- We’re all the same. It doesn’t matter what the colour of your skin is, your sexual preference, the region where you were born, your gender. We’re all equal. We can’t take certain minorities and think they have superpowers and are different from the others. [3]
- Kita semua adalah sesama makhluk hidup. Tak ada beda dalam warna, cinta, asal, maupun rupa. Kita setara. Tak ada kaum yang memiliki kekuatan lebih tinggi dari yang lain, sebab pada akhirnya, kita semua adalah manusia yang sama.[3]
- Women need security. Safety. What my sister didn’t have. What so many women human rights defenders don’t have.[4]
- Perempuan membutuhkan rasa aman. Sebuah perlindungan yang utuh. Sesuatu yang tak sempat dimiliki saudariku. Sesuatu yang hingga kini masih menjadi kemewahan bagi begitu banyak perempuan pejuang hak asasi manusia.[4]
- As a society, we need to have a frank and honest conversation that countries all over the world are already having. We need to face the reality that these policies of war in the favelas and peripheries have never worked. On the contrary, they just continue to rip apart families and feed a cycle of endless violence. [5]
- Mari bicara jujur sebagai sesama manusia: perang di pemukiman miskin favela dan pinggiran kota ini gagal total. Alih-alih menyembuhkan, ia hanyalah mesin yang memisahkan anak dari ibunya, mencabik keluarga, dan merawat dendam dalam siklus kekerasan yang tiada akhir.[5]
- If the world we want to live in is one where all people have the same right and opportunity to be happy, with freedom, respecting one another, in peace, harmony, justice and dignity, it’s high time we stop repeating the failed formulas that don’t deliver any of this! [5]
- Kita mendamba dunia yang bahagia, merdeka, dan adil bagi semua. Namun, mimpi itu takkan nyata jika kita terus memeluk formula yang gagal. Hentikan pengulangan sia-sia ini, dan mari bangun jalan baru menuju martabat manusia yang sejati.[5]
- We are talking of hierarchical racial differences that establish unequal material conditions of life and death for Brazilians. We can no longer ignore or underestimate the fact that race and ethnicity are determining factors in the inequality of opportunities in Brazil in all areas of life. Black people are underrepresented in spaces of power and, conversely, we are the majority in spaces of stigmatization and vulnerability.[5]
- Ada kasta yang tak kasatmata namun nyata, yang membedakan napas kehidupan dan kepedihan kematian bagi rakyat Brasil. Ras dan etnis bukan sekadar identitas, melainkan penentu langkah dalam mengejar mimpi. Betapa pedihnya kami yang berkulit hitam begitu jarang menghuni ruang-ruang penentu kebijakan, sementara kami dipaksa menjadi penghuni setia di sudut-sudut luka dan penghakiman sosial.[5]
- We recognize the social movements’ demands in relation to the need for an institutional framework specifically for the formulation, coordination, and articulation of government policies and guidelines that promote racial equality.[5]
- Kami mengakui bahwa keadilan ras butuh wadah yang nyata. Inilah saatnya membangun kerangka kelembagaan untuk meramu dan menyatukan kebijakan negara; sebuah struktur yang berdiri tegak demi mewujudkan kesetaraan bagi setiap warna kulit dan etnis tanpa terkecuali.[5]
- Racism warrants an effective response, and we would like to invite everyone; women, men, and non-binary people, Black and white, to formulate and execute this proposal together.[5]
- Rasialisme menuntut sebuah jawaban yang nyata, dan kami mengundang setiap jiwa: perempuan, lelaki, dan mereka yang non binary; baik berkulit hitam maupun berkulit putih untuk bersama-sama merajut dan mewujudkan harapan ini. Mari kita lukis masa depan ini dengan saling berpegangan tangan.[5]
- Even when life is hard, we need to keep our eye on the future. We can’t afford to lose time. My family knows this well. [6]
- Bahkan saat kehidupan terasa begitu menghimpit, mata kita harus tetap menatap jauh ke masa depan. Kita tak punya kemewahan untuk membuang waktu dalam kesia-siaan. Keluargaku memahami kepahitan ini dengan sangat dalam; bahwa waktu adalah satu-satunya jembatan menuju perubahan.[6]
Sumber Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Anielle Franco (dalam bahasa Inggris). 2025-11-08.
- ↑ "Anielle Franco". World Economic Forum (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ 3,0 3,1 Foggin, Sophie (2018-11-05). "Marielle Franco's sister speaks out against Bolsonaro's stance on minorities". Brazil Reports (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ 4,0 4,1 Louter, Lysanne (2018-11-26). "Brazil: Join Anielle Franco in demanding justice for her sister Marielle". Amnesty International Canada (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ 5,00 5,01 5,02 5,03 5,04 5,05 5,06 5,07 5,08 5,09 "'Let's Walk Together': Brazilian Minister of Racial Equality Anielle Franco's Inauguration Speech in Full – RioOnWatch" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-21.
- ↑ 6,0 6,1 "Marielle Franco Is Gone. Her Legacy Endures". www.opensocietyfoundations.org (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-21.