Aleta Baun
Mama Aleta Baun

memiliki nama asli Aleta Kornelia Baun; lahir di Lelobatan, Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, 16 Maret 1966) adalah seorang aktivis lingkungan untuk hak-hak masyarakat adat penentang penambangan marmer di Nusa Tenggara Timur.[1]Baun, yang lahir dari keluarga petani miskin, menempuh pendidikan formal melalui sekolah menengah dan mempelajari tradisi dan nilai-nilai suku, termasuk ikatan suci yang dimiliki oleh penduduk asli. Orang Molo memiliki hubungan yang erat dengan alam, mulai dari para tetua hingga perempuan di desa. Berbagi pengetahuan tersebut dengan orang lain mengawali perannya sebagai pemimpin masyarakat , dan ia diberi julukan "Mama Aleta".[2]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]1.Tubuh alam adalah tubuh yang hidup, seperti tubuh manusia. Air seperti darah, tanah seperti daging, udara seperti nafas. Jika salah satu bagian tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit.[3]
2.Tanah tidak melahirkan tanah, manusia akan bertambah banyak, namun tanah akan semakin sempit. [4]
3.Pada waktu aksi-aksi demo, perempuan-perempuan di Molo mengeluarkan payudaranya untuk menunjukkan kalau tanah kami diambil sama dengan air susu ibu diambil, dan kami tidak akan bisa menyusui lagi.[4]
4. Molo adalah jantung dan daerah tangkapan air bagi seluruh NTT. Kalau kejahatan perusakan sumber daya alam dibiarkan di Molo, mau tak mau NTT akan mengalami kesulitan, terutama kekeringan karena ia menjadi sumber mata air yang mengalirkan air hingga ke hilir. Orang-orang di sini mengakui Molo adalah jantung NTT. [4]
5.Pangan dan sumber daya alam, kalau tidak diganggu, perempuan akan sejahtera, karena segala kebutuan hidup masyarakat telah terpenuhi.[4]
6.Perempuan selama ini mungkin dianggap tak berdaya untuk berjuang, berbicara, dan mengambil keputusan. Mereka dikira tak mampu melawan siapa- siapa, tapi ketika mereka punya sumber daya alam diambil, tanah mereka dirampas, air mereka diganggu, itu seperti mencopot nyawa mereka. [4]
7.kami tidak menjual apa yang tidak bisa kami buat. [5]
8.Sebab, kepentingan perempuan adalah keberlanjutan kehidupan masyarakat di masa mendatang. [6]
9.My dream is to see women speak up, women become leaders to save the environment where they live. Impian saya adalah melihat wanita berbicara, wanita menjadi pemimpin untuk menyelamatkan lingkungan di mana mereka tinggal. [7]
10.I had faced a lot of challenges, threats. I think women like me can come together in our common struggle. Saya menghadapi banyak tantangan, ancaman. Saya pikir wanita seperti saya bisa berkumpul dalam perjuangan bersama kita. [7]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ Aleta Baun. 2025-10-07.
- ↑ Schreiber, Barbara A. "Aleta Baun". Britannica. Diakses tanggal 2025-12-1.
- ↑ rahmasari, indah (2024-09-02). "Mama Aleta Baun dan Perjuangan Masyarakat Adat Mollo" (dalam bahasa American English). Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 4,3 4,4 "Aleta Baun: Perempuan yang Menyusui Batu dan Mengasuh Tanah". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ Fund, Mama Aleta (2025-07-25). "Mama Aleta Fund Gelar Pameran Cerita Foto tentang Kisah-Kisah Perempuan yang Melawan Perusakan Lingkungan". Green Network Asia - Indonesia. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ R, Rahmadi (2017-03-14). "Mama Aleta Fund: Untuk Perempuan Pejuang dan Penyelamat Alam". Mongabay.co.id. Diakses tanggal 2025-12-01.
- ↑ 7,0 7,1 Yi, Beh Lih (2017-03-14). "Indonesian environmentalist who diced with death hopes to inspire more women". Reuters. Diakses tanggal 2025-12-01.