Adi Utarini
Tampilan


Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:
Adi Utarini (lahir 4 Juni 1965) adalah pengajar dan peneliti Indonesia. Ia merupakan peneliti di Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada. Pada Desember 2020, Adi Utarini dianugerahi penghargaan 10 peneliti paling berpengaruh di dunia oleh jurnal ilmiah Nature atas penelitiannya tentang pengurangan demam berdarah dengue melalui intervensi nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta. Pada 2021, nama Utarini masuk ke dalam Time 100 yaitu daftar 100 Orang Paling Berpengaruh versi majalah Time.[1][2]
Kutipan
[sunting | sunting sumber]Pandangan tentang kontribusi perempuan yang disampaikan saat webinar di BRIN
[sunting | sunting sumber]- "Perempuan itu harus punya Triple M, pertama adalah Menguatkan diri sendiri, Menjaga keluarga dan kemudian ber-Manfaat bagi masyarakat melalui tentu saja karir atau kiprah yang dijalankannya."[1]
- "Jadi para civitas perempuan di BRIN dan juga di lembaga lainnya yang mungkin ada juga yang mengikuti webinar kali ini semoga keteladanan yang akan kita pelajari ini akan menjadi inspirasi untuk mengobarkan semangat agar hari-hari ke depan untuk dapat berperan lebih dalam kehidupan."[1]
Nyamuk wolbachia
[sunting | sunting sumber]- "Wolbachia itu sebenarnya adalah bakteri alami. Bakteri ini ada di alam dan biasanya parasit serangga, misalnya ngengat, kupu-kupu, lalat buah, dan lainnya. Tapi dia tidak ada di nyamuk demam berdarah. Yang dipakai untuk (dimasukkan ke nyamuk pembawa) demam berdarah ini adalah dari lalat buah."[3]
- “Sudah lebih 50 tahun negara (Indonesia) melawan DBD. Sudah berapa banyak nyawa, orang sakit, dan anggaran yang habis. Teknologi Wolbachia Ini betul-betul harapan baru, bisa jadi jurus baru yang melengkapi dan menguatkan program pengendalian DBD yang sudah jalan.”[3]
- “Akan sedih banget kalau teknologi ini sudah terbukti dan Indonesia sebagai pioner, tapi justru negara lain yang sukses menerapkan.”[3]
- “Mimpi saya sekarang bukan lagi di riset, tapi bagaimana teknologi (hasil riset) ini bisa dinikmati masyarakat di tempat lain, bukan hanya di DIY.”[3]
- ”Kami sangat antusias karena penelitian ini dibiayai filantrofi Indonesia sampai tuntas hingga hasil akhir. Ini sumber kebanggaan (kami).”[3]
Tanggapan terkait kontroversi nyamuk wolbachia
[sunting | sunting sumber]- "Tidak ada proses rekayasa genetika dalam penelitian ini karena wolnya sama persis dengan wolbachia yang ada di inangnya. Bakterinya dari lalat buah juga punya karakter yang sama persis, lalu nyamuk yang sudah ada wolbachia-nya juga sama persis dengan nyamuk yang tidak ada wolbachia-nya."[4]
- "Wolbachia itu tidak mengubah perilaku manusia. Wolbachia ini menekan virus demam berdarah. Tidak mengubah ekosistem, tetap ada di alam, cuma di tubuhnya ada wolbachia. ... Kalau tergigit bagaimana? Ya tergantung reaksi masing-masing orang, tapi yang pasti bukan dengue."[4]
- "Jadi begini, di 2011 memang peneliti Australia yang berhasil yang berhasil menginjeksikan wolbachia ke nyamuk. Kami bawa telur nyamuk ber-wolbachia, itu sesuai regulasi dan aturan Indonesia. Nyamuk ini kemudian dikawinsilangkan dengan nyamuk di Jogja, sampai sekian generasi. Kawin silang ini dilakukan sampai nyamuk ber-wolbachia ini sama persis karakternya dengan nyamuk aedes lokal. Lalu kalau dibilang tambah jumlah nyamuk, ya emang nambah jumah nyamuk tapi nambahnya enggak sampai 10% yang ada di alam. Selama tes ini juga tidak ada banyak orang yang protes karena tidak nyaman jadi banyak nyamuk. Tapi itu bukan jadi keluhan utama."[4]
Tanggapan terhadap video dari mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari terkait wolbachia
[sunting | sunting sumber]- "Kalau saya menyayangkan. Di satu sisi kami respect ke menkes dan mantan-mantan menkes, tapi kan apa susahnya tanya saja ke menkes sekarang, apa betul ini rekayasa, lalu menkes diminta menjelaskan. Antara mereka 'kan harusnya mudah. Mungkin ada ada pihak-pihak yang mengambil kesempatan di luar sains, kalau saintis berdebat kan tidak begitu caranya. Saintis tidak harus sepakat, tapi caranya tidak begitu."[4]
Referensi
[sunting | sunting sumber]- ↑ 1,0 1,1 1,2 "Prof Adi Utarini: Semangat Perempuan Penting untuk Pondasi Keluarga dan Bangsa". BRIN. 23 Desember 2022. Diakses tanggal 2025-12-07.
- ↑ Gates, Melinda French (15 September 2021). "Adi Utarini". TIME. Diakses tanggal 2025-12-07.
- ↑ 3,0 3,1 3,2 3,3 3,4 Napitupulu, Esterlince (21 Desember 2020). "Adi Utarini, Peneliti Demam Berdarah dari UGM yang Diakui Dunia". Kompas. Diakses tanggal 2025-12-07.
- ↑ 4,0 4,1 4,2 4,3 S.Andhika, C. (5 Desember 2023). "Wawancara 'Komandan Nyamuk' tentang Wolbachia guna Lawan DBD". DW. Diakses tanggal 2025-12-07.