Lompat ke isi

Angkhana Neelaphaijit

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Angkhana Neelaphaijit
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Angkhana Neelaphaijit (lahir 23 Maret 1956) adalah aktivis pejuang HAM dan senator Thailand yang terpilih pada 2024. Ia merupakan mantan Komisioner Hak-Hak Asasi Manusia Nasional Thailand yang menjabat dari 2015 hingga 2019. Angkhana adalah istri dari pengacara dan aktivis HAM Somchai Neelapaijit yang dihilangkan paksa pada 12 Maret 2004. Angkhana menerima Penghargaan Ramon Magsaysay pada 2019 dan Gwangju Prize for Human Rights pada 2006.[1]

Penghilangan paksa Somchai Neelapaijit

[sunting | sunting sumber]
  • One thing you have to admit is that in a case of human rights violations or finding a missing person or the culprit, the important thing is political will. If the government has the will to do something, it can be done. It’s just a matter of whether they will do it or not."[2]
    • Satu hal yang harus diakui adalah bahwa dalam kasus pelanggaran hak asasi manusia atau pencarian orang hilang atau pelakunya, yang terpenting adalah kemauan politik. Jika pemerintah memiliki kemauan untuk melakukan sesuatu, hal itu bisa dilakukan. Masalahnya hanya apakah mereka akan melakukannya atau tidak.
  • At that time, I asked them if there was really a file on Somchai’s case, or if there was just a folder. Was there anything inside? Because I asked them many times to see it, and they never let me see what investigation they had done."[2]
    • “Saat itu, saya bertanya apakah benar-benar ada berkas kasus Somchai, atau hanya berupa map. Apakah ada sesuatu di dalamnya? Karena saya sudah berkali-kali meminta mereka untuk melihatnya, dan mereka tidak pernah mengizinkan saya melihat investigasi apa yang telah mereka lakukan.”
  • I still think today that if this didn’t happen, I would be an ordinary woman. I would be retired now and would want an ordinary life. When I’m alone, I always think back that if it didn’t happen, if Somchai hadn’t gone missing, I would probably live a simple life. Sometimes I see elderly couples together, husband and wife, and when I see them, I have never thought that one day we would get to live our lives as elderly people holding hands, because in our lives, we have never gone anywhere together, because [Somchai] always had his work and he always said that he would keep working until he had no energy left.”[2]
    • "Saya masih berpikir hingga kini, jika ini tidak terjadi, saya akan menjadi perempuan biasa. Saya akan pensiun sekarang dan menginginkan kehidupan yang biasa saja. Saat sendirian, saya selalu berpikir, jika ini tidak terjadi, jika Somchai tidak hilang, mungkin saya akan hidup sederhana. Terkadang saya melihat pasangan lansia bersama, suami istri, dan ketika saya melihat mereka, saya tidak pernah menyangka suatu hari nanti kami akan menjalani hidup sebagai lansia yang bergandengan tangan, karena dalam hidup kami, kami tidak pernah pergi ke mana pun bersama, karena [Somchai] selalu punya pekerjaan dan dia selalu bilang akan terus bekerja sampai habis tenaganya."
  • “I may die without knowing the truth, but I hope that the next generation will continue to question the state, that they will continue to remember those who were disappeared, that they will continue to make demands about these things. Even if I’m not here anymore, but from my experience in other countries, I see that the families and society must help each other keep asking questions. Asking questions is part of preventing this from happening again, because in fact, enforced disappearance can happen to anyone. Officials themselves can also be made to disappear.”[2]
    • Saya mungkin mati tanpa mengetahui kebenarannya, tetapi saya berharap generasi mendatang akan terus mempertanyakan negara, bahwa mereka akan terus mengenang mereka yang dihilangkan, bahwa mereka akan terus menuntut hal-hal ini. Meskipun saya tidak ada di sini lagi, dari pengalaman saya di negara lain, saya melihat bahwa keluarga dan masyarakat harus saling membantu untuk terus bertanya. Mengajukan pertanyaan adalah bagian dari upaya mencegah hal ini terulang, karena faktanya, penghilangan paksa bisa terjadi pada siapa saja. Para pejabat sendiri juga bisa dihilangkan paksa.

Pengalaman dan pandangan sebagai perempuan pejuang HAM

[sunting | sunting sumber]
  • "I want to say that actually, most women experience conflict and violence in a different way than most men. They also develop unique skills and expertise for resisting, addressing and preventing conflict. Work on justice and peace cannot afford to neglect constructive contributions of women. You should not lose hope and always be strong and courageous to make changes."[3]
    • Saya ingin mengatakan bahwa sebenarnya, kebanyakan perempuan mengalami konflik dan kekerasan dengan cara yang berbeda dibandingkan kebanyakan laki-laki. Mereka juga mengembangkan keterampilan dan keahlian unik untuk melawan, menangani, dan mencegah konflik. Perjuangan untuk keadilan dan perdamaian tidak boleh mengabaikan kontribusi konstruktif perempuan. Jangan putus asa dan selalu kuat serta berani untuk melakukan perubahan.
  • "...as a woman it makes it easy for me to talk with people. I can build alliances and create channels to give voice to the voiceless. I have spoken to hundreds of survivors of human rights abuses and organized support for families in despair. Never having lost hope in the political and judicial system, I have worked with stakeholders across all sectors to influence changes and structural transformation to ensure Thailand lives up to its promises and obligations".[3]
    • ...berstatus sebagai perempuan memudahkan saya untuk berbicara dengan orang lain. Saya dapat membangun aliansi dan menciptakan saluran untuk menyuarakan mereka yang tak mampu bersuara. Saya telah berbicara dengan ratusan penyintas pelanggaran hak asasi manusia dan mengorganisir dukungan bagi keluarga yang putus asa. Tak pernah kehilangan harapan dalam sistem politik dan peradilan, saya telah bekerja dengan para pemangku kepentingan di semua sektor untuk mendorong perubahan dan transformasi struktural guna memastikan Thailand memenuhi janji dan kewajibannya.
  • "Like anywhere else for those who work to promote human rights, I have often been challenged by unknown people about my work for human rights and rights of women left behind. As a Muslim woman who works on women’s rights issues, personal security is my concern."[3]
    • Seperti di tempat lain bagi mereka yang bekerja untuk memperjuangkan hak asasi manusia, saya sering ditantang oleh orang-orang tak dikenal tentang pekerjaan saya untuk hak asasi manusia dan hak-hak perempuan yang terabaikan. Sebagai seorang perempuan Muslim yang bekerja untuk isu-isu hak-hak perempuan, saya memikirkan keamanan pribadi saya.
  • I feel that what I want is to do something beyond the individual or doing something for one person. What I want to do is to make this systematic. Whoever will go missing, whoever has been disappeared, or any official who is thinking of disappearing people in the future, they won’t do it again. I’m proud that one day I can get to a point where I can help other people."[2]
    • Saya merasa yang saya inginkan adalah melakukan sesuatu yang melampaui individu atau melakukan sesuatu untuk satu orang. Yang ingin saya lakukan adalah menjadikannya sistematis. Siapa pun yang akan hilang, siapa pun yang telah hilang, atau pejabat mana pun yang berpikir untuk menghilangkan orang di masa mendatang, mereka tidak akan melakukannya lagi. Saya bangga bahwa suatu hari nanti saya bisa sampai pada titik di mana saya dapat membantu orang lain.

Latar belakang

[sunting | sunting sumber]
  • "I was born into a Muslim family in Bangkok. Despite growing up poor, my parents placed a high value on education and sent me and my sisters to good primary and secondary schools, leading me to receive a scholarship from Mahidol University to study for my nursing degree in 1976."[3]
    • Saya lahir dalam keluarga Muslim di Bangkok. Meskipun tumbuh dalam kemiskinan, orang tua saya sangat mementingkan pendidikan dan menyekolahkan saya dan saudara perempuan saya di sekolah dasar dan menengah yang baik. Hal ini membuat saya menerima beasiswa dari Universitas Mahidol untuk menempuh pendidikan keperawatan pada tahun 1976.

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. "Angkhana Neelapaijit: A beacon of hope in Thailand's murky new Senate". Thai PBS World. 30 September 2024. Diakses tanggal 2025-12-06.
  2. 2,0 2,1 2,2 2,3 2,4 Lawattanatrakul, Anna (19 Maret 2024). "Angkhana Neelapaijit's 20 years without answers". Prachatai English. Diakses tanggal 2025-12-06.
  3. 3,0 3,1 3,2 3,3 "A crusader of human rights and dignity". UN Women Asia and the Pacific. 1 Desember 2014. Diakses tanggal 2025-12-06.