Alissa Qotrunnada
Tampilan
Alissa Qotrunnada Munawaroh Wahid atau yang lebih dikenal Alissa Wahid (lahir 25 Juni 1973 di Jombang) adalah seorang psikolog keluarga dan aktivis sosial terkait multikulturalisme, demokrasi, hak asasi manusia, dan gerakan Muslim moderat di Indonesia. Dia adalah anak sulung Presiden ke-empat Indonesia, Abdurrahman Wahid. Saat ini, ia fokus pada pengembangan kepemimpinan bagi pemimpin pemuda lintas agama.[1][2]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]- "Ketika kita beragama, kita mengambil peduli terhadap tanah air kita.”[2]
- "Urgensi personel Kementerian Agama mempunyai tiga peran: sebagai tokoh agama, sebagai warga negara Indonesia, dan sebagai penyelenggara urusan agama yang harus menggunakan kacamata negara dalam melihat masalah agama."[2]
- "Ketika tanah mereka diambil, baik dengan intimidasi soft maupun kasar, wajar rakyat mulai melawan. Mereka tidak butuh orang luar. Naiflah yang menganggap rakyat tidak punya nurani, nalar dan kearifannya, sehingga butuh provokasi dari luar untuk berjuang."[3]
- “Para pejabat ini menganggap urusan tanah hanya urusan harga yang lebih tinggi. Bukan soal jati diri, sejarah, dan penghidupan sang rakyat."[3]
- “Selama Rakyat dipandang rendah dan lemah, boleh dikorbankan, atas nama pembangunan yang berpihak hanya pada keleluasaan bisnis, selama itu pula kisah-kisah tragis seperti Pubabu, Pohuwato, Kendeng, Rembang, Sukolilo Kendal, Lampung, dan Rempang akan terus terulang. Sampai kapan?”[3]
- "I realised then that this work isn’t just nice talk. This is about defending freedoms, protecting people, especially vulnerable groups.”[4]
- "Saya sadar saat itu bahwa pekerjaan ini bukan sekadar kata-kata manis. Ini tentang membela kebebasan, melindungi orang-orang, terutama kelompok yang rentan.”
- “Many things can be mobilised by using religion. Religion can be a good thing or also misused as a tool for conflict.”[4]
- “Banyak hal dapat dimobilisasi dengan menggunakan agama. Agama bisa menjadi hal yang baik atau juga disalahgunakan sebagai alat untuk konflik.”
- "(How interreligious dialogue) is really needed to get some misperceptions, misunderstandings, and prejudices out of the way so we can go ahead and think of a better world.”[4]
- "(Bagaimana dialog antaragama) sangat dibutuhkan untuk menghapus beberapa kesalahpahaman, ketidakmengertian, dan prasangka agar kita bisa melangkah maju dan membayangkan dunia yang lebih baik.”
- "Politics is like dancing: one step forward, two back. Justice is elusive, but always around the corner."[4]
- "Politik itu seperti menari: satu langkah maju, dua langkah mundur. Keadilan sulit dicapai, tapi selalu ada di sekitar."
- “At the highest levels of government, we have been talking about interfaith cooperation, about respect, about bringing a more just perspective into religious lives. The real achievement will be to take that talk and establish social, physical, and psychological space where people can come together based on principles of justice and humanity.”[4]
- “Di tingkat tertinggi pemerintahan, kami telah membicarakan tentang kerja sama antarumat beragama, tentang rasa hormat, tentang membawa perspektif yang lebih adil ke dalam kehidupan beragama. Pencapaian yang sebenarnya adalah mengambil pembicaraan itu dan menciptakan ruang sosial, fisik, dan psikologis di mana orang-orang dapat berkumpul berdasarkan prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan.”
- Rakyat bukanlah musuh negara. Rakyat yang kritis itu modal untuk kemajuan negara. Jadi kalau rakyatnya tidak boleh mengkritik, itu berarti Indonesia sebagai negara pasti akan segera mengalami kemunduran,[5] - menurutnya kritik yang disampaikan rakyat, baik secara langsung maupun melalui humor, merupakan bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi.
- Kami meyakini betul bahwa humor itu dibutuhkan bukan hanya untuk sekadar guyon-guyon, tetapi memang kritik dan refleksi atas kehidupan yang jauh lebih rumit.[5] - ia menilai humor memiliki peran strategis sebagai sarana refleksi sosial dan politik yang mudah dipahami oleh masyarakat maupun penguasa.
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ "Alissa Wahid | WISE Muslim Women alissa wahid". WISE Muslim Women. 2020-09-21. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ 2,0 2,1 2,2 Annisa, Dian (2024-06-13). "Biografi Alissa Wahid: Pejuang Moderasi Beragama Perempuan Indonesia". Bincang Muslimah. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 "VIDEO Kritik Pedas Alissa Wahid di Konflik Rempang, Rakyat Selalu Dipandang Rendah". Wartakotalive.com. Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 Facebook, Share on; X, Share on; link, Email this; Related; Recent (2021-09-20). "Alissa Wahid: A Legacy of Transformation in Indonesia" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-02.
- ↑ 5,0 5,1 Ryan Aditya, Nicholas; Damarjati, Danu (13 Januari 2026). "Alissa Wahid Bela Pandji Pragiwaksono: Rakyat Bukan Musuh Negara". Kompas. Diakses tanggal 14 Januari 2026.
Pranala luar
[sunting | sunting sumber]
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai: