Lompat ke isi

A. W. Prihandita

Dari Wikikutip bahasa Indonesia, koleksi kutipan bebas.
Wikipedia memiliki artikel ensiklopedia mengenai:

Anselma Widha Prihandita adalah penulis fiksi Indonesia. Pada 2025, ia memenangkan Penghargaan Nebula untuk kategori novel pendek terbaik (best novelette) dari Science Fiction and Fantasy Writers Association (SFFWA), sekaligus menjadi orang Indonesia pertama yang menerimanya.[1] Karyanya yang berjudul Negative Scholarship on the Fifth State of Being (2024) diumumkan menjadi salah satu pemenang pada Maret 2025. Ia menerima penghargaan tersebut secara resmi pada 5-8 Juni 2025 di Kansas City Marriott Country Club Plaza.[2]

  • I feel like my creative works have always been part of my scholarly works. They just do different things, each making arguments that the other cannot. My biggest ambition is to be both an academic and a creative writer, using my creative writing as a form of intellectual work, just as rigorous as my scholarly work.”[3]
    • Saya merasa karya kreatif saya selalu menjadi bagian dari karya ilmiah saya. Keduanya hanya melakukan hal yang berbeda, masing-masing mengajukan argumen yang tidak dapat diajukan oleh yang lain. Ambisi terbesar saya adalah menjadi seorang akademisi sekaligus penulis kreatif, menggunakan tulisan kreatif saya sebagai bentuk kerja intelektual, sama telitinya dengan karya ilmiah saya.
  • Students who come from places that are not ‘the West’ come with knowledges that are not based on the Western traditions. Being at a US university, they have to gain skills to translate themselves to an audience that knows nothing about their context, while still holding onto their own traditions and knowledges and not completely erasing that to fit into the predominantly American culture.[3]
    • Mahasiswa yang berasal dari tempat-tempat yang bukan 'Barat' datang dengan pengetahuan yang tidak didasarkan pada tradisi Barat. Berada di universitas AS, mereka harus memperoleh keterampilan untuk menerjemahkan diri mereka ke audiens yang tidak mengetahui konteks mereka, sambil tetap mempertahankan tradisi dan pengetahuan mereka sendiri dan tidak sepenuhnya menghapusnya untuk menyesuaikan diri dengan budaya Amerika yang dominan.
  • “Aku merasa, ada suatu masalah komunikasi yang lepas dari bahasa dan bukan masalah kepintaran seseorang, yang bikin mereka kurang dipahami sama orang-orang lain. Dari sana, aku pengen bikin suatu cerita tentang orang yang fundamentally not understandable to others (secara fundamental tidak dimengerti oleh orang lain) gitu."[1]

Pandangannya yang kontra terhadap penggunakan AI, terutama dalam perkuliahan

[sunting | sunting sumber]
  • “Aku bikin speech (pidato) di awal-awal tahun ajaran, please don’t use AI (mohon jangan gunakan AI), karena aku ingin melihat kalian benar-benar berkembang sebagai diri kalian yang sesungguhnya. Yang penting adalah effort (usaha) mereka dalam mengerjakan tugas, bukan perfection (kesempurnaan).”[1]
  • “Setiap kali kamu pakai ChatGPT dan memvalidasikan kekomplitan database-nya, the more you use the database that claims to know everything, you marginalize those people and those knowledges even more (Semakin sering Anda menggunakan basis data yang mengklaim mengetahui segalanya, semakin Anda meminggirkan orang-orang dan pengetahuan tersebut).” [1] 

Referensi

[sunting | sunting sumber]
  1. 1,0 1,1 1,2 1,3 Wilmar, Andrei (20 Juni 2025). "A.W. Prihandita, Pemenang Nebula Award yang Menentang AI". Magdalene.co. Diakses tanggal 2025-12-20.
  2. Triani, Narita Fuji (17 Juni 2025). "Profil A.W. Prihandita, Penulis Indonesia Pertama yang Raih Penghargaan Nebula Awards". Beautynesia. Diakses tanggal 2025-12-20.
  3. 3,0 3,1 Joseph, Nancy (6 September 2025). "Balancing Sci-Fi and Scholarship". College of Arts, University of Washington. Diakses tanggal 2025-12-20.